Sukses

Pengertian

Sindrom hemolitik uremik merupakan gangguan sistem imun yang menyebabkan gagal ginjal, trombositopenia (kadar trombosit yang rendah), dan anemia (kadar sel darah merah yang rendah). Gangguan sistem imun tersebut paling sering terjadi setelah infeksi pada saluran pencernaan.

Sindrom hemolitik uremik merupakan penyebab tersering gagal ginjal akut pada anak.

Penyebab

Penyebab tersering dari sindrom hemolitik uremik adalah infeksi pada saluran pencernaan, terutama yang disebabkan oleh bakteri berikut ini:

  • Shigella dysentriae
  • Eschericia coli
  • Salmonella typhi
  • Campylobacter jejuni
  • Neisseria meningitidis
  • Streptococcus pneumonia
  • Legionella sp
  • Mycoplasma sp

Selain itu, infeksi virus, seperti HIV, virus coxsackie, dan virus influenza juga bisa mencetuskan sindrom hemolitik uremik.

Toksin yang terdapat pada kuman penyebab infeksi pencernaan tersebut memicu reaksi berlebihan dari sistem imun. Hal ini mengakibatkan penghancuran sel darah merah dan trombosit yang berlebihan. Selain itu, reaksi imun yang berlebihan juga menyebabkan cedera pada ginjal, sehingga berujung pada gagal ginjal akut.

Selain karena infeksi saluran pencernaan, pada beberapa kasus, sindrom hemolitik uremik juga bisa dicetuskan oleh kondisi berikut ini:

  • Kehamilan dan persalinan
  • Beberapa jenis kanker tertentu
  • Efek samping beberapa jenis obat, seperti kuinin, mitomisin, cisplatin, siklosporin, dan sebagainya
  • Penyakit autoimun seperti lupus dan sindrom antifosfolipid
  • Transplantasi ginjal atau sumsum tulang

Diagnosis

Pada pemeriksaan awal, dokter akan melakukan wawancara lengkap dan pemeriksaan fisik menyeluruh. Selanjutnya akan dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti:

  • Pemeriksaan analisis urine (urinalisis)

Pada penderita sindrom hemolitik uremik, biasanya akan ditemukan sel darah merah dan protein di dalam urine. Pada keadaan normal, seharusnya tidak ada sama sekali protein dan darah di urine.

  • Pemeriksaan darah

Perlu dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, berupa pemeriksaan ureum, kreatinin, serta pemeriksaan elektrolit. Selain itu, pemeriksaan hemoglobin (sel darah merah) dan trombosit juga akan menunjukkan hasil yang lebih rendah dari normal. Penghancuran sel darah yang berlebihan juga akan menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dan laktat dehidrogenase (LDH).

  • Pemeriksaan kultur feses

Kultur feses diperlukan untuk mengetahui bakteri penyebab diare dan pencetus sindrom hemolitik uremik secara spesifik.

  • Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan USG diperlukan khususnya untuk melihat gambaran ginjal. Pemeriksaan ini memang tidak dapat menentukan ada tidaknya sindrom hemolitik uremik, namun USG dibutuhkan untuk melihat adanya kemungkinan lain penyebab gagal ginjal selain sindrom hemolitik uremik.

Gejala

Umumnya sindrom hemolitik uremik didahului dengan diare. Sering kali diarenya berdarah dan disertai dengan demam. Selanjutnya 2–7 hari setelah diare, gejala gagal ginjal akut mulai muncul.

Gagal ginjal akut ditandai dengan jumlah air seni yang lebih sedikit dari biasanya, air seni bercampur darah, mual muntah, perut dan tungkai bengkak. Penderitanya terlihat sangat lemas. Dan jika tak mendapat penanganan dengan cepat, penurunan kesadaran atau kejang bisa terjadi.

Penghancuran sel darah merah berlebihan yang terjadi pada sindrom hemolitik uremik menyebabkan penderitanya terlihat pucat, lemah, dan lesu. Jika kadar sel darah merah sangat rendah, keluhan sesak napas dan gangguan jantung bisa terjadi.

Kadar trombosit yang rendah pada sindrom hemolitik uremik menyebabkan penderitanya rentan mengalami perdarahan. Perdarahan yang paling sering terjadi berupa bintik-bintik merah atau lebam di kulit. Selain itu dapat pula terjadi mimisan, gusi berdarah, atau perdarahan saluran pencernaan yang ditandai dengan muntah darah atau buang air besar berwarna kehitaman.

Pengobatan

Pengobatan sindrom hemolitik uremik meliputi:

  • Penggantian cairan dan elektrolit

Gagal ginjal akut yang terjadi pada sindrom hemolitik uremik menyebabkan keseimbangan cairan dan elektrolit terganggu. Oleh karena itu, penggantian cairan dan elektrolit melalui cairan infus diperlukan.

  • Transfusi darah

Transfusi sel darah merah umumnya diberikan jika kadar hemoglobin mencapai di bawah 7 gram/desiliter, atau penderita menunjukkan gejala sesak napas akibat anemia. Transfusi trombosit juga dibutuhkan bila terdapat kondisi trombosit rendah yang disertai dengan perdarahan yang sukar berhenti.

  • Dialisis (cuci darah)

Jika gangguan ginjal yang dialami sangat berat hingga ginjal hampir tidak bisa bekerja sama sekali, maka tindakan dialisis kadang diperlukan sementara waktu untuk menggantikan kerja ginjal.

Pencegahan

Karena sindrom hemolitik uremik paling sering dicetuskan oleh infeksi saluran pencernaan, maka dengan mencegah infeksi pencernaan tersebut, umumnya sindrom hemolitik uremik bisa dicegah. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah:

  • Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap kali akan makan
  • Mengonsumsi makanan yang benar-benar matang
  • Sebisa mungkin, mengonsumsi makanan dalam kondisi panas atau hangat
  • Tidak berenang di dalam air yang kotor atau terkontaminasi bakteri