Sukses

Obat untuk Migrain Kronis Sudah Ditemukan?

Peneliti beberkan obat untuk migrain kronis sudah ditemukan. Apakah obat ini ampuh? Simak selengkapnya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Penderita migrain kronis pasti berbahagia setelah mendengar bahwa obat untuk mengatasi migrain yang dideritanya sudah ditemukan. Ini tentu akan sangat membantu mereka dalam menghadapi sakit kepala akibat migrain yang efeknya bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan penjelasan dari dr. Fiona Amelia dari KlikDokter, migrain adalah sakit kepala berdenyut yang terjadi pada satu sisi kepala. Akan tetapi, migrain juga bisa terjadi di kedua sisi kepala.

“Gejala lain pada migrain meliputi mual, muntah, serta sangat sensitif terhadap cahaya dan suara. Gejala ini diperburuk dengan aktivitas fisik biasa. Serangan migrain dapat menyebabkan nyeri yang sangat mengganggu selama berjam-jam, bahkan seharian sehingga menyebabkan gangguan aktivitas pada penderitanya,” ujar dr. Fiona.

Lebih lanjut, dr. Fiona menjelaskan bahwa migrain kronis sering terjadi pada individu yang memiliki riwayat migrain episodik. Migrain dianggap kronis apabila terjadi lebih dari 8 hari dalam 1 bulan, selama paling sedikit 3 bulan.

Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengesahkan obat bernama Aimovig untuk dijual. Ini disinyalir adalah obat pertama untuk mencegah migrain.

Mengenal obat ampuh untuk penderita migrain kronis

Dilansir dari laman TIME, sejumlah pil untuk mencegah migrain lainnya sedang diuji. Dengan begitu, nantinya Aimovig tak akan “sendirian”. Cara kerja obat Aimovig ini adalah dengan disuntikkan setiap bulan tepat di bawah kulit. Kisaran harga obat ini adalah sekitar 6,9 ribu dollar AS (sekitar Rp.97 juta) per tahun atau 575 dolar AS (sekitar Rp.8,1 jutaan) sekali pakai per bulan tanpa asuransi. Mahal juga, ya!

Dalam satu penelitian, pasien yang diberi Aimovig mengaku tingkat kekambuhan migrain berkurang secara signifikan. Setiap kelompok pasien memiliki efek samping kecil berupa pilek dan infeksi saluran pernapasan. Bahkan, pada beberapa pasien terlihat migrain mereka benar-benar hilang.

Aimovig dan obat-obatan migrain lainnya tengah ditinjau secara mendalam. Hal ini perlu dilakukan demi melihat efek jangka panjang yang bisa ditimbulkan suatu saat nanti. Penelitian lebih lanjut juga perlu dilakukan guna melihat efeknya pada ibu hamil.

Seperti yang Anda ketahui, efek dari migrain amat menyiksa dan menimbulkan gejala yang membuat sakit kepala berdenyut, mual, muntah, serta sensitif terhadap cahaya dan suara. Berdasarkan kategori usia, migrain sering ditemukan pada orang berusia 30-an dan kebanyakan penderitanya adalah wanita. Rasa sakitnya dapat berlangsung selama beberapa jam atau bahkan berhari-hari.

 

1 dari 2 halaman

Kiat mengatasi migrain kronis

Karena belum diketahui apakah obat migrain kronis baru ini akan masuk Indonesia atau tidak, Anda tetap bisa mengatasi migrain kronis dengan mengetahui pemicunya, antara lain:https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3322641/8-fakta-mengejutkan-tentang-migrain

  • Perubahan hormon pada wanita, terutama fluktuasi hormon estrogen. Ini sering kali berkaitan dengan siklus haid. Biasanya migrain terjadi sebelum dan selama haid, yaitu ketika kadar estrogen tiba-tiba turun. Sebagian juga cenderung mengalami migrain saat hamil atau menopause. Pil KB hormonal dan terapi hormon juga dapat memperburuk migrain.
  • Hindari makanan yang dapat memicu migrain, seperti keju, makanan yang asin, dan makanan siap saji. Tidak makan (skipping meals) atau puasa juga dapat memicu serangan migrain.
  • Hindari makanan yang mengandung zat tambahan seperti pemanis aspartam dan pengawet monosodium glutamat (MSG).
  • Alkohol, wine, dan minuman berkafein tinggi juga dapat memicu serangan.
  • Kondisi di bawah tekanan alias stres juga diyakini dapat memicu timbulnya migrain.
  • Rangsangan sensorik. Cahaya terang dan sinar matahari serta suara yang keras dapat memicu migrain. Bau-bauan yang kuat, seperti parfum, thinner, serta asap rokok juga dapat memicu serangan pada sebagian orang.
  • Faktor fisik. Olahraga yang intens maupun aktivitas seksual juga diketahui dapat memicu migrain.
  • Perubahan lingkungan. Perubahan cuaca dan tekanan udara dapat memicu migrain.
  • Obat-obatan. Pil KB dan vasodilator (obat untuk melebarkan pembuluh darah), seperti nitrogliserin, dapat memperburuk migrain.

Menurut dr. Fiona, selain obat-obatan, terdapat terapi alternatif yang dapat mengurangi migrain, seperti akupunktur, terapi pijat, dan psikoterapi (bagaimana perilaku dan pikiran memengaruhi persepsi Anda terhadap nyeri). Lebih lanjut, dr. Fiona menyarankan bila migrain berlangsung sering dan terjadi dalam waktu lama, sebaiknya konsultasikan ini kepada dokter, khususnya spesialis saraf. Kemungkinan Anda memerlukan pemeriksaan lanjutan seperti CT scan kepala untuk memastikan penyebab migrain.

Bagi Anda yang kerap mengalami migrain, meskipun obat pencegah migrain kronis sudah ditemukan, tapi tindakan pencegahan selalu yang terpenting. Jadikan aktivitas menjaga kesehatan secara keseluruhan sebagai prioritas utama Anda. Jalani pola hidup sehat dengan makan makanan berigizi seimbang dan olahraga secara rutin.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar