Masalah Reproduksi Wanita

Dispareunia

dr. Marsita Ayu Lestari, 29 Sep 2023

Ditinjau Oleh

Dispareunia adalah nyeri berulang pada kelamin atau panggul yang terjadi sebelum, selama, atau setelah berhubungan seksual. Kondisi ini mengganggu aktivitas seks dan kesehatan mental penderitanya.

Dispareunia

Dispareunia (Painful Sex)

Dokter spesialis

kolaborasi antar multidisiplin kedokteran bergantung pada penyebab dan kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan

Gejala

nyeri sebelum, selama, atau setelah berhubungan seksual, nyeri dirasakan secara terus-menerus atau berulang, bentuk nyeri bervariasi, seperti terbakar, nyeri dalam, atau nyeri tajam, kram panggul, nyeri di vagina atau leher rahim ketika penetrasi (wanita), nyeri ketika ereksi (pria)

Faktor risiko

wanita lebih sering mengalami dispareunia dari pada pria, pria yang tidak disunat mungkin lebih berisiko mengalami dispareunia dibandingkan pria yang disunat, wanita yang mengonsumsi pil KB yang mengandung progestin atau estrogen, wanita yang mengalami robekan perineum pasca melahirkan, stres, kecemasan tentang seks, riwayat pelecehan seksual, foreplay yang tidak memadai sebelum berhubungan seksual

Cara diagnosis

wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang

Pengobatan

bergantung penyebab dan kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan, edukasi, obat-obatan, operasi, terapi perilaku kognitif

Obat

bergantung penyebab dan kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan, OAINS, antijamur, antibiotik, terapi hormon estrogen pada menopause

Komplikasi

kehilangan minat seksual, kesulitan untuk hamil, depresi berat, kesulitan untuk mencapai orgasme

Kapan harus ke dokter?

terdapat gejala dan tanda dispareunia

Pengertian Dispareunia

Dispareunia atau painful sex adalah nyeri di daerah kelamin atau panggul secara berulang atau terus-menerus yang terjadi sebelum, selama, atau setelah berhubungan seksual.

Kondisi ini dapat dialami oleh pria maupun wanita. Namun, lebih sering dialami oleh wanita. Rasa nyerinya bervariasi dari ringan hingga berat.

Bila tidak memperoleh penanganan secara efektif, kondisi ini berisiko menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental. Misalnya, berkurangnya minat untuk berhubungan seksual, kesulitan untuk hamil, dan depresi.

Artikel Lainnya: Gejala Vaginismus dan Pengobatan untuk Mengatasinya

Jenis Dispareunia

Dispareunia dikelompokkan menjadi dispareunia dangkal (superficial dyspareunia) dan dispareunia dalam (deep dyspareunia).

  • Dispareunia dangkal adalah nyeri yang dirasakan ketika penis memasuki vagina atau di pintu masuk vagina.
  • Dispareunia dalam adalah nyeri yang terjadi ketika penis berada di dalam vagina (penetrasi dalam). Perluasan nyeri dirasakan ke bagian dalam vagina atau panggul bawah.

Selain itu, dispareunia dibagi menjadi dispareunia primer dan sekunder.

  • Dispareunia primer adalah nyeri dirasakan pada awal hubungan seksual.
  • Dispareunia sekunder adalah nyeri terjadi saat seks yang sebelumnya tidak terasa sakit.

Penyebab Dispareunia

Penyebab dispareunia meliputi faktor organik dan faktor emosional. Faktor organik berhubungan dengan jaringan atau organ yang menyebabkan keluhan, seperti peradangan, infeksi, dan keganasan. Sementara, faktor emosional berhubungan dengan masalah kejiwaan.

Penyebab Dispareunia pada Pria

  • Peradangan penis
  • Uretritis (peradangan pada uretra, yakni saluran yang mengalirkan urine dari kandung kemih menuju lubang kencing)
  • Prostatitis (peradangan kelenjar prostat)
  • Sistitis (peradangan kandung kemih)
  • Gonore atau kencing nanah (infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae)
  • Penyakit Peyronie (bentuk penis yang bengkok akibat jaringan parut pada penis)
  • Penggunaan antidepresan

Penyebab Dispareunia pada Wanita

1. Kelainan Anatomi (Struktur) Vagina

Painful sex dapat disebabkan oleh kelainan struktur vagina sejak lahir, seperti:

  • Atresia vagina bagian bawah (vagina bagian bawah tidak berkembang dengan sempurna)
  • Septum vagina (sekat jaringan yang memisahkan vagina menjadi dua bagian).

Selain itu, endometriosis juga menjadi penyebab dispareunia. Penyakit endometriosis adalah kelainan ketika jaringan yang melapisi dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rongga rahim, misalnya di indung telur dan tuba falopi.

2. Hormon

Estrogen merupakan hormon steroid yang berhubungan dengan organ reproduksi wanita. Hormon ini berperan pada pelumasan dan elastisitas mukosa (selaput lendir vagina). Penurunan kadar estrogen memengaruhi kejadian dispareunia pada kondisi menopause.

Di samping itu, penggunaan pil KB yang mengandung progestin atau estrogen dapat menyebabkan kekeringan, peradangan, dan pelumasan yang tidak memadai di vagina. Keadaan seperti ini memicu dispareunia.

3. Penyakit Kulit di Sekitar Vagina

Peradangan mukosa vagina yang berhubungan dengan penyakit kulit di sekitar vagina, seperti:

  • Lichen planus (peradangan kulit dan selaput lendir)
  • Lichen sclerosus (perubahan warna dan bercak kulit, yang umumnya menyerang kelamin)
  • Psoriasis (ruam disertai bercak yang gatal dan bersisik pada kulit).

4. Infeksi

Infeksi pada vagina atau panggul, seperti uretritis, vaginitis (peradangan pada vagina), gonore, infeksi trikomoniasis (infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis), dan kandidiasis vaginalis (infeksi pada vagina yang disebabkan oleh jamur Candida).

5. Tumor

Tumor di daerah vagina dan tumor fibroid di rahim juga menyebabkan dispareunia.

6. Trauma Fisik di Perineum

Trauma fisik di perineum (area antara alat kelamin dan anus) ketika melahirkan juga menyebabkan dispareunia.

7. Vaginismus

Vaginismus adalah ketegangan otot di sekitar vagina bila dimasuki oleh sesuatu. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti gangguan cemas, takut berhubungan seksual, dan robekan pada vagina.

Selain kondisi di atas, dispareunia pada pria dan wanita juga disebabkan oleh faktor emosional atau masalah psikososial, misalnya, kecemasan, depresi, atau riwayat pelecehan seksual.

Faktor Risiko Dispareunia

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko dispareunia, yaitu:

  • Wanita lebih sering mengalami dispareunia dari pada pria.
  • Pria yang tidak disunat mungkin lebih berisiko mengalami dispareunia dibandingkan pria yang disunat.
  • Wanita yang mengonsumsi pil KB yang mengandung progestin atau estrogen.
  • Wanita yang mengalami robekan perineum pasca melahirkan.
  • Stress.
  • Kecemasan tentang seks.
  • Riwayat pelecehan seksual.
  • Foreplay yang tidak memadai sebelum berhubungan seksual.

Gejala Dispareunia

Gejala dispareunia bervariasi pada pria dan wanita. Kondisi ini bergantung pada kondisi yang mendasari. Secara umum, gejala dispareunia, meliputi:

  • Nyeri sebelum, selama, atau setelah berhubungan seksual.
  • Nyeri dirasakan secara terus-menerus atau berulang.
  • Bentuk nyeri bervariasi, seperti terbakar, nyeri dalam, atau nyeri tajam.
  • Kram panggul.
  • Pada wanita, gejala berupa nyeri di vagina atau leher rahim, ketika penis memasuki vagina (penetrasi).
  • Pada pria, gejala berupa nyeri ketika ereksi.

Artikel lainnya: 10 Penyebab Vagina Nyeri dan Sakit yang Harus Diwaspadai

Diagnosis Dispareunia

Dokter akan menentukan diagnosis dispareunia melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Dokter akan menanyakan keluhan, riwayat penyakit, riwayat mengonsumsi pil KB, riwayat persalinan, riwayat haid, riwayat ketika berhubungan seksual, riwayat sunat pada pria, dan faktor risiko lainnya.

Dokter juga melakukan pemeriksaan fisik umum dan lokal. Ini meliputi pemeriksaan di daerah kelamin, anus, dan panggul untuk mengidentifikasi tanda dan penyebab dispareunia.

Pada wanita, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan bantuan spekulum untuk memeriksa kondisi serviks (leher rahim).

Selain itu, pemeriksaan bimanual untuk mengidentifikasi benjolan atau kista pada organ penyokong rahim (tuba falopi, indung telur, jaringan sekitar) dan benjolan pada rahim.

Pada pria, dokter akan melakukan pemeriksaan penis. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi kelengkungan yang tidak normal pada penis. Di samping itu, dokter juga memeriksa daerah anus dan kekuatan otot anus (tonus sfingter ani).

Dokter juga akan mempertimbangkan pemeriksaan penunjang yang disesuaikan dengan hasil wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Berikut pemeriksaan penunjang yang dipertimbangkan:

1. Ultrasonografi (USG) Transvaginal

USG transvaginal berguna untuk memeriksa organ reproduksi wanita (vagina, rahim, organ penyokong rahim). Prosedur ini merupakan pemeriksaan pencitraan dengan menggunakan gelombang suara.

2. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan kadar keasaman (pH vagina) pada wanita dan penyebab yang dicurigai, seperti infeksi menular seksual pada pria dan wanita.

3. Pap Smear

Pap Smear adalah pemeriksaan untuk mengidentifikasi kanker serviks pada wanita. Metodenya dengan mengambil sampel sel serviks untuk diperiksa di laboratorium.

4. Kolposkopi

Tes kolposkopi adalah pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan pada vagina dan rahim. Biasanya pemeriksaan ini dipertimbangkan bila tes Pap Smear menunjukkan hasil yang tidak normal.

Artikel lainnya: 4 Pilihan Obat Kuat Agar Tahan Lama saat Berhubungan Seksual

Pengobatan Dispareunia

Cara mengatasi dispareunia adalah berobat ke dokter. Secara umum, pengobatan dispareunia melibatkan kolaborasi antar multidisiplin kedokteran bergantung pada penyebab dan kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan. Misalnya, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, spesialis urologi, dan spesialis kedokteran jiwa.

Berikut metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi dispareunia:

1. Edukasi

Penderita dispareunia masih boleh berhubungan seksual dengan memperhatikan kondisi medis yang mendasari. Namun, hubungan seksual pada penderita dispareunia sebaiknya dihindari terlebih dahulu sampai pengobatan selesai.

Penderita juga akan menerima nasihat dari dokter berupa penanganan nyeri yang mungkin memerlukan waktu lama, kemungkinan nyeri yang tidak sembuh sepenuhnya, dan pilihan pengobatan.

2. Obat-obatan

Berikut obat yang diresepkan oleh dokter untuk mengobati dispareunia:

  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen, naproxen, natrium diklofenak, dan COX-2 inhibitors (celecoxib, etoricoxib) untuk mengurangi keparahan nyeri dan peradangan.
  • Antijamur, seperti ketoconazole atau fluconazole untuk mengobati infeksi jamur.
  • Antibiotik, seperti golongan sefalosporin (cefixime, ceftriaxone) atau golongan aminoglikosida (gentamisin, kanamisin) untuk mengobati infeksi bakteri.
  • Terapi hormon estrogen, seperti estrogen topikal untuk mengobati dispareunia wanita menopause.

3. Operasi

Tindakan operasi dipertimbangkan pada wanita endometriosis atau kelainan struktur vagina. Selain itu, operasi dipertimbangkan pada pria yang menderita penyakit Peyronie.

4. Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif bermanfaat untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan terkait dispareunia.

Pencegahan Dispareunia

Upaya pencegahan dispareunia berhubungan dengan penyebab dan faktor risiko yang mendasari. Berikut upaya pencegahan dispareunia:

  • Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • Menggunakan kondom untuk mengurangi risiko infeksi menular seksual.
  • Bagi penderita infeksi menular seksual, seperti kencing nanah, sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual hingga pengobatan selesai.
  • Melakukan foreplay yang memadai sebelum berhubungan seksual.
  • Menunggu sekurang-kurangnya 6 minggu untuk berhubungan seksual kembali pascapersalinan.
  • Mengelola stres dengan baik.

Komplikasi Dispareunia

Bila tidak ditangani secara efektif, maka dispareunia berisiko menimbulkan komplikasi. Berikut komplikasi dispareunia yang mungkin terjadi:

  • Kehilangan minat seksual
  • Kesulitan untuk hamil
  • Depresi berat
  • Anorgasmia (kesulitan untuk mencapai orgasme)

Kapan Harus ke Dokter ?

Sangat penting untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang tepat untuk kondisi dispareunia. Segera ke dokter, bila kamu mengalami gejala dan tanda di atas.

Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang cara mengatasi dispareunia, yuk #JagaSehatmu dengan download aplikasi KlikDokter! Manfaatkan layanan konsultasi kesehatan 24 jam langsung dengan dokter melalui fitur Tanya Dokter online.

Terakhir diperbarui: 24 September 2023

(APR)

  1. Tayyeb M, Gupta V. Dyspareunia. StatPearls [Internet]. 2023. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562159/ Diakses 24 Sept 2023.
  2. Hämmerli S, Kohl-Schwartz A, Imesch P, Rauchfuss M, Wölfler MM, Häberlin F, von Orelli S, Leeners B. Sexual satisfaction and frequency of orgasm in women with chronic pelvic pain due to endometriosis. The journal of sexual medicine. 2020. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1743609520309206 Diakses 24 Sept 2023.
  3. Brown J, Crawford TJ, Allen C, Hopewell S, Prentice A. Nonsteroidal anti‐inflammatory drugs for pain in women with endometriosis. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017.
  4. Cleveland Clinic. Dyspareunia (Painful Intercourse). 2021. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12325-dyspareunia-painful-intercourse Diakses 24 Sept 2023.
  5. O’Malley D, Higgins A, Begley C, Daly D, Smith V. Prevalence of and risk factors associated with sexual health issues in primiparous women at 6 and 12 months postpartum,  a longitudinal prospective cohort study (the MAMMI study). BMC pregnancy and childbirth. 2018.
  6. JG Hellstrom W, Delay K. Male Dyspareunia. UpToDate. 2021. https://www.uptodate.com/contents/male-dyspareunia Diakses 24 Sept 2023.
  7. Guo L. Dyspareunia: What Is It, Causes, Signs, Symptoms, and More. OSMOSIS from ELSEVIER. https://www.osmosis.org/answers/dyspareunia Diakses 24 Sept 2023.
  8. Mitchell KR, Geary R, Graham CA, Datta J, Wellings K, Sonnenberg P, Field N, Nunns D, Bancroft J, Jones KG, Johnson AM. Painful sex (dyspareunia) in women: prevalence and associated factors in a British population probability survey. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology. 2017.
  9. Hurt K, Zahalka F, Zikan M, Rackova J, Rakovicova I, Rakovic J, Halad M. Hypoxia as a potential cause of dyspareunia. Plos one. 2023.
  10. Wahl KJ, Orr NL, Lisonek M, Noga H, Bedaiwy MA, Williams C, Allaire C, Albert AY, Smith KB, Cox S, Yong PJ. Deep dyspareunia, superficial dyspareunia, and infertility concerns among women with endometriosis: A cross-sectional study. Sexual Medicine. 2020.
  11. De Graaff AA, Van Lankveld J, Smits LJ, Van Beek JJ, Dunselman GA. Dyspareunia and depressive symptoms are associated with impaired sexual functioning in women with endometriosis, whereas sexual functioning in their male partners is not affected. Human reproduction. 2016.
  12. Alizadeh A, Farnam F. Coping with dyspareunia, the importance of inter and intrapersonal context on women’s sexual distress: a population-based study. Reproductive Health. 2021.
  13. Sorensen J, Bautista KE, Lamvu G, Feranec J. Evaluation and treatment of female sexual pain: a clinical review. Cureus. 2018.