Sukses

Perlukah Keracunan Makanan Diobati dengan Antibiotik?

Makanan yang secara tak sengaja terkontaminasi bakteri, rentan membuat Anda keracunan makanan. Apakah antibiotik selalu menjadi solusinya?

Klikdokter.com, Jakarta “Sayang, mubazir…” Mungkin itu yang pertama kali terpikir oleh Anda saat melihat sisa makanan dalam jumlah yang lumayan. Alhasil, dengan tanpa pikir panjang lagi, Anda langsung melahapnya hingga tak bersisa. Dasar apes, Anda justru mengalami keracunan makanan, akibat makanan telah terkontaminasi. Pada kondisi seperti ini, perlukah antibiotik diandalkan?

Beragam gejala keracunan makanan

Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, gejala yang terjadi akibat keracunan makanan bisa bermacam-macam, mulai dari dehidrasi hingga kematian. Parahnya lagi, gejala tersebut dapat timbul antara 1 hingga 10 jam dalam sehari. Sementara itu, gejala yang paling sering terjadi adalah mual, muntah, dan diare.

“Orang yang mengonsumsi makanan terkontaminasi juga dapat kehilangan nafsu makan, mengalami nyeri atau kram perut, kembung, demam ringan, badan lemas, nyeri otot, sampai sakit kepala” tambah dr. Karin.

Biasanya, keracunan makanan dikaitkan dengan tingkat kematangan saat proses memasak. Bisa jadi karena makanan tidak dimasak dengan suhu yang tepat, bakteri di dalamnya belum benar-benar mati. Tapi, bukan berarti keracunan selalu tentang tingkat kematangan, lho.

Pasalnya, proses penyajian dan penyimpanan yang tidak baik serta waktu kedaluwarsa juga bisa mengundang bakteri yang dapat mengontaminasi makanan tersebut. Jika Anda mengonsumsi makanan yang sudah tercemar semacam itu, Anda berisiko mengalami keracunan makanan.

1 dari 2 halaman

Antibiotik untuk mengatasi keracunan makanan

Jika keracunan makanan tergolong ringan, tanpa perawatan apa pun sebenarnya gejala dapat hilang dengan sendirinya. Sebab, keracunan sangat berhubungan dengan sistem imunitas tubuh.

Jika Anda punya sistem imunitas tubuh yang baik, tentu gejala keracunan makanan tidak akan memburuk dan tidak berlangsung lama. Namun, apabila sistem imunitas Anda buruk, gejala bisa semakin parah dan berlangsung lama.

Kondisi keracunan yang buruk tentunya membutuhkan pengobatan yang serius, bahkan orang yang mengalaminya bisa dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat inap. Jika Anda mengalami keracunan makanan dan diiringi beberapa gejala di bawah ini, Anda harus segera berobat ke dokter.

  • Terdapat darah di cairan muntah atau tinja
  • Penglihatan kabur
  • Diare lebih dari 3 hari
  • Demam lebih 38 derajat Celsius

Karena keracunan makanan biasanya berkaitan dengan kontaminasi bakteri seperti Listeria, Salmonella, Clostridium perfringens, E.coli, dan sebagainya, pengobatan dengan antibiotik memang menjadi solusi utamanya. Apalagi setelah melewati pemeriksaan dahah atau tinja, ditemukan organisme yang sedang menginfeksi.

Dilansir dari Mayo Clinic, keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri memang perlu diobati dengan antibiotik. Semakin cepat pengobatan antibiotik dimulai, maka semakin baik. Kendati demikian, terkadang dokter juga menyesuaikannya dengan kondisi si pasien juga.

Selain itu, menurut WebMD, Anda tidak perlu mendapatkan antibiotik kecuali sistem kekebalan tubuh Anda sangat lemah. Di sisi lain, jika keracunan makanan yang Anda alami bukan karena bakteri melainkan virus, pengobatan antibiotik bukanlah solusinya.

Dalam kondisi seperti itu, tidak banyak yang bisa Anda lakukan selain mengonsumsi banyak cairan. Dan untuk sementara waktu, jangan terlalu banyak makan.

Jika perut Anda sudah lebih baik, barulah Anda boleh makan, tetapi dalam porsi yang sedikit dulu. Sebaiknya Anda juga tidak mengonsumsi makanan berlemak, makanan yang teksturnya sulit dicerna, dan makanan pedas, selama masa pemulihan. Terakhir, banyaklah beristirahat karena badan Anda pasti masih lemas pasca keracunan.

Jadi, perlu atau tidaknya antibiotik untuk mengatasi keracunan makanan sangat disesuaikan dengan penyebab dan kondisi keracunan makanan. Jika penyebabnya adalah bakteri dan sistem kekebalan tubuh yang lemah, antibiotik akan diberikan untuk mengatasi keracunan tersebut. Sebaliknya, jika keracunan makanan disebabkan oleh virus, maka antibiotik tidak diperlukan dan tak ada cara yang lebih baik selain beristirahat, menjaga pola makan, serta perbanyak minum air putih.

Konsumsi antibiotik memang kerap kali diandalkan saat orang mengalami gangguan kesehatan, salah satunya pada kondisi keracunan makanan. Meski demikian, saat mengalaminya, periksakan terlebih dahulu kondisi Anda ke dokter untuk melihat efektivitas antibiotik untuk mengatasi masalah yang ada. Karena bila asal makan antibiotik, Anda bisa mengalami resistensi antibiotik.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar