Sukses

Mengenal Jenis-Jenis Alergi pada Anak

Alergi pada anak tidak hanya sebatas alergi makanan saja. Ada berbagai jenis alergi yang dapat terjadi pada anak. Kenali jenis-jenis alergi yang dapat terjadi pada anak dan cara mengatasinya.
Alergi pada anak telah meningkat secara signifikan pada beberapa tahun terakhir ini. Suatu studi mengungkapkan bahwa 35% anak di seluruh dunia menderita alergi.

Dua belas persen anak yang terlahir tanpa riwayat alergi dalam keluarga, dapat pula menderita alergi. Sementara itu, kejadian alergi meningkat pada mereka yang memiliki orangtua alergi. Pada anak dengan satu orangtua yang memiliki alergi, kemungkinan ia memiliki alergi adalah 30-50%.  Angka ini akan meningkat apabila kedua orangtua memiliki alergi, yakni 60-80%.

Alergi merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada anak. Meskipun dipengaruhi oleh faktor keturunan, peran lingkungan dalam perjalanan alergi tidak dapat diabaikan. Banyak hal yang terdapat di lingkungan – baik itu makanan, debu, serangga, asap rokok, jamur, hingga suhu dingin sekalipun – dapat mencetuskan alergi.

Gejala alergi dapat mengenai sistem pernapasan, pencernaan, dan kulit. Pada sistem pernapasan, gejala yang dapat timbul adalah batuk, pilek, hidung tersumbat, dan sesak napas (asma). Sementara itu, pada sistem pencernaan dapat timbul muntah, diare, kembung, dan nyeri perut. Pada kulit dapat pula timbul ruam merah dan bentol yang gatal, serta bengkak pada bibir dan kelopak mata.

Jenis-jenis alergi yang sering terjadi di antaranya alergi makanan, dermatitis atopik, asma, dan rinitis alergi.

Alergi Makanan

Makanan yang paling sering menyebabkan alergi di antaranya susu sapi, telur, makanan laut, dan kacang.

Karena sistem pencernaan yang belum berkembang sempurna, bayi sangat rentan terhadap alergi makanan. Untuk meminimalkan terjadi alergi makanan, maka orangtua dihimbau untuk tidak memberikan makanan padat sama sekali kepada bayi hingga ia berusia enam bulan.

Pada umumnya anak dapat terbebas dari alergi makanan pada usia satu hingga lima tahun. Meski demikian, ada pula sebagian kecil dari antaranya yang masih akan terus membawa alergi makanan hingga dewasa.

Gejala yang dapat terjadi akibat alergi makanan ini antara lain diare, muntah, nyeri perut, ruam merah atau biduran pada kulit, bengkak pada mata dan bibir, batuk-batuk, hingga sesak napas.

Satu-satunya cara agar alergi makanan tidak kambuh kembali adalah dengan mengenali dan menghindari makanan pencetus alergi tersebut.

Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik timbul sebagai ruam merah gatal pada kulit yang sering kambuh. Jenis alergi ini umumnya mulai timbul saat masih bayi dan mengenai kurang lebih 10% anak di dunia. Enam puluh persen timbul saat bayi dan 85% timbul dalam kurun waktu lima tahun kehidupan anak.

Dermatitis atopik dapat dipicu oleh beberapa sebab, misalnya makanan dan tungau. Anak yang memiliki dermatitis atopik cenderung memiliki kulit yang kering, sensitif, dan lebih rentan terhadap infeksi.

Pada bayi, ruam umumnya timbul pada wajah. Seiring dengan bertambahnya usia anak, area yang sering diserang adalah lipat siku dan lipat lutut. Meskipun demikian, anak dengan dermatitis atopik yang parah dapat mengalami ruam merah gatal di seluruh tubuh.

Untuk mencegah agar dermatitis atopik tidak kambuh, Anda harus mengenali dan menghindari pencetus alergi tersebut. Mandikan anak dengan sabun lembut yang mengandung pelembap – jangan gunakan sabun antiseptik yang dapat membuat kulitnya semakin kering dan gatal. Selain itu, Anda juga harus rajin-rajin mengoleskan pelembap ke sekujur tubuh anak.

Asma

Asma terjadi apabila saluran napas bagian bawah menyempit, yang dapat dicetuskan oleh berbagai sebab. Hal tersebut dapat menimbulkan gejala sesak napas dan mengi (napas berbunyi). Keparahan asma dapat bervariasi, antara ringan hingga berat dan dapat mengancam jiwa.

Penyebab utama dari asma dapat berupa infeksi virus pada saluran napas, paparan asap rokok, polusi, ataupun alergi terhadap makanan, debu, udara dingin, dan lain sebagainya.

Agar asma tidak mudah kambuh, pencetusnya harus dikenali dan dihindari. Akan lebih aman juga apabila anak selalu membawa obat asma hirup (inhaler) ke manapun ia pergi. Dengan demikian, pertolongan pertama dapat segera diberikan jika sewaktu-waktu asmanya kambuh.

Rinitis Alergi

Gejala rinitis alergi adalah bersin-bersin, hidung tersumbat, serta mata yang gatal. Umumnya gejala ini timbul pada pagi hari setelah bangun tidur. Selain itu, rinitis alergi yang sudah parah dapat mengganggu aktivitas dan tidur anak karena hidung tersumbat dan meler.

Rinitis alergi yang tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, dapat berlanjut hingga dewasa lalu berkembang menjadi sinusitis dan infeksi telinga. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk mencari pencetus dan menghindarinya. Selain itu, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang optimal.

0 Komentar

Belum ada komentar