HomeInfo SehatReproduksiKeputihan Anda Berbau? Mungkin Ini Penyebabnya
Reproduksi

Keputihan Anda Berbau? Mungkin Ini Penyebabnya

dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc, 01 Des 2021

Ditinjau oleh Tim Medis Klikdokter

Icon ShareBagikan
Icon Like

Keputihan berbau busuk atau amis bisa jadi tanda berbahaya. Apa saja penyebab keputihan berbau yang harus diwaspadai? Simak lengkapnya di sini.

Keputihan Anda Berbau? Mungkin Ini Penyebabnya

Setiap wanita pasti ingin memiliki tubuh yang sehat, tak terkecuali organ reproduksi yang terjaga. Namun, masalah keputihan berbau sering kali datang tanpa disadari penyebabnya.

Sebelum membahas lebih jauh, Anda perlu tahu bahwa keputihan adalah cara tubuh wanita mengeluarkan cairan dan sel. Produksi keputihan ini dapat bervariasi dari satu wanita dan wanita lain, serta dapat berubah dalam hal konsistensi dan penampilan tergantung pada banyak faktor.

Faktor-faktor yang memengaruhi keputihan antara lain adalah siklus menstruasi, hormon, kehamilan, dan infeksi.

Pada umumnya, keputihan yang normal dan sehat berwarna bening atau putih, memiliki sedikit bau tapi bukan bau yang kuat, dapat meninggalkan warna kekuningan pada pakaian dalam, dan terdapat perubahan konsistensi tergantung pada siklus menstruasi Anda.

Mungkin ada kalanya keputihan yang Anda alami berubah. Perubahan tersebut dapat terjadi pada konsistensinya, warna, bau, atau gejala-gejala lain yang menyertai.

Bila Anda saat ini sedang mengalami keputihan berbau, coba kenali beberapa kemungkinan penyebab yang mendasarinya berikut.

1. Adanya Tampon yang Tertinggal di Vagina Saat Menstruasi

Penyebab keputihan berbau yang pertama adalah tampon yang tertinggal di vagina. Bahkan, ada pasangan yang berhubungan seksual dan lupa pada tampon yang ada di dalam vaginanya.

Menurut Lauren Streicher, profesor di bidang kebidanan klinis dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Northwestern University Feinberg, Amerika Serikat, hal ini sering terjadi. Bahkan, banyak perempuan tidak menyadarinya.

Artikel lainnya: Penyebab Keputihan pada Wanita

2. Darah Menstruasi

Keputihan biasanya berubah warna dan berbau lebih menyengat saat menstruasi. Menurut mantan direktur Minimally Invasive Gynecology di Fakultas Kedokteran University of Illinois di Chicago, AS, Jessica Shepherd MD, MBA, FACOG, hal tersebut termasuk normal.

Darah memiliki kadar pH yang lebih tinggi atau basa. Hal tersebut dapat mengganggu kinerja bakteri pada vagina selama menstruasi.

Namun tidak perlu khawatir, menurut Shepherd, hal ini normal dan akan hilang seiring berakhirnya haid.

3. Berhubungan Seksual Tanpa “Pengaman”

Beberapa wanita mengeluhkan bau keputihan yang tidak biasa setelah berhubungan seksual. Hal ini dapat terjadi terutama bila melakukan hubungan seksual tanpa pengaman atau kondom.

Cairan vagina mungkin bercampur dengan air mani atau sperma pasangan. Seperti darah pada menstruasi, sperma memiliki pH yang tinggi dan memengaruhi vagina sehingga menyebabkan bau keputihan lebih kuat.

Bau ini seharusnya akan hilang setelah mandi sehabis hubungan seksual atau dalam 1-2 hari. Namun, bila bau keputihan tidak hilang, segeralah memeriksakan diri ke dokter.

4. Berolahraga Berat

Mengapa setelah berolahraga berat, keputihan menjadi berbau menyengat? Hal itu disebabkan oleh adanya keringat yang terperangkap di daerah selangkangan.

Bahan celana olahraga yang seharusnya menghilangkan keringat malah menjebak keringat sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap pada keputihan. Cobalah untuk mandi segera setelah selesai berolahraga. Biasanya keluhan ini akan hilang dengan sendirinya.

Artikel lainnya: Penyebab Sering Keputihan pada Remaja

5. Salah Memilih Celana Dalam

Tahukah Anda bahwa jenis celana dalam tertentu bisa jadi penyebab keputihan berbau busuk? Beberapa celana dalam yang terbuat dari bahan tertentu dapat menjadi perangkap panas dan kelembapan.

Kondisi ini tentu akan memengaruhi keseimbangan pH pada vagina yang akhirnya akan memengaruhi bakteri dan tentu saja keputihan. Anda disarankan untuk menggunakan celana dalam berbahan katun.

Jangan lupa untuk mencucinya dengan detergen hipoalergenik dan menggantinya secara rutin setidaknya dua kali dalam sehari.

6. Penyakit Menular Seksual

Jika Anda melakukan hubungan seksual yang berisiko, seperti berganti pasangan atau berhubungan seksual yang tidak higienis, kemungkinan besar keputihan akan berubah warna dan berbau tidak sedap.

Hal ini mungkin mengindikasikan infeksi penyakit menular seksual. Selain itu, keputihan yang berbau dan abnormal juga bisa menjadi indikasi kanker serviks.

7. Vaginosis Bakterialis

Seperti namanya, vaginosis bakterialis adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri anaerob. Infeksi ini biasanya terjadi pada wanita berusia 15-44 tahun dan ibu hamil.

Pertumbuhan bakteri pada vaginosis bakterialis dapat menyebabkan kenaikan pH pada vagina sehingga menyebabkan keputihan yang berbau menyengat hingga amis.

Vaginosis bakterialis dapat terjadi pada wanita yang gemar berganti pasangan atau melakukan oral seks.

Artikel lainnya: Mengapa Keputihan Tak Kunjung Sembuh Padahal Sudah Diobati?

8. Trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan infeksi pada vagina karena Trichomonas vaginalis. Selain dari aktivitas seksual, T. vaginalis dapat menyebar dari penggunaan pakaian renang dan handuk terkontaminasi yang dipakai bergantian.

Trikomoniasis dapat membuat keputihan menjadi berwarna putih, abu-abu, hijau, atau kuning berbau tak sedap. Sebagian besar penderita trikomoniasis tidak memiliki gejala.

Namun, bagi yang memiliki gejala dapat mengalami sensasi gatal, terbakar, atau nyeri pada alat kelamin, kulit di sekitar vagina menjadi kemerahan, serta rasa tidak nyaman saat buang air kecil.

Apabila Anda merasa mengalami gejala-gejala di atas, segeralah ke dokter. Bila tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan radang panggul hingga kemandulan.

9. Infeksi Jamur

Infeksi jamur akibat pertumbuhan jamur Candida pada vagina juga dapat menjadi penyebab keputihan berbau.

Keputihan dapat berwarna putih keabu-abuan dengan bau yang tidak sedap. Gejala yang dapat menyertai adalah gatal dan bengkak di sekitar vagina; sensasi terbakar saat buang air kecil atau berhubungan seksual; rasa sakit di vagina; dan kulit di sekitar vagina menjadi kemerahan dan terdapat ruam.

10. Gonore

Gonore atau kencing nanah pada wanita juga dapat menyebabkan keputihan berbau. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang dapat menyebar melalui hubungan seksual yang tidak higienis, baik seks oral maupun anal. Berganti pasangan seksual juga meningkatkan risiko gonore.

Gonore dapat menyebabkan keputihan berbau tidak sedap, berubah warna menjadi pucat, hijau, atau kuning. Selain itu terdapat gejala seperti jumlah keputihan yang bertambah, sensasi nyeri atau terbakar saat buang air kecil, perdarahan pada vagina, hingga nyeri perut dan vagina.

Artikel lainnya: Ciri-ciri Keputihan Normal yang Harus Wanita Tahu

Segera ke dokter bila Anda mengalami gejala ini karena dapat menyebabkan kemandulan, meningkatkan risiko HIV/AIDS, hingga kecacatan pada bayi.

11. Klamidia

Infeksi bakteri Chlamydia trachomatis dapat menyebabkan keputihan berbau tidak sedap dengan warna menjadi hijau, kuning, hingga pucat.

Klamidia dapat menyebabkan gejala tidak nyaman saat buang air kecil atau berhubungan seksual, gatal atau iritasi pada vagina, perdarahan pada vagina, hingga sakit perut.

Jika tidak ditangani, klamidia dapat menyebabkan radang panggul hingga kemandulan. Infeksi bakteri ini juga dapat menyebabkan infeksi mata dan paru pada bayi yang baru lahir.

12. Herpes Kelamin

Virus Herpes Simplex (HSV) dapat menyebabkan herpes pada vagina karena aktivitas seksual yang tidak bersih atau berganti-ganti pasangan.

Infeksi HSV dapat menyebabkan perubahan warna dan bau pada keputihan. Gejala lain yang menyertai adalah lepuhan di sekitar vagina; dubur yang dapat pecah dan nyeri; sensasi terbakar saat buang air kecil; perdarahan pada vagina; demam, sakit kepala, hingga pembengkakan kelenjar getah bening pada selangkangan.

13. Radang Panggul

Radang panggul atau pelvic inflammatory disease dapat disebabkan oleh infeksi yang tidak ditangani sebelumnya. Radang panggul juga dapat terjadi bila kebersihan vagina kurang terjaga.

Gejala lain yang mungkin timbul adalah nyeri perut bagian bawah, mual dan muntah, demam, sensasi tidak nyaman saat berhubungan seksual, perdarahan, serta buang air kecil yang menyakitkan.

14. Human Papillomavirus (HPV)

HPV dapat menyebabkan kanker serviks atau kanker leher rahim. Virus ini ditularkan melalui aktivitas seksual pembawa HPV, berganti pasangan, atau dari kulit ke kulit.

Penyakit menular seksual juga dapat memperbesar kemungkinan tertularnya HPV. Penyakit ini tidak mempunyai gejala yang signifikan, tapi dapat membuat keputihan berwarna coklat dengan tekstur cair yang berbau busuk.

Itulah beberapa penyebab keputihan berbau yang harus Anda waspadai. Penanganan dengan cepat dan tepat dapat membantu menghindari kemungkinan komplikasi berat, seperti kemandulan. Pencegahan juga dapat dilakukan seperti menjalani vaksinasi untuk virus HPV.

Dapatkan layanan konsultasi online langsung dengan dokter di Tanya Dokter.

[HNS/JKT]

Referensi:

Healthline. Diakses 2021. Everything You Need to Know About Chlamydia Infection

Healthline. Diakses 2021. Gonorrhea

Healthline. Diakses 2021. Trichomoniasis

Healthline. Diakses 2021. Guide to Vaginal Discharge: What’s Normal and When Should You Call Your Doctor?

Keputihan

Konsultasi Dokter Terkait