Penyakit Kanker

Kanker Serviks

dr. Valda Garcia, 29 Mei 2024

Ditinjau Oleh dr. Valda Garcia

Kanker serviks adalah pertumbuhan sel tak terkendali (kanker) yang terjadi pada leher rahim. Ini penyebab, gejala dan pengobatannya.

Kanker Serviks

Kanker Serviks

Dokter Spesialis

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter spesialis bedah onkologi

Gejala

Keluar darah setelah berhubungan di luar siklus menstruasi atau pascamenopause

Faktor Risiko

Genetik, faktor keturunan, berhubungan seksual dengan lebih dari satu orang, infeksi menular seksual

Cara Diagnosis

IVA, pap smear, biopsi

Pengobatan

Berdasarkan stadium (operasi, kemoterapi, radioterapi)

Obat

Kemoterapi, radioterapi

Komplikasi

Metastasis ke organ lain

Kapan Harus ke Dokter?

Terdapat gejala, kelainan pada skrining rutin (IVA, pap smear)


Pengertian

Kanker serviks adalah pertumbuhan sel tak terkendali pada leher rahim (serviks). Leher rahim merupakan bagian dari saluran reproduksi wanita yang menghubungkan vagina dengan rahim atau uterus. Semua wanita berisiko menderita kanker ini.

Namun, wanita yang aktif secara seksual cenderung lebih berisiko. Pada tahap awal, kanker serviks biasanya tidak menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, dokter akan menyarankan Anda untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dan prosedur. Jika dicurigai terdapat pertumbuhan kanker leher rahim, Anda akan dirujuk ke dokter spesialis.

Penyebab

Awalnya, sel sehat mengalami mutasi genetik yang mengubah pertumbuhan sel sehat menjadi tidak normal. Hal ini menyebabkan sel-sel leher rahim tumbuh dengan pesat, tanpa terkendali. Perkembangan sel yang abnormal ini terjadi akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV).

Faktanya, hampir semua kasus kanker serviks disebabkan oleh HPV. Ini adalah sekumpulan grup virus yang menginfeksi manusia pada sel epitel kulit dan membran mukosa, termasuk di daerah kelamin. Hingga saat ini hampir seratus tipe HPV berhasil diidentifikasi. Sebagian besar jenis HPV tidak berbahaya.

Namun, ada beberapa jenis HPV yang diketahui dapat mengganggu sel-sel leher rahim hingga memicu kanker, yaitu HPV 16 dan 18. Sel kanker yang muncul kemudian menyerang jaringan di sekitarnya.

Sel kanker dapat melepaskan diri dari lokasi awal dan menyebar ke bagian tubuh lain. Proses ini disebut sebagai metastasis.

Artikel Lainnya: Cara Penularan Kanker Serviks

Gejala

Gejala kanker serviks pada umumnya adalah: 

  • Flek atau perdarahan tidak normal dari vagina adalah gejala yang paling mudah dikenali sebagai gejala kanker serviks. Biasanya perdarahan terjadi usai berhubungan seksual, di luar masa haid, ataupun pasca-menopause. Segera periksakan diri ke dokter jika pendarahan yang tidak normal terjadi lebih dari satu kali
  • Rasa sakit dan tidak nyaman saat berhubungan seksual
  • Cairan yang keluar dari vagina beraroma aneh, berwarna tidak wajar atau mengandung darah.

Kanker serviks stadium 4 akan menyebar ke luar dari leher rahim menuju jaringan dan organ sekitarnya.

Pada tahap ini, gejala yang dialami akan berbeda, seperti:

  • Sembelit
  • Ada darah dalam urine
  • Terjadi pembengkakan pada salah satu kaki
  • Nyeri pada tulang
  • Hilang nafsu makan
  • Rasa nyeri pada perut bagian bawah dan nyeri pada panggul
  • Kelelahan
  • Lemas
  • Rasa nyeri pada punggung atau pinggang yang disebabkan oleh pembengkakan ginjal. Kondisi tersebut disebut hidronefrosis.

Perlu diketahui kalau ciri-ciri kanker serviks di atas tidak selalu terlihat jelas. Bahkan, gejala tidak muncul sama sekali sampai kanker memasuki stadium akhir.

Itu sebabnya, pap smear perlu dilakukan untuk mendeteksi sel abnormal dan mencegah perkembangannya menjadi kanker serviks.

Artikel lainnya: Gejala Awal Kanker Serviks Sesuai Stadium

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko kanker leher rahim adalah:

  • Genetik
  • Faktor keturunan
  • Riwayat anggota keluarga dengan kanker
  • Merokok
  • Berhubungan seksual di usia muda
  • Penggunaan KB hormonal
  • Melahirkan lebih dari 3 kali
  • Melahirkan di usia muda
  • Usia lanjut
  • Berhubungan seksual dengan lebih dari 1 orang
  • Riwayat infeksi menular seksual
  • Konsumsi obat imunosupresan
  • Tidak divaksinasi

Diagnosis

Kanker serviks yang dideteksi dini dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Apabila hasil pap smear menunjukkan adanya sel abnormal pada leher rahim, Anda akan diberikan rujukan ke dokter spesialis sistem reproduksi wanita.

Hasil sel abnormal bukan berarti Anda memiliki kanker rahim. Jika terjadi perdarahan abnormal pada vagina, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya.

Artikel lainnya: Wanita Usia 30-an Rentan Kanker Serviks, Ini Faktanya

Umumnya, pemeriksaan yang dilakukan meliputi:

Prosedur Kolposkopi

Prosedur ini akan dianjurkan dokter apabila hasil pap smear menunjukkan adanya sel abnormal atau gejala yang timbul dicurigai sebagai kanker serviks. 

Dokter akan menggunakan mikroskop khusus dengan lampu kecil di bagian ujung untuk melihat vagina, vulva, dan leher rahim.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kelainan pada serviks. Apabila terlihat kelainan, sampel jaringan akan diambil dari leher rahim untuk dianalisis apakah terdapat sel kanker di dalamnya.

Biopsi Kerucut (Cone Biopsy)

Pada beberapa kasus, prosedur operasi kecil yang dikenal dengan istilah biopsi kerucut mungkin akan dilakukan. Pasien akan dibius lokal saat prosedur dilakukan. Jaringan berbentuk kerucut akan diambil dari leher rahim untuk dianalisa apakah terdapat sel kanker di dalamnya.

Efek dari pemeriksaan ini adalah pasien bisa mengalami perdarahan disertai nyeri, mirip dengan gejala menstruasi, hingga empat minggu pascaoperasi.

Apabila hasil biopsi memperlihatkan bahwa pasien memiliki kanker serviks dan ada indikasi kanker telah menyebar, pasien akan dianjurkan untuk melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut. 

Pemeriksaan biasanya meliputi:

  • Tes darah

Dilakukan untuk mengetahui kondisi organ hati, ginjal, dan sumsum tulang

  • Pemeriksaan organ panggul

Dokter akan memeriksa vagina, rahim, kandung kemih, dan rektum apakah terdapat kanker

  • CT scan

Pemindaian dilakukan untuk melihat kondisi tubuh bagian dalam dengan komputer untuk mendapatkan gambar tiga dimensi. Ini dilakukan untuk melihat kanker yang ada dan apakah sudah terjadi penyebaran

  • MRI scan

Pemeriksaan ini memakai medan magnet kuat dan gelombang radio untuk mendapatkan gambar detail tubuh bagian dalam. Hal ini dilakukan untuk melihat penyebaran kanker yang mungkin sudah terjadi

  • X-ray dada

Pemeriksaan untuk melihat apakah kanker sudah menyebar ke paru-paru

  • PET scan

Pemindaian khusus di mana pasien disuntikkan cairan radioaktif untuk melihat jaringan kanker dengan lebih jelas. Jika dikombinasikan dengan CT scan, bisa memperlihatkan penyebaran kanker serta respons pasien pada pengobatan yang sedang dilakukan.

Setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, stadium kanker dapat ditentukan. Stadium digunakan sebagai penanda seberapa jauh kanker telah menyebar. Semakin tinggi stadium, semakin luas penyebaran kankernya.

Berikut adalah stadium kanker serviks:

  • Stadium 0: stadium prakanker. Tidak ada sel kanker dalam serviks, tapi ada perubahan biologis yang berpotensi memicu kanker di kemudian hari. Tahap ini disebut sebagai cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau carcinoma in situ (CIS)
  • Stadium 1: kanker masih berada di dalam serviks dan belum ada penyebaran
  • Stadium 2: kanker sudah menyebar ke luar serviks dan di jaringan sekitarnya. Tapi belum mencapai dinding panggul atau bagian bawah vagina
  • Stadium 3: kanker sudah menyebar ke ke bagian bawah vagina dan/atau dinding panggul
  • Stadium 4: kanker sudah menyebar ke usus, kandung kemih, atau organ lain, seperti paru-paru

Artikel lainnya: Mitos Kanker Serviks yang Bikin Salah Kaprah

Pengobatan

Pemilihan metode pengobatan kanker serviks bergantung pada beberapa faktor, misalnya:

  • Stadium kanker
  • Jenis kanker
  • Usia pasien
  • Kondisi medis lain yang mungkin sedang dihadapi

Pengobatan kanker serviks berdasarkan stadium dibagi menjadi dua. Pertama, operasi pengangkatan sebagian atau seluruh organ rahim, radioterapi, atau kombinasi keduanya.

Kedua, penanganan kanker serviks stadium akhir, yaitu radioterapi dan/atau kemoterapi. Terkadang, operasi juga perlu dilakukan.

1. Pengangkatan Sel-Sel Prakanker

Penanganan sel prakanker dibutuhkan apabila hasil pap smear memperlihatkan adanya perubahan biologis yang berpotensi menjadi kanker di kemudian hari.

Beberapa prosedur pengkangkatan sel prakanker antara lain:

  • Terapi laser: pemakaian laser untuk membakar sel-sel abnormal
  • Biopsi kerucut: yaitu pengangkatan wilayah tempat jaringan yang abnormal melalui prosedur operasi
  • Large loop excision of transformation zone (LLETZ): sel-sel abnormal dipotong memakai kawat tipis dan arus listrik

2. Operasi Pengangkatan Kanker Serviks

Ada tiga prosedur operasi pengangkatan kanker serviks, yakni:

  • Radical Trachelectomy

Prosedur ini bertujuan mengangkat serviks, jaringan sekitarnya, dan bagian atas dari vagina, tanpa mengangkat rahim.

  • Histerektomi

Prosedur ini adalah operasi pengangkatan rahim. Biasanya dilakukan untuk kanker serviks stadium awal. Ada dua jenis operasi histerektomi. Yang pertama histerektomi sederhana. Yaitu, prosedur pengangkatan leher rahim dan rahim.

Pada beberapa kasus, ovarium dan tuba falopi bisa juga turut diangkat. Prosedur ini bisa dilakukan untuk kanker serviks stadium awal. Yang kedua, histerektomi radikal. Yakni, proses pengangkatan leher rahim, rahim, jaringan di sekitarnya, nodus limfa, ovarium, dan tuba falopi.

Efek samping jangka pendek dari operasi histerektomi antara lain perdarahan, infeksi, risiko cedera pada kandung kemih, ureter, dan rectum, serta penggumpalan darah.

Artikel lainnya: Daftar Makanan untuk Mencegah Kanker Serviks

Adapun komplikasi jangka panjangnya bisa meliputi pembengkakan pada lengan dan kaki karena penumpukan cairan. Komplikasi lainnya adalah produksi cairan vagina akan berkurang dan menyebabkan hubungan seksual bisa terasa tidak nyaman.

  • Pelvic Exenteration

Prosedur operasi besar yang dilakukan untuk mengangkat leher rahim, jaringan sekitarnya serta bagian atas vagina. Namun, rahim tidak ikut diangkat.

3. Penanganan dengan Radioterapi

Pada kanker serviks stadium akhir, radioterapi akan dikombinasikan dengan kemoterapi untuk mengendalikan pendarahan dan rasa nyeri.

Prosedur radioterapi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

  • Eksternal: Mesin radioterapi akan menembakkan gelombang energi tinggi ke bagian panggul pasien untuk menghancurkan sel kanker.
  • Internal: Implan radioaktif akan dimasukkan di dalam vagina dan leher rahim pasien.

Radioterapi tidak hanya menghancurkan sel-sel kanker, tetapi sering kali juga menghancurkan jaringan yang sehat.

Efek samping prosedur ini antara lain:

  • Perdarahan dari vagina dan rektum
  • Diare
  • Mual
  • Merusak kandung kemih sehingga pasien kehilangan kontrol buang air besar dan kecil
  • Merusak ovarium, berakibat pada menopause
  • Perih pada kulit panggul

4. Pengobatan dengan Kemoterapi

Kemoterapi dilakukan untuk memperlambat penyebaran dan mengurangi gejala yang muncul. Metode ini memakai obat-obatan yang berfungsi untuk menghancurkan sel-sel kanker.

Kemoterapi bisa dilakukan dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi obat-obatan.

Pengobatan kemoterapi diberikan melalui infus pada pasien rawat jalan. Pasien diperbolehkan pulang setelah menerima pengobatan sesuai dosis.

Pengobatan ini memberi dampak pada seluruh tubuh. Jadi, tak hanya menghancurkan sel kanker yang tumbuh dengan cepat, sel-sel sehat juga turut terpengaruh.

Pasien yang menjalani pengobatan dengan kemoterapi harus melakukan tes darah rutin. Hal ini dilakukan untuk memeriksa kesehatan ginjal, karena beberapa obat-obatan kemoterapi bisa merusak ginjal.

Efek samping yang paling sering terjadi setelah kemoterapi, antara lain:

Artikel lainnya: Bisakah Wanita dengan Kanker Serviks Hamil?

Pencegahan

Ada beberapa cara yang dapat mencegah dan mengurangi risiko terkena kanker serviks, yakni:

1. Menggunakan Kondom

Penggunaan kondom saat berhubungan seks dapat melindungi Anda dari HPV. Selain itu, cegah kanker serviks dengan membatasi jumlah pasangan seksual yang Anda miliki.

2. Vaksin HPV

Vaksin untuk mencegah infeksi HPV yang berisiko kanker sudah tersedia. Vaksinasi HPV yang saat ini tersedia adalah vaksin bivalen untuk HPV 16 dan 18; vaksin kuadrivalen untuk HPV 6, 11, 16 dan 18; atau vaksin nonavalen untuk 9 jenis HPV yaitu 4 jenis ditambah 31,33, 45, 52, dan 58.

3. Deteksi Dini dengan Pap Smear Berkala

Screening serviks atau pap smear juga dianjurkan karena dapat mendeteksi dini kelainan pada perubahan sel di dalam serviks. Saat melakukan pap smear, sampel sel diambil dari leher rahim dan diperiksa di bawah mikroskop.

Risiko terkena kanker serviks dapat ditekan dengan menjalani pengobatan ketika sel-sel masih dalam tahap prakanker. Namun, perlu dimengerti bahwa screening serviks bukanlah tes untuk mendiagnosis kanker serviks, melainkan untuk mendeteksi sel yang abnormal.

Perubahan sel tidak selalu berujung pada kanker. Sel yang abnormal masih bisa kembali normal dengan sendirinya. Pada kasus tertentu, sel yang bersifat abnormal perlu diangkat karena berpotensi menjadi kanker.

Artikel lainnya: Agar Pemeriksaan Pap Smear Lebih Nyaman, Lakukan 7 Cara Ini

Untuk wanita usia 21-29 tahun dianjurkan menjalani pap smear setiap 3 tahun. 

Adapun pada wanita usia 30-64 tahun, kombinasi pap smear dan tes HPV DNA dapat dilakukan tiap 5 tahun, atau bisa juga dengan menjalani masing-masing tes secara terpisah setiap 3 tahun.

Pada wanita usia 65 tahun ke atas, mintalah saran dokter mengenai perlunya menjalani pemeriksaan pap smear.

Wanita yang aktif secara seksual dan berusia di atas 21 tahun serta memiliki risiko besar penyakit menular seksual, disarankan untuk melakukan tes untuk penyakit-penyakit, seperti klamidia, gonorrhea, dan sifilis setiap tahunnya.

Bila diperlukan, lakukanlah tes HIV setiap tahunnya. Tanyakan kepada dokter yang menangani Anda mengenai vaksin HPV. Mendapatkan vaksin HPV dapat membantu Anda mencegah infeksi HPV yang juga dapat mengurangi risiko Anda terkena kanker serviks dan penyakit kanker lain yang berhubungan dengan HPV.

4. Tidak Merokok dan Batasi Minum Alkohol

Jangan merokok, baik rokok konvensional ataupun rokok elektrik, dan batasi minum alkohol.

Merokok dan minum alkohol dapat meningkatkan risiko Anda terkena kanker serviks berkali-kali lipat. Merokok juga dapat menyebabkan Anda terkena kanker jenis lain, seperti kanker sel skuamosa.

Tingkatkan daya tubuh Anda dengan mengonsumsi makanan yang penuh nutrisi, istirahat yang cukup, dan berolahraga dengan intensitas sedang agar tubuh Anda juga menjadi lebih bugar.

Komplikasi

Sama halnya dengan jenis kanker lain, kanker serviks juga dapat menyebar atau metastasis ke organ lain yang menyebabkan gangguan pada fungsi organ.

Kapan Harus ke Dokter?

Ketika Anda mengalami gejala seperti keluar darah setelah berhubungan seksual di luar siklus menstruasi atau setelah menopause, sangat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter. 

Selain itu, ketika Anda melakukan skrining rutin seperti IVA atau pap smear dan ditemukan suatu keanehan, sangat disarankan untuk segera konsultasi lebih lanjut dengan dokter.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda langsung dengan dokter. Manfaatkan layanan Tanya Dokter  dari KlikDokter.

[HNS]

  • Mayo Clinic. Diakses 2022. Cervical Cancer. 
  • NHS.UK. Diakses 2022. Cervical Cancer.
  • Cancer.Org. Diakses 2022. Cervical Cancer