Sukses

Benarkah Atrofi Vagina Hanya Bisa Dialami Wanita Menopause?

Bukan cuma perkara vagina kering, bisakah wanita yang masih dalam masa subur mengalami atrofi vagina karena beberapa faktor?

Klikdokter.com, Jakarta Nama atrofi vagina mungkin masih terdengar asing di telinga. Beberapa wanita pun menganggapnya sama dengan kondisi kekeringan vagina. Padahal, menurut dr. Valda Garcia dari KlikDokter, keduanya berbeda, meskipun sama-sama menyebabkan vagina kering, khususnya pada wanita yang telah masuk ke masa menopause.

Mengenal atrofi vagina dan penanganannya

Atrofi vagina itu sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan peradangan, dan kekeringan atau penipisan dinding vagina.

“Bedanya dengan kondisi kekeringan vagina biasa, pada atrofi ini terjadi juga pengecilan jaringan vagina. Sedangkan, hal tersebut tidak terjadi pada kekeringan vagina biasa.” jelas dr. Valda.

Dibanding vagina kering, gangguan yang memiliki nama lain atrofi vulvovaginal, atrofi urogenital, dan vaginitis atrofi ini pun lebih berisiko karena dapat menimbulkan masalah pada vagina atau saluran kemih.

Perlu diketahui, sebanyak 10-40 persen wanita yang telah masuk ke masa menopause mengalami atrofi vagina. Tapi sayangnya, hanya sekitar 20-25 persen dari mereka yang mencari pertolongan medis terhadap kondisi tersebut. Alasan terbesarnya adalah mereka merasa malu dan khawatir untuk mendiskusikan masalah organ intim ini kepada tenaga medis.

Wanita yang menopause pun takut bahwa atrofi vagina tidak bisa disembuhkan. Jadi, mereka berpikir daripada memaksakan diri untuk berobat, lebih baik mendiamkannya.

Padahal, atrofi vagina dapat diobati dan sangat bisa dikurangi gejalanya dengan berbagai terapi, misalnya dengan terapi estrogen vaginal, terapi hormonal sistemik, dan ospemifene (obat oral non-estrogen).

Agar terhindar dari kondisi atrofi vagina dan bahayanya, ketahui berbagai penyebab dan gejalanya. Dengan demikian, Anda bisa lebih waspada.

1 dari 2 halaman

Penyebab dan gejala atrofi vagina

Terjadinya atrofi vagina pada wanita yang menopause sebenarnya dipicu oleh penurunan hormon estrogen. Hal inilah yang menyebabkan vagina menjadi lebih kering, tipis, kurang elastis, dan rapuh.

Turunnya hormon estrogen secara signifikan tersebut didukung oleh beberapa faktor, yaitu mengonsumsi obat kontrasepsi seperti tamoxifen, danazol, medroxyprogesterone, dan sebagainya.

Selain itu, kelainan imun akibat diabetes atau Sjogren syndrome, efek dari pembedahan saat mengambil kedua ovarium, terapi radiasi kanker, dan juga berhenti melakukan hubungan intim juga bisa memicu atrofi vagina.

Namun, meski atrofi vagina sebenarnya bukan merupakan gangguan organ intim yang terbilang baru, sangat penting untuk mengetahui gejalanya. Berikut ini adalah beberapa gejala atrofi vagina yang sebaiknya Anda waspadai:

  • Nyeri saat berhubungan seksual dan kondisinya tidak membaik meski telah mengunakan pelumas.
  • Muncul flek usai berhubungan intim.
  • Timbul perdarahan, rasa terbakar, atau keluar cairan yang berwarna kekuningan dan berbau dari vagina.
  • Sering berkeringat di malam hari dan merasakan hot fluhses yang berlebih, yakni munculnya rasa panas di tubuh yang diikuti dengan jantung berdebar.
  • Sering berkemih.
  • Hematuria (berkemih disertai keluarnya darah).
  • Disuria (nyeri saat berkemih).
  • Gatal pada vulva, yakni bagian luar alat kelamin wanita.
  • Rasa kering dan tidak nyaman pada vagina.

Berbagai gejala di atas banyak dialami oleh wanita di atas 50 tahun. Meski demikian, bukan tak mungkin kondisi tersebut juga dialami oleh wanita di masa subur. Jadi, bila Anda mengalaminya, segera lakukan konsultasi dengan dokter untuk melakukan antisipasi dini.

Atrofi vagina di masa subur

Menurut dr. Valda, meski juga bisa terjadi, sangat kecil kemungkinannya bagi wanita yang masih haid untuk mengalami atrofi vagina. Sebab, kadar hormon estrogen pada wanita yang belum menopause masih terbilang tinggi dan stabil.

Kalaupun vagina terasa kering di usia yang masih terbilang muda, mungkin penyebabnya adalah faktor lain, bukan karena kondisi atrofi vagina. Jadi, bagi Anda wanita yang belum masuk ke masa-masa menopause, tidak usah terlalu khawatir akan terkena atrofi vagina.

Yang terpenting, jagalah selalu kesehatan vagina Anda dengan menghindari hubungan seksual yang berisiko, tidak mencuci vagina dengan sabun secara berlebihan hingga mengurangi kelembapan alami vagina. Selain itu juga dengan menjaga pola makan, menjaga rutinitas hubungan seksual dengan pasangan, dan menghentikan kebiasaan merokok untuk menurunkan segala risiko gangguan penyakit.

Dengan melakukan berbagai upaya di atas, atrofi vagina pun bisa dihindari, meski Anda telah memasuki masa menopause.

Dan setelah menyimak berbagai hal di atas, kini Anda telah mengetahui bahwa kondisi atrofi vagina sebagian besar dialami para wanita yang telah memasuki masa menopause. Meski demikian, bukan berarti hal ini tidak mungkin dialami oleh wanita yang masih haid. Oleh sebab itu, lakukanlah saran-saran yang disampaikan di atas untuk menghindari risiko terkena atrofi vagina.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar