Sukses

Diare Saat Hamil, Apa Saja yang Perlu Diketahui?

Apa saja yang dapat menyebabkan diare saat hamil? Yuk, simak penjelasan medisnya di bawah ini!

Klikdokter.com, Jakarta Hampir setiap orang – termasuk ibu hamil – pasti pernah mengalami diare. Jika tidak segera diatasi, diare saat hamil bisa sangat menganggu sekaligus membahayakan kesehatan ibu dan janin.

Pada umumnya diare merupakan suatu kondisi di mana terjadi perubahan frekuensi dan konsistensi buang air besar. Jika kondisi ini terus berlarut-larut, diare bisa menyebabkan dehidrasi, maupun malnutrisi. Nah, terbayang kan, kalau ibu hamil mengalami diare, pasti kondisinya bisa drop. Bahkan kondisi janin dalam kandungan bisa ikut terpengaruh.

Penyebab diare saat hamil

Perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan perubahan pada fungsi saluran pencernaan. Kondisi ini berpeluang untuk menimbulkan keluhan seperti diare, konstipasi, maupun produksi gas yang berlebih. Akan tetapi, diare saat hamil juga dapat disebabkan oleh infeksi pada usus maupun penyakit usus lainnya.

Perubahan pada kadar prostaglandin, yang merupakan salah satu zat kimiawi yang diproduksi oleh sel tubuh, dapat menyebabkan diare. Salah satu jenis prostaglandin adalah oksitosin, yang dapat menstimulasi kontraksi pada rahim dan juga meningkatkan pergerakan saluran pencernaan. 

Meningkatnya pergerakan saluran pencernaan dapat mengakibatkan tinja bergerak lebih cepat di dalam usus. Akibatnya, diare pada ibu hamil lebih mungkin terjadi.

Selain perubahan kadar hormon maupun zat kimiawi, diare juga dapat disebabkan oleh infeksi usus. Selain tinja yang lebih encer atau berair, orang dengan diare yang disebabkan oleh infeksi akan mengalami beberapa tanda dan gejala. Misalnya, tinja yang berdarah, mual, muntah, demam, menggigil, dan pusing. 

Diare karena infeksi tersebut dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun parasit yang dapat menular melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi atau tidak bersih. Oleh karena itu, risiko mengalami diare yang disebabkan oleh infeksi tersebut dapat meningkat saat mengonsumsi makanan yang kebersihannya tidak terjamin.

Penyebab lain dari diare pada masa kehamilan adalah alergi atau intoleransi terhadap suatu makanan atau minuman, perubahan pola makan, stres, konsumsi obat tertentu. Selain itu, diare dapat pula dipicu oleh konsumsi makanan yang mengandung gula alkohol, seperti sorbitol, xylitol, atau mannitol.

Gejala diare pada ibu hamil

Karena diare yang berkelanjutan dapat berbahaya pada ibu hamil, beberapa gejala yang harus diperhatikan untuk segera berkonsultasi ke dokter adalah:

  • Terdapat darah atau lendir pada tinja
  • Diare telah berlangsung lebih dari 48 jam
  • Buang air besar cair enam kali atau dalam 24 jam
  • Muntah yang berulang
  • Nyeri yang hebat pada perut
  • Tanda dan gejala dehidrasi, seperti urine yang berwarna gelap, rasa haus, mulut kering, pusing, atau menurunnya frekuensi buang air kecil.

Agar ibu hamil tidak mengalami dehidrasi akibat diare, konsumsilah air putih secara cukup. Selain itu, Anda dapat mengonsumsi cairan yang mengandung elektrolit, seperti oralit untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

Di sisi lain, Ibu hamil juga harus menghindari makanan yang dapat membuat diare bertambah parah. Misalnya saja, produk susu, segala sesuatu yang tinggi lemak dan gula, serta minuman yang mengandung kafein.

Beberapa kondisi seperti perubahan hormon dan kadar zat kimiawi yang dialami wanita yang mengandung, juga memungkinkan terjadinya diare saat hamil. Untuk itu, disarankan ibu hamil untuk mengonsumsi makanan bersih yang tidak terkontaminasi kuman dan bakteri. Apabila diare terjadi lebih dari 48 jam – terlebih  jika disertai gejala demam, dehidrasi, tinja berdarah, dan muntah – segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pengananan yang tepat.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar