Masalah Saraf dan Otak

Migrain

dr. Dyah Novita, 17 Januari 2023

Icon ShareBagikan
Icon Like

Migrain adalah sakit kepala yang hanya menyerang di satu sisi saja. Apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi migrain? Simak di sini.

Migrain  

Dokter Spesialis 

Penyakit saraf

Gejala

Perubahan mood, leher kaku, sering haus, melihat kilatan cahaya, mati rasa di salah satu sisi, sakit kepala pada salah satu sisi kepala atau kedua kepala, mual dan muntah, sensitif terhadap cahaya, suara dan bau, nyeri otot, sulit berkonsentrasi 

Faktor risiko

Wanita, riwayat keluarga menderita migrain, riwayat epilepsy, gangguan bipolar 

Cara diagnosis

Wawancara lengkap, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah lengkap, CT Scan, Pungsi lumbal

Pengobatan

Istirahat, Pemijatan kepala, relaksasi otot, meditasi atau yoga, menghirup aromaterapi, kompres dingin belakang leher, TMS, Akupuntur, Terapi perilaku

Obat 

Obat Pereda nyeri, ergotamine, triptam, obat antimual, kafein

Komplikasi 

Stroke perdarahan, gangguan psikologis, gejala aura memanjang, kejang

Kapan harus ke dokter?

Sakit kepala yang tidak tertahankan. Sakit kepala disertai demam, kejang, leher kaku, lemas pada salah satu sisi tubuh, bicara menjadi cadel    

Pengertian

Migrain adalah sakit kepala yang terasa seperti berdenyut dengan tingkat sedang hingga parah. Biasanya, sakit kepala hanya menyerang di satu sisi saja. 

Tanpa pengobatan, biasanya migrain dapat berlangsung selama 4 jam. Namun, migrain tingkat parah dapat berlangsung hingga satu minggu.

Frekuensi kemunculannya juga berbeda pada tiap penderita. Namun secara rata-rata, migrain muncul 2-4 kali sebulan. Pada beberapa kasus, migrain bisa muncul setiap beberapa hari sekali.

Sakit kepala sebelah ini biasanya memicu gejala seperti mual, muntah, serta lebih peka terhadap cahaya, suara, dan aroma. Istilah untuk gejala awal yang menandakan migrain akan muncul adalah aura. 

Sebenarnya, ada beberapa jenis dan tipe migrain. Berikut tipe-tipe migrain, di antaranya:

1. Migrain dengan Aura

Biasanya, tanda yang muncul sebelum terjadi migrain adalah seperti melihat kilatan cahaya atau telinga berdenging.

2. Migrain Tanpa Aura 

Migrain muncul tanpa gejala sebelumnya. 

3. Aura Migrain Tanpa Sakit Kepala

Penderita merasakan aura, tetapi tanpa diiringi sakit kepala.

4. Migrain Kronik 

Migrain kronik kambuh selama setidaknya 15 hari setiap bulan. Gejala, tingkat nyeri dan keparahan yang dirasakan bisa berbeda-beda.

Umumnya, migrain kronik akibat penggunaan obat-obatan yang berlebihan.

Penyebab

Migrain muncul disebabkan karena efek dari aktivitas tidak normal otak yang memengaruhi pembuluh darah, saraf, dan zat kimia di dalam otak.

Namun, pada dasarnya, penyebab migrain bisa berbeda-beda tergantung dengan pemicunya. 

Sebaiknya kamu punya catatan khusus agar dapat mengidentifikasi pemicu yang secara konsisten menyebabkan migrain.

Beberapa faktor yang dapat memicu dan menyebabkan migrain antara lain:

1. Perubahan Hormon

Wanita lebih berisiko menderita migrain ketimbang pria. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi kadar hormon yang berkaitan erat dengan migrain.

Banyak wanita mengalami migrain pada saat menstruasi. Penurunan kadar esterogen diduga sebagai penyebabnya.

Banyak wanita penderita migrain merasa penyakitnya membaik setelah mengalami menopause. Namun, tidak sedikit juga yang merasakan sebaliknya. 

2. Pemicu Emosional Diri

Ternyata, migrain dapat dipicu oleh keadaan emosional penderitanya. Misalnya, stres, kegembiraan teramat sangat, kecemasan, dan depresi.

3. Pemicu Fisik

Keadaan fisik yang timbul akibat dari pola hidup juga bisa memicu migrain, contohnya: 

  • Kelelahan
  • Tidak mendapatkan istirahat yang cukup, baik secara kualitas maupun kuantitas
  • Ketegangan pada leher dan bahu, biasanya berkaitan dengan postur tubuh
  • Melakukan aktivitas fisik berat yang tidak biasa dilakukan

4. Pemicu Pola Makan dan Bahan Makanan

Berikut adalah hal-hal yang berhubungan dengan pola makan yang dapat memicu migrain:

  • Makan tidak teratur
  • Dehidrasi
  • Minuman keras
  • Minuman berkafein seperti teh dan kopi
  • Cokelat, keju, atau jeruk

5. Pemicu dari Lingkungan

Faktor lingkungan juga bisa menyebabkan seseorang terserang migrain, antara lain:

  • Cahaya terlalu terang
  • Layar (TV atau monitor komputer) yang berkedip
  • Merokok atau berada di ruangan penuh asap
  • Bunyi-bunyian bervolume kencang
  • Perubahan cuaca
  • Aroma tajam

6. Faktor Obat-obatan

Mengonsumsi obat tidur, pil kontrasepsi, atau menjalani terapi penggantian hormon (yang kadang dilakukan untuk meredakan gejala menopause) dapat memicu migrain.

Faktor Risiko

Sementara itu, faktor-faktor yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami migrain adalah: 

  • Jenis kelamin wanita 
  • Riwayat keluarga yang menderita migrain 
  • Riwayat penyakit tertentu, seperti epilepsi dan gangguan bipolar 

Artikel lainnya: Migrain, Adakah Faktor Genetik yang Memengaruhinya?

Gejala

Ciri-ciri utama migrain adalah sakit kepala berdenyut yang terasa di satu sisi kepala.

Biasanya, rasa sakit memburuk jika tubuh bergerak sehingga menghalangi pengidap beraktivitas normal. Pada kasus tertentu, rasa sakit itu bisa muncul di kedua sisi kepala, wajah, dan leher.

Pada umumnya, ada lima fase kemunculan gejala migrain, yaitu:

1. Fase Prodrome

Fase prodrome muncul sebelum migrain menyerang. Biasanya berupa perubahan suasana hati (misalnya, mudah tersinggung) atau indera peraba lebih sensitif.

Kelelahan dan otot kaku juga umum dirasakan pada fase ini. Ada juga yang merasakan ngidam makanan tertentu, sembelit, atau sering menguap.

2. Fase Aura

Fase aura biasanya berupa gangguan penglihatan. Ada penderita yang mengalami kilatan cahaya pada pandangan yang kabur, cahaya berwarna-warni, atau bahkan kehilangan penglihatan separuh (hemianopsia). 

Aura sendiri adalah gejala dari sistem saraf.

3. Fase Sakit Kepala

Nyeri migrain biasanya muncul hanya pada satu sisi kepala. Meski demikian, nyeri berdenyut ini bisa juga muncul pada kedua sisi kepala.

Pada fase ini, kebanyakan penderita merasakan mual bahkan sampai muntah. Selama serangan migrain, kamu dapat menjadi sensitif terhadap cahaya dan bunyi.

Tanpa pengobatan, fase ini bisa bertahan 4-72 jam.

4. Fase Postdormal

Pada fase postdormal, nyeri sudah mereda, tetapi gejala-gejala yang menyertainya tetap ada. Butuh waktu agak lama untuk hilang seluruhnya.

5. Gejala Penyerta

Gejala lain yang biasanya menyertai migrain, antara lain berkeringat berlebihan, tidak dapat berkonsentrasi, merasa sangat panas atau sangat dingin, nyeri perut, dan diare. 

Namun, tidak semua penderita mengalami gejala-gejala tersebut. Gejala-gejala tersebut juga tidak selalu muncul secara bersamaan.

Bahkan, dalam beberapa kasus, pengidap dapat merasakan gejala tanpa disertai sakit kepala.

Setiap satu dari tiga penderita migrain mengalami gejala yang muncul sebelum migrain menyerang. Gejala ini dikenal dengan sebutan aura, yang terdiri dari:

  • Masalah visual, seperti melihat pola zig-zag dalam penglihatan
  • Kebas atau kesemutan, berawal dari satu sisi tangan dan menjalar ke arah wajah
  • Kehilangan keseimbangan atau pusing
  • Mengalami kesulitan bicara
  • Pingsan (meski jarang terjadi)

Durasi aura adalah sekitar lima menit hingga satu jam. Munculnya aura bisa diiringi sakit kepala atau tidak sama sekali.

Diagnosis

Migrain umumnya didiagnosis dengan melihat pola sakit kepala yang sesuai dengan gejala migrain. Berikut tahapan untuk mendiagnosis migrain.

1. Wawancara Medis

Pertama-tama, dokter akan bertanya mengenai riwayat sakit kepala yang selama ini dirasakan. Jelaskan gejala dan karakteristik sakit yang kamu alami dengan detail.

Ada baiknya kamu memiliki catatan khusus mengenai serangan migrain yang pernah dialami.

Beritahukan pada dokter mengenai lokasi sakit kepala, gejala yang dirasakan, durasi sakit kepala, waktu sakit kepala muncul, frekuensi sakit kepala, dan tingkat keparahan sakit kepala dalam skala 1-10. 

Selain itu, informasikan juga makanan apa yang kamu konsumsi sebelum sakit kepala muncul dan adakah jenis pengobatan yang sedang atau sudah pernah dilakukan.

Bagi wanita, memberitahukan siklus menstruasi juga dapat membantu dokter dalam mendiagnosis.

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, misalnya memeriksa penglihatan, koordinasi antar-anggota tubuh, refleks, dan memeriksa kondisi indera peraba.

Pemeriksaan tersebut akan membantu mengeliminasi kemungkinan sakit kepala yang berkaitan dengan penyakit lain.

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan dokter mengenai sakit kepala yang kamu rasakan:

  • Apakah sakit kepala hanya terasa pada satu sisi kepala saja?
  • Apakah sakit kepala yang dirasakan berupa sakit berdenyut?
  • Apakah sakit kepala menyulitkan kamu dalam beraktivitas?
  • Apakah sakit kepala memburuk saat kamu melakukan kegiatan fisik?
  • Apakah sakit kepala disertai gejala lain, seperti mual, muntah, dan sensitif terhadap cahaya serta bunyi?

3. Pemeriksaan penunjang 

Jika dibutuhkan, dokter akan menyarankan pemeriksaan saraf. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan kemungkinan kamu mengidap penyakit saraf yang bisa memengaruhi otak dan memicu migrain.

Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan darah, pemeriksaan CT scan, atau pemeriksaan pungsi lumbal. 

Artikel Lainnya: 8 Fakta Seputar Nyeri Kepala Migrain

Pengobatan

Migrain sebenarnya tidak dapat disembuhkan. Namun, frekuensi dan nyerinya bisa dikontrol menjadi lebih jarang dan ringan. 

Cara mengatasi migrain pun bisa berbeda bagi tiap penderita. Kamu mungkin harus mencoba beberapa metode penanganan berbeda sebelum menemukan yang cocok. 

Selain itu, pilihan penanganan bisa berbeda, bergantung pada frekuensi, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan secara umum. Ini juga termasuk kondisi khusus seperti wanita hamil dan menyusui.

Tiap penderita memiliki preferensi berbeda dalam menanggulangi migrain. Ada yang cukup terbantu dengan tidur atau berbaring di dalam ruangan gelap. 

Namun, ada juga yang mengonsumsi obat-obatan untuk meredakan nyeri dan meringankan rasa mual. Namun sebaiknya, berkonsultasilah terlebih dulu dengan dokter spesialis saraf sebelum mengonsumsi obat-obatan. 

Berikut jenis obat migrain yang dapat dikonsumsi: 

1. Obat Pereda Sakit

Banyak penderita migrain terbantu dengan obat-obatan pereda sakit yang dijual bebas, seperti parasetamol, ibuprofen, dan aspirin.

Waktu yang tepat untuk mengonsumsi obat pereda sakit adalah pada saat awal migrain melanda. Sebab, obat memerlukan waktu untuk larut dalam darah dan meredakan gejala.

Obat pereda sakit berbentuk tablet larut adalah alternatif obat yang bisa kamu coba. Obat ini akan lebih cepat meresap ke dalam aliran darah. 

Namun ingat, aspirin dan ibuprofen tidak disarankan untuk penderita berusia di bawah 16 tahun atau bagi penderita gangguan lambung seperti mag.

Berkonsultasilah kepada dokter jika gejala tidak membaik. Dokter mungkin akan memberikan obat dalam dosis lebih tinggi atau merekomendasikan obat pereda sakit yang dikombinasi dengan triptan dan obat antimual.

2. Triptan

Triptan adalah kelompok obat yang secara spesifik dapat mengurangi migrain. Triptan bekerja dengan meredam perubahan zat kimia pada otak yang menjadi penyebab migrain. 

Kelompok obat ini akan membuat pembuluh darah menyempit sehingga menghalangi sinyal sakit pada saraf otak.

Karena fungsinya itulah, triptan tidak boleh diberikan jika Anda memiliki risiko stroke atau serangan jantung. 

Efek samping triptan lainnya antara lain menimbulkan rasa panas, kesemutan, mual, mulut kering, mengantuk, pusing, dan lemah otot.

3. Obat Antimual

Pada penderita migrain, obat antimual dapat meredakan gejala walaupun penderita tidak merasakan mual atau ingin muntah.

Sama dengan obat pereda sakit, obat antimual paling efektif diminum sesaat setelah migrain muncul. Efek samping obat antimual biasanya mengantuk dan diare.

4. Pengobatan untuk Wanita Hamil dan Menyusui

Secara umum, penanganan migrain dengan menggunakan obat-obatan harus dibatasi pada ibu hamil dan menyusui.

Sebaiknya, penderita menghindari pemicu agar migrain tidak kambuh. Jika diperlukan, dokter dapat memberikan obat pereda sakit dosis rendah, seperti parasetamol.

Namun, sebelum minum obat, kamu harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu.

Artikel lainnya: Mengenal Jenis-jenis Migrain dan Cara Penanganannya 

Pencegahan

Ada beberapa cara untuk mencegah migrain, yaitu:

  • Kenali dahulu pemicu migrain, apakah stres atau makanan tertentu. Jika sudah tahu, sebisa mungkin hindarilah pemicunya
  • Menjalani gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bernutrisi seimbang, berolahraga teratur
  • Hindari makanan atau minuman yang diduga bisa memicu migrain, seperti kafein
  • Untuk wanita, karena migrain sering dikaitkan dengan perubahan hormon, sebaiknya hindari konsumsi obat-obatan yang mengandung hormon estrogen seperti pil KB

Komplikasi

Beberapa penderita migrain dapat mengalami komplikasi berupa: 

  • Stroke perdarahan, terutama pada penderita migrain yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan pembuluh darah
  • Gangguan psikologis, seperti depresi, panik, atau cemas
  • Gejala aura memanjang lebih dari 1 minggu
  • Status migrainosus, yaitu kondisi migrain parah yang berlangsung leboh dari 72 jam
  • Kejang akibat migrain yang terjadi saat migrain muncul

Kapan Harus ke Dokter?

Segeralah berkonsultasi dengan dokter apabila:

  • Frekuensi gejala migrain cukup sering dialami
  • Tingkat keparahan gejala tidak lagi dapat diatasi dengan mengonsumsi obat pereda sakit yang dijual bebas. Konsumsi obat pereda sakit juga harus sesuai petunjuk. Jika dikonsumsi terlalu banyak, tubuh akan menjadi kebal terhadapnya
  • Migrain muncul lebih dari lima hari dalam sebulan, meskipun kamu sudah mencoba mengontrolnya dengan obat-obatan

Kamu pun harus waspada karena sakit kepala sering kali merupakan gejala awal dari penyakit yang lebih serius, seperti stroke atau radang otak. 

Kamu perlu waspada jika sakit kepada diiringi dengan gejala berikut:

  • Kesulitan bicara
  • Sakit kepala tak tertahankan yang tidak pernah dialami sebelumnya
  • Sakit kepala yang disertai demam tinggi, leher kaku, kebingungan, kejang, penglihatan ganda, dan ruam
  • Lengan atau wajah, sebagian atau seluruhnya, lumpuh atau terasa lemas

Diskusikan masalah kesehatanmu hanya di Tanya Dokter. Yuk, konsultasi sekarang, jangan tunggu sakit! Ingat, #JagaSehatmu ya.

[HNS/NM]

Tanya Dokter