HomeGaya hidupPerawatan WanitaPenyebab Vagina Nyeri yang Harus Diwaspadai
Perawatan Wanita

Penyebab Vagina Nyeri yang Harus Diwaspadai

dr. Sara Elise Wijono MRes, 15 Mar 2022

Ditinjau oleh Tim Medis Klikdokter

Icon ShareBagikan
Icon Like

Ada berbagai hal yang bisa menyebabkan vagina terasa sakit, mulai dari kekeringan pada vagina hingga infeksi jamur. Simak selengkapnya di sini.

Penyebab Vagina Nyeri yang Harus Diwaspadai

Nyeri dapat muncul di berbagai area, termasuk vagina. Salah satu penyebab utama vagina terasa sakit adalah adanya infeksi, baik pada area kewanitaan maupun organ reproduksi. 

Di sisi lain, keluhan nyeri juga dapat muncul walaupun tidak ada infeksi yang terjadi. 

Jadi, apa sajakah penyebab rasa sakit pada vagina? Berikut beberapa kemungkinannya:

1. Herpes Genital

Wanita yang mengalami herpes umumnya merasakan sakit pada vagina, disertai adanya lenting maupun luka. Keluhan nyeri dapat semakin parah bila terkena air urine saat buang air kecil.

Herpes merupakan penyakit menular seksual yang dapat terjadi pada wanita maupun pria. Infeksi ini dapat menular walaupun tanpa berhubungan intim. 

Contoh penularannya yakni melalui seks oral ataupun kontak kulit-ke-kulit dengan orang yang terinfeksi. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus herpes.

Artikel Lainnya: Berbagai Penyakit dan Kelainan Vagina yang Perlu Diwaspadai

2. Infeksi Jamur

Meski tidak selalu memicu nyeri pada vagina, infeksi jamur biasanya membuat gatal dan kering pada vagina.

Namun, mungkin juga infeksi ini menimbulkan nyeri dan bengkak pada kemaluan. Keluhan dapat dirasakan semakin parah saat berhubungan intim atau buang air kecil.

Cara mencegahnya, usahakan area selangkangan tidak lembap karena dapat memicu infeksi jamur. 

Selain itu, biasakan selalu mengeringkan vagina setelah dibersihkan, mengenakan pakaian dalam berbahan katun, dan mengganti pakaian dalam bila berkeringat atau lembap.

3. Kekeringan pada Vagina

Vagina kering sering kali dianggap sebagai masalah wanita yang sudah menopause semata. Padahal, sebagian wanita yang mengonsumsi pil KB juga kerap mengalami kondisi tersebut.

Hal ini bisa menjadi penyebab vagina sakit, khususnya saat berhubungan seksual. 

Bila kamu merasa vagina tidak mengeluarkan cukup ‘pelumas’ sewaktu berhubungan seks, maka sebaiknya konsultasikan segera dengan dokter.

4. Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang melapisi rahim (endometrium) tumbuh di tempat lainnya. Penyakit ini termasuk penyebab vagina sakit yang tidak disebabkan oleh infeksi. 

Keluhan yang paling sering muncul pada endometriosis adalah nyeri saat berhubungan intim dan nyeri haid. Umumnya, semakin lama nyeri akan semakin parah.

Beberapa keluhan lainnya yang dapat muncul meliputi nyeri saat buang air kecil maupun buang air besar, lemas, mual, sembelit, atau bahkan diare

Endometriosis sebaiknya tidak disepelekan. Pasalnya, penyakit ini dapat menyebabkan gangguan kesuburan pada wanita.

Artikel Lainnya: Tips Menghilangkan Nyeri di Vagina Usai Melahirkan

5. Vulvodynia

Vulvodynia merupakan rasa nyeri pada bibir kemaluan (vulva), yang dapat berlangsung selama tiga bulan atau bahkan lebih. Hingga kini, penyebab vulvodynia belum terlalu jelas. 

Selain nyeri, dapat dirasakan pula sensasi gatal, terbakar, menyengat, atau nyeri berdenyut pada kemaluan.

6. Kista Bartholin

Kelenjar Bartholin terletak di kedua sisi mulut vagina. Fungsinya adalah menghasilkan cairan untuk melubrikasi area vagina. 

Kista Bartholin terjadi bila terdapat sumbatan pada kelenjar tersebut. Akibatnya, hal ini dapat menimbulkan benjolan yang terasa nyeri.

Bila kista ini muncul, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah kompres hangat untuk mengurangi bengkak. Lalu, konsumsi juga obat antinyeri untuk membuat kamu merasa nyaman. 

Namun pada beberapa kasus, khususnya bila kista Bartholin terinfeksi dan berisi nanah, perlu dilakukan pembedahan untuk mengatasinya.

7. Trauma

Trauma bisa menjadi penyebab vagina sakit. Trauma dapat bersifat ringan, misalnya luka atau lecet akibat bercukur atau menggunting bulu kemaluan. 

Kegiatan seksual juga bisa menyebabkan trauma. Begitu juga dengan proses persalinan, pembedahan, dan prosedur medis lainnya.

Keluhan ini umumnya tidak berlangsung lama. Seiring berjalannya hari, kondisi trauma akan semakin membaik atau berkurang keluhan nyerinya. 

Untuk mengurangi nyeri, kamu dapat minum obat-obatan antinyeri misalnya parasetamol atau ibuprofen.

Artikel Lainnya: Penyebab Vagina Bengkak Setelah Bercinta

8. Masalah pada Otot Dasar Panggul

Kerusakan pada otot dasar panggul bisa menjadi penyebab sakit pada daerah kewanitaan serta bagian tubuh lainnya, misalnya perut, punggung, dan area sekitarnya. 

Keluhan lain yang dapat muncul adalah inkontinensia urine

Beberapa faktor yang berkaitan dengan masalah pada otot dasar panggul, yaitu usia yang lebih lanjut, kehamilan, cedera akibat proses persalinan, atau episiotomi (prosedur medis untuk melebarkan jalan lahir saat persalinan).

9. Haid

Nyeri haid sering dikategorikan sebagai nyeri atau kram pada area perut bawah. 

Namun, nyeri juga bisa dirasakan pada area kewanitaan lainnya, misalnya kemaluan. Keluhan nyeri umumnya hanya berkaitan dengan masa menstruasi.

Nyeri haid dapat merupakan kondisi yang normal. Namun, hal ini bisa juga disebabkan oleh masalah kesehatan, misalnya endometriosis. 

Umumnya nyeri haid normal muncul pada beberapa hari pertama haid, tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, serta tidak semakin berat.

10. Dispareunia

Dispareunia adalah penyebab miss v perih saat berhubungan intim. Penyebabnya bisa karena banyak faktor, mulai dari penyakit tertentu, infeksi, masalah fisik maupun psikologis.

Rasa sakit pada vagina akibat dispareunia dapat muncul baik saat berhubungan intim maupun setelahnya.

Itulah beberapa penyebab vagina sakit yang perlu diwaspadai. Jika kamu mengalami nyeri pada vagina yang tidak hilang dengan sendirinya dan berlangsung berhari-hari, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Bila ingin konsultasi ke dokter seputar kesehatan organ intim, pakai layanan Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter.

[WA]

Vaginaorgan kewanitaan

Konsultasi Dokter Terkait