Masalah Reproduksi Wanita

Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi jaringan lapisan dalam rahim (endometrium) ditemukan di bagian tubuh lain. Ini penyebab, gejala, dan pengobatannya.

Endometriosis

Endometriosis 

Dokter spesialis Spesialis obstetri dan ginekologi
Gejala Nyeri haid hebat, volume haid banyak, nyeri punggung bawah atau sekitar panggul, nyeri saat BAB/BAK, sulit hamil
Faktor risiko Belum pernah melahirkan, haid pertama sebelum usia 12 tahun, riwayat keluarga, gangguan sistem imun, ada kelainan organ reproduksi
Cara diagnosis Wawancara medis, pemeriksaan fisik (pemeriksaan panggul), pemeriksaan penunjang (USG, laparaskopi, MRI, biopsi, laboratorium)
Pengobatan Obat-obatan dan tindakan bedah
Obat Kontrasepsi hormonal (misal pil KB, KB suntik), terapi progestin, aromatase inhibitor, GnRh agonist dan antagonist
Komplikasi Infertilitas, kanker ovarium, adhesi
Kapan harus ke dokter? Segera jika mengalami keluhan nyeri haid hebat disertai dengan volume haid yang berlebihan, mengganggu aktivitas sehari-hari

Pengertian

Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan lapisan dalam rahim (endometrium) ditemukan pada bagian tubuh lain.

Endometrium dapat ditemukan pada banyak tempat, seperti ovarium, tuba falopi, dinding luar dari rahim, dalam perut atau sekitar usus, dan juga kandung kemih.

Penyakit ini umumnya terjadi pada anak perempuan dan wanita usia subur. Meski jarang, endometriosis dapat terjadi pada wanita yang sudah menopause.

Berdasarkan the American Society Reproductive Medicine, endometriosis diklasifikasikan menjadi beberapa empat stadium, yaitu:

  • Stadium 1 atau minimal: terdapat beberapa jaringan atau lesi yang ditemukan di organ atau di dinding panggul atau perut.
  • Stadium 2 atau ringan: terdapat jaringan atau lesi yang lebih banyak dibandingkan stadium 1, tapi melekat lebih dalam, ditemukan pula adanya jaringan parut.
  • Stadium 3 atau sedang: pada stadium ini, jaringan endometrium ditemukan lebih banyak dan melekat lebih dalam. Selain itu, ditemukan juga kista berukuran kecil pada salah satu atau kedua indung telur. Ditemukan juga adanya adhesi atau perlekatan antar jaringan.
  • Stadium 4 atau berat: pada tahapan ini, jaringan endometrium sudah meluas dan ditemukan menempel lebih dalam dengan disertai adanya adhesi yang tebal dan juga kista ukuran besar pada kedua indung telur.

Artikel Lainnya: 5 Tips Mencegah Penyakit Endometriosis

Penyebab

Hingga kini, penyebab endometriosis masih belum diketahui pasti. Beberapa teori mengungkapkan beberapa hal yang berkontribusi terhadap endometriosis, seperti:

1. Retrograde Menstruation

Adalah kondisi ketika darah menstruasi yang mengandung sel-sel endometrial mengalir kembali melewati tuba falopi (saluran indung telur) dan masuk ke dalam rongga panggul.

Seharusnya darah menstruasi ini keluar dari tubuh melalui vagina. Akibatnya, sel-sel endometrial melekat pada dinding panggul dan permukaan organ panggul.

Sel-sel ini pada akhirnya terus tumbuh, menebal, hingga menyebabkan perdarahan selama siklus menstruasi.

2. Transformasi Sel Peritoneum

Dikenal sebagai teori induksi, dimana penyebab endometriosis diduga akibat perubahan hormon maupun sistem kekebalan yang mendorong terjadinya perubahan sel-sel peritoneum.

Peritoneum sendiri adalah selaput yang melapisi bagian dalam perut.

3. Perubahan Sel Embrio

Perubahan hormon, seperti estrogen, dapat mengubah sel embrio, yaitu sel-sel yang belum matang menjadi sel endometrium di masa pubertas.

4. Gangguan Kekebalan Tubuh

Masalah gangguan sistem imun atau kekebalan tubuh juga bisa menjadi salah satu penyebab endometriosis.

Pada kondisi ini, sistem imun tubuh gagal mengenali dan menyerang jaringan mirip endometrium yang tumbuh di luar rahim.

5. Perpindahan Sel Endometrium

Penyebab endometriosis lainnya juga diduga dari adanya perpindahan sel-sel endometrium ke bagian tubuh lainnya melalui pembuluh darah maupun sistem limfatik (kelenjar getah bening). 

6. Akibat Operasi

Setelah melakukan operasi ,misalnya histerektomi maupun operasi caesar, sel-sel endometrium bisa menempel pada bekas sayatan. Akibatnya, endometriosis pun bisa terjadi.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan seseorang mengalami endometriosis, antara lain:

  • Tidak pernah melahirkan
  • Menstruasi pertama di usia yang muda (sebelum usia 12 tahun)
  • Terlambat mengalami menopause
  • Siklus menstruasi yang pendek
  • Mengalami menstruasi yang lama, lebih dari 7 hari
  • Memiliki kadar hormon estrogen tinggi atau terpapar estrogen dalam jangka waktu lama
  • Riwayat keluarga dengan endometriosis
  • Adanya kondisi medis yang menyebabkan darah menstruasi terhambat untuk keluar dari tubuh
  • Adanya kelainan pada organ reproduksi
  • Adanya gangguan sistem imun

Artikel Lainnya: Apakah Penderita Endometriosis Bisa Hamil?

Gejala

Gejala endometriosis dapat bervariasi. Beberapa wanita bahkan dapat merasakan gejala yang parah hingga tidak dapat beraktivitas normal, bahkan sampai depresi. Namun, banyak juga yang justru tidak merasakan gejala apa pun.

Beberapa gejala dari endometriosis secara umum, yakni:

  • Nyeri haid yang hebat dan tidak membaik dengan obat antinyeri
  • Darah menstruasi yang banyak sampai perlu sering mengganti pembalut
  • Nyeri di area punggung bawah atau panggul yang dapat dirasakan hanya saat haid atau terus-menerus
  • Nyeri ketika dan setelah berhubungan seksual (dyspareunia)
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman ketika BAB/BAK
  • Mual, perut bergas, diare, ataupun konstipasi selama menstruasi
  • Perdarahan di luar siklus menstruasi
  • Merasa lelah setiap saat
  • Sulit hamil

Nyeri haid memang sangat umum terjadi. Namun, bagi wanita yang memiliki endometriosis, nyeri haid yang dialami bersifat berat dan intensitasnya bertambah seiring waktu.

Akan tetapi, berat-tidaknya nyeri haid bukan penentu seberapa parah endometriosis. Terkadang, endometriosis ringan bisa menimbulkan nyeri yang hebat, begitu juga sebaliknya.

Diagnosis

Endometriosis cukup sulit untuk didiagnosis karena gejalanya bervariasi dan banyak penyakit lain dengan gejala serupa.

Untuk itu, dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) akan melakukan wawancara medis secara terperinci untuk mengetahui gejala apa saja yang muncul.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan panggul. Pemeriksaan panggul ini berguna untuk mendeteksi ada tidaknya masalah pada organ reproduksi.

Dokter akan menggunakan sarung tangan yang sudah diberikan pelumas, kemudian memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina, sembari salah satu tangan meraba perut pasien.

Di bagian akhir pemeriksaan, dokter akan melakukan pemeriksaan area rektum dan vagina secara bersamaan.

Beberapa pemeriksaan penunjang juga diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis endometriosis. Adapun pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium, seperti darah lengkap, bisa dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, seperti radang panggul dan melihat seberapa parah kehilangan darah yang dialami.

Selain itu, pemeriksaan urinalisis dan kultur urin bisa dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi saluran kemih.

Pemeriksaan gram dan kultur serviks bisa dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan nyeri panggul dan masalah gangguan kesuburan akibat infeksi menular seksual.

2. USG Transvaginal

Pemeriksaan dengan menggunakan USG transvaginal bisa membantu untuk melihat ada tidaknya sel endometrium yang tumbuh di luar rahim.

Sesuai dengan namanya, pemeriksaan ini menggunakan alat USG yang dimasukkan ke dalam vagina.

3. MRI

Pemeriksaan MRI membantu memberikan gambaran lebih rinci terkait kondisi organ dan jaringan di dalam tubuh, termasuk membantu memberikan informasi terkait lokasi dan ukuran sel endometrium.

4. Laparoskopi

Laparoskopi dijadikan sebagai salah satu pemeriksaan penunjang utama yang dilakukan dalam membantu menegakkan diagnosis endometriosis.

Tindakan ini termasuk dalam prosedur invasif, meski secara umum memiliki angka sensitivitas 97 persen tetapi spesifisitasnya hanya 77 persen.

Laparoskopi membantu melihat kondisi perut pasien sehingga dokter mendapatkan informasi terkait letak dan ukuran sel endometrium yang berada di luar rahim.

Selain itu, laparoskopi bisa sekaligus mengambil sampel jaringan untuk dilakukan biopsi.

5. Biopsi

Pemeriksaan biopsi dari sampel jaringan yang diambil dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis endometriosis.

Pada gambaran histologi endometriosis ditemukan kombinasi kelenjar endometrium dan stroma.

Artikel Lainnya: Ibu Hamil dengan Endometriosis, Begini Cara Penanganannya

Pengobatan

Pengobatan endometriosis umumnya melibatkan pemberian obat-obatan dan tindakan bedah.

Terapi ini bersifat untuk membantu mengurangi gejala, membantu meningkatkan kesuburan sehingga bisa hamil, dan mencegah terjadinya komplikasi.

Pengobatan endometriosis dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Untuk itu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sehingga pengobatan yang dilakukan bisa lebih tepat.

Beberapa obat yang biasanya digunakan pada pasien endometriosis meliputi:

1. Obat Antinyeri

Dokter dapat memberikan obat antinyeri untuk mengurangi keluhan nyeri saat menstruasi. Beberapa contoh obat antinyeri yang dapat dibeli bebas, misalnya ibuprofen dan paracetamol.

2. Terapi Hormon

Pemberian terapi hormon terkadang dapat membantu mengurangi nyeri akibat endometriosis.

Terapi hormon membantu memperlambat pertumbuhan jaringan endometrium dan menghambat pertumbuhan jaringan yang baru.

Meski demikian, terapi hormon tidak selamanya membantu mengatasi endometriosis. Kamu bisa saja mengalami keluhan yang sama apabila menghentikan terapi ini.

Beberapa terapi hormon yang digunakan untuk endometriosis, antara lain:

  • Kontrasepsi hormonal, seperti pil KB, KB suntik, dan implant. Alat kontrasepsi hormonal bisa membantu memperlambat pertumbuhan sel endometrium dan meringankan nyeri.
  • Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonist and antagonist. Ini adalah obat untuk menghambat produksi hormon stimulasi ovarium sehingga menurunkan kadar estrogen sehingga menyerupai menopause.
  • Terapi progestin membantu menghentikan menstruasi sehingga menghambat pertumbuhan sel endometrium sekaligus membantu meringankan gejala endometriosis.
  • Aromatase inhibitors. Golongan obat ini membantu mengurangi kadar estrogen dalam tubuh. Biasanya, dokter akan memberikan obat ini dan dikombinasikan dengan terapi progestin atau kontrasepsi hormonal.

Artikel Lainnya: Sering Makan Nanas Bisa Picu Kista Ovarium?

3. Tindakan Operasi

Jika penderita endometriosis ingin hamil, tindakan pembedahan untuk menyingkirkan jaringan endometriosis bisa dilakukan untuk meningkatkan peluang kehamilan.

Ada beberapa pilihan tindakan operasi yang dapat dilakukan:

  • Laparoskopi

Secara umum, endometriosis dapat dilakukan dengan tindakan laparoskopi. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasukkan instrumen bedah melalui tiga sayatan kecil di sekitar pusar.

Dengan menggunakan instrumen ini, dokter akan mengangkat jaringan endometrium. Setelah itu, sayatan kecil akan ditutup.

Setelah operasi, dokter dapat memberikan terapi hormon untuk membantu mengurangi rasa nyeri.

  • Laparotomi

Jika tidak memungkinkan menggunakan teknik laparoskopi, prosedur laparotomi bisa dilakukan.

Biasanya, metode ini dilakukan pada kasus endometriosis yang lebih parah, seperti ukuran endometriosis yang besar.

Pada laparotomi, dokter akan membuat sayatan lebih besar di area perut untuk membantu mengangkat jaringan endometriosis yang menempel di organ-organ yang terkena.

  • Histerektomi

Tindakan histerektomi, yaitu pengangkatan rahim, leher rahim, dan kedua indung telur (ovarium) menjadi pilihan terakhir untuk mengatasi endometriosis.

Tindakan ini membantu mengurangi keluhan perdarahan yang hebat selama menstruasi dan mengurangi nyeri.

Namun, melakukan tindakan histerektomi dapat menyebabkan menopause dini dan membuat pasien tidak bisa hamil lagi.

Pencegahan

Penyakit endometriosis sulit untuk dicegah. Meski demikian, risiko berkembangnya endometriosis bisa dikurangi dengan melakukan beberapa hal, seperti:

  • Berolahraga secara rutin
  • Menghindari kebiasaan buruk seperti konsumsi minuman beralkohol, terlalu banyak mengonsumsi kafein
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal
  • Berkonsultasi dengan dokter terkait kontrasepsi yang akan digunakan

Artikel lainnya: Bahan Makanan yang Baik untuk Penderita Endometriosis

Komplikasi

Endometriosis dapat menyebabkan komplikasi apabila tidak ditangani dengan baik. Berikut komplikasi endometriosis yang sering muncul.

1. Masalah Infertilitas

Masalah kesuburan atau infertilitas menjadi salah satu komplikasi tersering dari endometriosis.

Infertilitas dapat terjadi karena tertutupnya saluran indung telur akibat endometriosis, karena itulah sel telur dan sperma tidak bisa bertemu.

2. Kanker Ovarium

Wanita yang memiliki endometriosis rentan berisiko lebih tinggi untuk mengalami kanker ovarium.

3. Perlengketan Jaringan atau Adhesi

Jaringan endometriosis bisa membuat perlengketan antara satu organ dengan organ yang lain.

4. Terbentuknya kista ovarium

Kista ovarium adalah kista yang berisi cairan di indung telur dan dapat berukuran besar serta menyebabkan nyeri.

Kondisi ini mungkin bisa terjadi apabila jaringan endometriosis tumbuh di sekitar indung telur.

Kapan Harus Ke Dokter?

Segera ke dokter apabila muncul tanda dan gejala yang dicurigai mengarah ke endometriosis, terutama jika nyeri hebat saat menstruasi dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dengan melakukan pemeriksaan sedini mungkin, kamu bisa mendapatkan terapi yang sesuai dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.

Manfaatkan fitur Tanya Dokter dan Temu Dokter untuk konsultasi langsung seputar masalah kesehatan kamu.

Kamu juga bisa booking layanan kesehatan dengan fitur Layanan Medis dan Lab. Jangan lupa juga download aplikasi KlikDokter.

Yuk, #JagaSehatmu. Jangan tunggu sakit!

[HNS/NM]

  • Endometriosis - Symptoms and causes. (2018). Retrieved 11 August 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/endometriosis/symptoms-causes/syc-20354656
  • (2022). Retrieved 11 August 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/endometriosis/
  • Endometriosis: Practice Essentials, Background, Pathophysiology. (2021). Retrieved 11 August 2022, from https://emedicine.medscape.com/article/271899-overview#a1
  • Endometriosis: What Are the Types and Stages?. (2020). Retrieved 11 August 2022, from https://www.webmd.com/women/endometriosis/endometriosis-types-stages