Kesehatan Anak

Mitos vs Fakta: Benarkah Anak yang Kebal dan Jarang Sakit Tidak Butuh Vaksin Lanjutan?

dr. Steven Alviano Yuwono, 11 Sep 2026

Ditinjau Oleh Tim Medis Klikdokter

|0/5.0(0 Ulasan)

Anak sehat dan jarang sakit tetap butuh vaksin lengkap? Ketahui fakta medis, pentingnya booster, manfaat vaksin kombinasi, dan cara lindungi buah hati.

Mitos vs Fakta: Benarkah Anak yang Kebal dan  Jarang Sakit Tidak Butuh Vaksin Lanjutan?

Banyak orang tua merasa, “Anak saya sehat, jarang sakit, jadi belum perlu vaksin.” Pemikiran cukup lazim, apalagi kalau anak terlihat aktif, nafsu makan baik, dan jarang ke dokter. Namun, pemahaman ini yang sering kali menjadi pemicu lahirnya mitos tentang imunisasi. Mari kita bedakan fakta dan mitos dengan bahasa sederhana, berbasis bukti ilmiah dan panduan resmi yang ada.


Mitos: Anak yang Sehat dan Jarang Sakit Tidak Perlu Vaksin

Mitos: Kalau daya tahan tubuh anak kuat, tanpa vaksin pun tidak masalah


Faktanya:

Vaksin bukan diberikan karena anak sering sakit, tetapi untuk mencegah penyakit berat sebelum kuman masuk ke tubuh. WHO mencatat bahwa imunisasi rutin terbukti dapat mencegah jutaan kasus penyakit serius serta kematian anak setiap tahunnya di seluruh dunia.


Studi besar di Amerika Serikat menunjukkan, imunisasi rutin pada anak secara nyata menurunkan jumlah kasus penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (vaccine-preventable diseases), seperti difteri, tetanus, pertussis, dan polio.


Di Indonesia sendiri, masih ada jutaan anak yang belum mendapat imunisasi dasar lengkap. Salah satu alasannya karena masih ada sebagian orang tua yang menganggap imunisasi “tidak penting” atau anak sudah tampak sehat. Sayangnya, anak yang tampak sehat hari ini bukan berarti kebal terhadap kuman berbahaya di keesokan harinya. Begitu terpapar kuman berbahaya seperti difteri, pertussis, atau polio, penyakit bisa sangat berat, bahkan hingga mengancam nyawa.


Mengapa Anak Sehat Tetap Butuh Vaksin dan Booster?


  • Kuman yang Dicegah dengan Vaksin termasuk Sangat Ganas.
    Difteri dapat menyebabkan sumbatan jalan napas dan gagal jantung. Pertussis (batuk rejan) bisa mengakibatkan bayi sulit bernapas. Tetanus menyebabkan kejang otot hebat. Polio dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Hib bisa menyebabkan radang selaput otak dan pneumonia berat.

  • Kekebalan tidak Bertahan Seumur Hidup.
    Banyak vaksin memerlukan beberapa dosis dan booster untuk menjaga kadar antibodi tetap tinggi. WHO dan berbagai guideline menekankan pentingnya dosis penguat (booster) untuk menjaga perlindungan jangka panjang terhadap difteri, tetanus, pertussis, dan Hib. Demikian pula dengan beberapa jenis vaksin lainnya.

  • Perlindungan Kelompok (Herd Immunity).
    Anak yang sehat dengan vaksinasi lengkap bisa melindungi bayi dan anak lain yang belum cukup usia untuk mendapatkan vaksinasi lengkap, atau orang dengan kekebalan tubuh lemah. Studi tentang vaccine hesitancy menunjukkan bahwa ketika cakupan vaksin turun, wabah penyakit mudah muncul kembali.


  • Jadi, vaksin dan boosternya tetap penting, bahkan untuk anak yang kelihatannya “tidak pernah sakit”.


    Baca Artikel Lainnya: Ini Akibatnya Bila Anak Tak Mendapat Imunisasi Sesuai Jadwal


    Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan imunisasi dasar lengkap, termasuk kombinasi DPT-HB-Hib dan vaksin polio (OPV dan IPV), dengan booster pada usia 18 bulan dan usia sekolah.


    Contohnya:

    DPT-HB-Hib: usia 2, 3, 4 bulan, dengan booster pada 18 bulan.

    Polio (termasuk IPV): beberapa dosis di tahun pertama kehidupan dan setidaknya satu dosis IPV sebelum usia 1 tahun.


    Rekomendasi ini disusun berdasarkan penelitian imunogenisitas, keamanan, dan efektivitas vaksin pada anak Indonesia, serta diselaraskan dengan pedoman organisasi kesehatan dunia seperti WHO.


    Apa Itu Vaksin Kombinasi?

    Vaksin kombinasi merupakan gabungan dari beberapa jenis vaksin sekaligus dalam satu kali suntikan. Di banyak negara, digunakan vaksin kombinasi seperti DTaP-IPV-Hib (diphtheria, tetanus, acellular pertussis, inactivated polio, dan Haemophilus influenzae tipe b) yang diberikan pada usia 2, 4, 6, dan 18 bulan.


    Vaksin kombinasi dinilai dapat memberikan beberapa keuntungan, di antaranya seperti, pemberian vaksin yang lebih praktis karena mencakup beberapa perlindungan sekaligus dalam satu kali suntikan. Efektif dan aman, dapat memberikan kekebalan yang optimal namun tetap aman. Memudahkan serta meningkatkan kepatuhan jadwal vaksin.


    Pemicu Kekhawatiran Orang Tua 

    Takut akan efek samping vaksin. Rasa khawatir soal efek samping vaksin itu wajar. Namun, survei menunjukkan banyak orang tua menolak vaksin karena informasi yang tidak lengkap atau salah, misalnya lebih takut efek samping ringan daripada risiko penyakit yang lebih serius.


    Sebagai pengingat:

    • Efek samping tersering umumnya berupa demam ringan, nyeri atau bengkak di tempat suntikan, yang biasanya akan hilang sendiri.

  • Komplikasi berat sangat jarang, dan terus dilakukan pemantauan terkait keamanan vaksin di berbagai negara.

  • Sebaliknya, penyakit yang dicegah vaksin bisa menyebabkan rawat inap lama, kecacatan, bahkan kematian.


  • Diskusikan semua kekhawatiran Kamu dengan dokter anak atau tenaga medis terdekat. Mintalah penjelasan tentang manfaat, risiko, dan jadwal vaksin, termasuk ketersediaan vaksin kombinasi seperti DTaP-IPV.


    Pada dasarnya, anak yang tampak sehat dan jarang sakit bukan alasan untuk menunda atau menolak vaksin. Justru dengan melengkapi vaksin dasar dan booster, termasuk vaksin kombinasi seperti DTaP-IPV, Kita memberi mereka “perisai” yang kuat terhadap penyakit berbahaya, sekaligus melindungi keluarga dan masyarakat.


    Jangan menunggu sakit untuk bertindak. Imunisasi adalah langkah pencegahan yang paling terbukti, aman, dan efektif untuk menjaga anak Indonesia tumbuh sehat dan bebas dari penyakit yang seharusnya sudah bisa dicegah.


    Anak yang tampak sehat dan jarang sakit tetap memerlukan perlindungan menyeluruh dari ancaman penyakit berbahaya melalui imunisasi lengkap dan booster yang tepat waktu. Pastikan pertahanan tubuhnya optimal dengan menjadwalkan konsultasi serta vaksinasi kombinasi di Vaccination Hub hari ini. 

    • World Health Organization (WHO). Immunization coverage.
      https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/immunization-coverage 
    • Impact of Routine Childhood Immunization in Reducing Vaccine-Preventable Diseases in the United States. DOI: 10.1542/peds.2021-056013
    • Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2023. https://saripediatri.org/index.php/sari-pediatri/article/download/2352/pdf
    • Your Child’s First Vaccines: What You Need to Know (Multi Pediatric Vaccine VIS – DTaP, Hib, HepB, PCV, Polio).
      https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/current-vis/childs-first.html
    • Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024. https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun 
    • UNICEF Indonesia. Jadwal imunisasi anak dan penyakit yang dicegah oleh vaksin. https://www.unicef.org/indonesia/id/kampung-pengasuhan/kesehatan/vaksin-dan-penyakit-yang-dicegahnya
    Memuat...

    Ulasan Pembaca

    0(0 Ulasan)