Sukses

Adakah Efek Samping Imunisasi Difteri?

Banyak orang tua yang ragu untuk melakukan imunisasi difteri pada anaknya, karena katanya ada efek samping berbahaya. Benarkah demikian?

Penyakit difteri masih mengancam populasi Indonesia. Seruan untuk imunisasi difteri mulai dari bayi hingga dewasa pun kembali digalakkan. Namun, banyak yang ragu karena katanya efek samping imunisasi difteri berbahaya. Benarkah?

Berdasarkan panduan Hospital Care for Children yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), difteri adalah infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan bagian atas, kulit, mata, dan organ lainya. Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diptheriae.

Pada kebanyakan kasus, infeksi difteri terjadi di saluran napas bagian atas. Tanda-tandanya bisa dilihat dari munculnya selaput berwarna putih keabu-abuan (pseudomembran) yang sulit dilepaskan dan mudah berdarah.

Selain itu, difteri juga disertai gejala demam, lemas, batuk, dan nyeri saat menelan.

Artikel lainnya: Anak Terlambat Imunisasi Difteri, Apa yang Harus Dilakukan?

Penyakit Difteri di Indonesia

Perlu diketahui, penularan penyakit difteri sangat cepat. Hanya dengan kontak langsung dengan air liur atau percikan ludah (droplet) dari pengidapnya.

Sebetulnya penyakit ini pernah berhasil dikontrol penyebarannya di Indonesia dengan adanya vaksinasi sejak bayi. Sayangnya, pada tahun 2017, terdapat 939 kasus di 30 provinsi, dengan angka kematian 44 kasus dan case fatality rate 4,7 persen.

Itulah alasan kenapa difteri dianggap “bangun dari tidurnya”. Bahkan, pemerintah mengeluarkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat penyebarannya.

1 dari 3 halaman

Lawan Penyakit Dengan Imunisasi Difteri

Salah satu cara untuk menekan penyebaran dan memberikan perlindungan terhadap difteri adalah dengan melakukan imunisasi. Vaksin difteri yang diberikan dapat meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif untuk melawan penyakit tersebut.

Artikel lainnya: Mengenal Bakteri Penyebab Difteri dan Cara Menghindarinya

Menurut hasil penelitian medis, imunisasi dasar lengkap yang diberikan sejak bayi berpengaruh secara signifikan terhadap berkurangnya penyebaran difteri.

Jadi, jangan meremehkan vaksinasi. Penting bagi orang tua untuk memberikan imunisasi kepada anaknya.

Umumnya, imunisasi difteri mulai diberikan pada saat anak berusia 2 bulan, yakni dengan imunisasi DPT. Ini merupakan vaksin gabungan dari difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan).

Pemberiannya diberikan sebanyak tiga kali, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Namun, imunisasi difteri tak hanya berhenti sampai di situ.

Artikel lainnya: Siapa yang Tak Boleh Mendapatkan Vaksin Difteri?

Si Kecil akan diberikan booster difteri saat usianya 18 bulan. Saat anak masuk usia sekolah atau berusia 5 tahun, ia mesti diberikan lagi vaksin DT (difteri tetanus) sebagai booster. Sementara itu, anak usia 10-12 tahun mendapatkan Td (tetanus difteri).

Meski sekilas kedua vaksin di atas tampak mirip, tapi keduanya memiliki komponen yang berbeda dan diberikan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh agar tak mudah terinfeksi difteri.

Perlu juga diingat bahwa difteri tak hanya menyerang anak-anak, tapi juga orang dewasa. Oleh sebab itu, setiap orang dewasa disarankan untuk melakukan pengulangan vaksinasi setiap 10 tahun dari imunisasi DPT terakhir.

Langkah ini diperlukan agar kekebalan tubuh tetap optimal.

 

2 dari 3 halaman

Efek Samping Setelah Imunisasi Difteri

Salah satu hal yang membuat difteri menyebar dengan cepat adalah akibat kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin. Bahkan, ada sejumlah isu miring yang membuat orang tua enggan melakukan vaksinasi pada anaknya.

Artikel lainnya: Sudah Imunisasi Lengkap Masih Bisa Terkena Difteri, Ini Sebabnya

Padahal, efek samping dari imunisasi difteri tidak terlalu signifikan untuk banyak orang.

Pengaruh dari vaksin tersebut sebenarnya bergantung pada kekebalan tubuh seseorang. Jadi, pastikan diri Anda atau si Kecil sehat ketika akan melakukan imunisasi difteri.

Berikut ini adalah beberapa efek samping imunisasi difteri yang perlu Anda ketahui:

Artikel lainnya: Selain Imunisasi, Lakukan 8 Tips Ini untuk Mencegah Difteri

Efek samping imunisasi difteri ini biasanya cukup ringan dan akan hilang dalam beberapa hari. Anda bisa memberikan obat penurun demam seperti parasetamol atau melakukan kompres air dingin maupun hangat secara bergantian untuk mengatasi efek samping yang muncul.

Selain efek samping yang disebutkan di atas tadi, ada juga efek samping yang sangat jarang muncul, seperti:

  • Kejang.
  • Anak tak berhenti menangis selama tiga jam atau lebih.
  • Demam sangat tinggi.

Sampai saat ini, penelitian mengenai efek samping imunisasi difteri yang jarang terjadi masih berlangsung. Namun, orang tua tak perlu khawatir, karena mendapatkan imunisasi difteri jauh lebih aman dibandingkan sampai terinfeksi penyakit difteri itu sendiri.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan bahwa Anda atau anak masih diberikan imunisasi meski sedang mengidap penyakit ringan. Misalnya demam ringan dan influenza.

Penyebaran difteri bisa kembali meningkat bila kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi menurun. Penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan otot dan miokarditis (radang dinding otot jantung) jika dibiarkan.

Jangan takut akan isu efek samping imunisasi difteri yang beredar. Ingat, efek sampingnya ini kebanyakan bersifat ringan dan tidak berbahaya. Bila masih ragu, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan dokter lewat fitur Live Chat 24 jam lewat aplikasi KlikDokter.

(RN/RPA)

 

0 Komentar

Belum ada komentar