Sukses

Pengertian Loperamide

Loperamide adalah sediaan obat generik yang memiliki fungsi sebagai obat antidiare akut yang disebabkan oleh bakteri, virus yang masuk kedalam pencernaan. Loperamide bekerja dengan cara memperlambat gerakan saluran pencernaan, sehingga usus dapat banyak waktu untuk menyerap cairan dan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi dan membuat feses menjadi lebih padat. Loperamide juga berperan dalam mengurangi jumlah cairan yang keluar dan mengobati diare pada pasien yang memiliki penyakit radang usus. Penggunaan Loperamide sebaiknya tidak diberikan pada anak usia > 6 tahun tanpa anjuran dari Dokter.

Keterangan Loperamide

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antidiare
  • Kandungan: Loperamide HCL 2 mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Tablet
  • Farmasi: Ifars; Harsen; Combiphar; Holi Pharma; First Medifarma
  • Harga: Rp. 1.300 - Rp. 6.000/ Strip

Merk Dagang yang Beredar di Indonesia
Alphamid, Amerol, Antidia, Colidium, Diadium, Gradilex, Imodium, Inamid, Ipramid, Lopamid, Motilex, Primodiar, Rhomuz

Kegunaan Loperamide

Loperamide digunakan mengatasi diare akut, mengurangi jumlah cairan yang keluar dan mengobati diare pada pasien yang memiliki penyakit radang usus. Loperamide juga dapat digunakan untuk memperlambat pengeluaran fases pada pasien yang sedang mengalami pembuatan lubang baru (dubur) yang dihubungkan dengan usus halus.

Dosis & Cara Penggunaan Loperamide

Loperamide merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian dan penggunaannya harus menggunakan resep Dokter.

Dosis penggunaan Loperamide:
- Dosis awal pemakaian dewasa: 2 tablet
- Dosis selanjutnya: 1 tablet, dengan maksimal pemakaian 3x sehari
- Sebaiknya obat dikonsumsi setelah buang air besar.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 20-25 derajat Celcius.

Efek Samping Loperamide

Efek samping dari penggunaan obat ini biasanya, seperti :

  • Pusing
  • Terasa lemas
  • Menyebabkan kantuk
  • Menyebabkan konstipasi/sembelit
  • Kembung
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pada pencernaan

Overdosis

  • Gejala: depresi sistem saraf pusat (pingsan, kelainan koordinasi, mengantuk, miosis, hipertonia otot dan depresi pernapasan), sembelit, retensi urin, ileus, atau kejadian jantung, seperti pingsan, gangguan irama jantung dan serangan jantung.
  • Penatalaksanaan: Jika muntah terjadi secara spontan, dapat diberikan arang aktif. Jika belum terjadi muntah, dapat dilakukan pembilasan lambung dilanjutkan dengan pemberian arang aktif melalui selang lambung. Berikan pengobatan berulang nalokson sebagai penawar jika timbul gejala sistem saraf pusat. Pantau pasien dengan cermat selama setidaknya 48 jam untuk mendeteksi kemungkinan depresi sistem saraf pusat.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi:

  • Sembelit, distensi abdomen, ileus
  • Kolitis ulseratif akut, disentri akut yang ditandai dengan tinja berdarah dan demam tinggi
  • Enterokolitis bakterial yang disebabkan oleh Salmonella, Shigella, dan Campylobacter
  • Kolitis terkait antibiotik
  • Sakit perut tanpa diare
  • Anak-anak usia <12 tahun
  • Pasien yang berusia <18 tahun (pasien dengan sindrom iritasi usus besar)


Interaksi Obat

  • Penggunaan bersama dengan obat yang mengandung Ritonavir, akan dapat meningkatkan kadar obat Loperamide HCL dalam darah
  • Penggunaan Loperamide bersamaan dengan obat yang mengandung Cholestyramine dapat mengganggu penyerapan obat Lopamide.
  • Jika digunakan bersamaan dengan obat yang mengandung komposisi Metoclopramide, Cisapride dan Erythromycin dapat menurunkan efek dari obat Lopamide tersebut.

Kategori Kehamilan
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Loperamide HCl ke dalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Perhatian Menyusui
Tidak diketahui apakah didistribusikan melalui ASI. Gunakan dengan hati-hati dan tetap konsultasikan pada dokter.

Artikel
    Penyakit Terkait