Sukses

Pengertian Lansoprazole

Lansoprazole adalah kelompok obat penghambat pompa proton (proton pump inhibitor). Lansoprazole dapat menurunkan jumlah asam yang diproduksi di lambung. 

Selain itu, lansozaprole digunakan untuk mengobati dan mencegah tukak lambung, esofagitis erosif, dan kondisi lain yang melibatkan asam lambung yang berlebihan seperti sindrom Zollinger-Ellison.

Keterangan Lansoprazole

Sebelum mengonsumsi obat Lansoprazole, ada baiknya memperhatikan keterangan berikut:

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antasid, Obat Anti Refluks; Anti Ulserasi
  • Kandungan: Lansoprazole 30 mg
  • Bentuk: Kapsul
  • Satuan Penjualan: Kapsul
  • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Kapsul
  • Farmasi: Hexpharm; Nufarindo; Nulab; Graha Farma; Medikon; Bernofarm; Novell; Soho; Indofarma.
  • Merek dagang yang beredar di Indonesia: Lanvell, Lexid, Sopralan, Inhipraz, Lancid, Pysolan, Laz, Gastrolan, Digest, Lanpracid, Prazotec, Lanzogran.
  • Harga: Rp. 10.000 - Rp. 15.500/ Strip

Artikel Lainnya: Cara Mengatasi Nyeri di Ulu Hati Akibat Asam Lambung Naik

Kegunaan Lansoprazole

Lansoprazole digunakan untuk mengobati gangguan pada sistem pencernaan akibat produksi asam lambung yang terlalu banyak, seperti sakit maag dan tukak lambung.

Lansoprazole bekerja dengan mengurangi jumlah asam yang dihasilkan lambung, sehingga membantu meredakan gejala seperti mual, muntah, dan heartburn. 

Obat ini juga membantu menyembuhkan kerusakan pada lambung dan esofagus, serta dapat membantu mencegah kanker esofagus.

Dosis & Cara Penggunaan Lansoprazole

Lansoprazole adalah OBAT KERAS. Harus dengan resep dokter. Lansoprazole tersedia dalam bentuk kapsul. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien.

Aturan Penggunaan Lansoprazole:

Kondisi: Tukak lambung

  • Dosis 30 mg, 1 kali sehari, pada pagi hari selama 8 minggu.

Kondisi: Tukak duodenum

  • Dosis 30 mg, 1 kali sehari pada pagi hari selama 4 minggu. Pemeliharaan: 15 mg sehari.

Kondisi: Tukak lambung atau tukak duodenum karena OAINS (Obat Antiinflamasi nonsteroid)

  • Dosis 5-30 mg sekali sehari selama 4 minggu, dilanjutkan lagi selama 4 minggu jika tidak sepenuhnya sembuh.
  • Profilaksis, 15-30 mg sekali sehari.

Kondisi: Sindrom Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya)

  • Dosis awal 60 mg sekali sehari, selanjutnya disesuaikan dengan respons.
  • Dosis harian sebesar 120 mg atau lebih dibagi menjadi dua dosis lansoprazole.

Kondisi: Refluks gastroesofagal

  • Dosis 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh
  • Pemeliharaan 15-30 mg sehari.

Kondisi: Dispepsia karena asam lambung

  • Dosis 15-30 mg sehari pada pagi hari selama 2-4 minggu.

Lansoprazole sebaiknya diberikan pada perut kosong 1 atau 2 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan agar penyerapannya maksimal.

Artikel Lainnya: Kenali Penyakit yang Sering Menyerang Lambung

Efek Samping Lansoprazole

Obat Lansoprazole umumnya aman dikonsumsi bila sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter. Efek samping obat Lansoprazole yang mungkin terjadi selama penggunaan, antara lain:

  • Diare
  • Sakit perut
  • Mual kembung
  • Konstipasi (susah BAB)
  • Sakit kepala atau pusing
  • Kadar besi darah rendah
  • Gatal-gatal dan ruam
  • Insomnia
  • Hipomagnesemia
  • Osteoporosis

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala efek samping yang disebutkan di atas. Begitu pula bila Anda mengalami reaksi alergi obat, seperti ruam, pembengkakan pada bibir dan mata, atau kesulitan bernapas.

Artikel Lainnya: Puasa Bisa Sembuhkan Mag, Ini Fakta Medisnya

Kontraindikasi

Hindari penggunaan Lansoprazole bersamaan dengan obat rilpivirine dan atazanavir.

Interaksi Obat

Lansozaprole bisa berinteraksi dengan obat-obatan lainnya dan menimbulkan efek samping. Karena itu, beritahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan di bawah ini sebelum mengonsumsi lansoprazole:

  • Digoxin
  • Obat-obatan antijamur, seperti Itraconazole, ketoconazole atau posaconazole
  • Obat-obatan HIV
  • Obat antiepilepsi, seperti phenytoin
  • Antibiotik, seperti rifampicin
  • Obat pengencer darah, seperti clopidogrel
  • Antidepresan, seperti fluvoxamine

Kategori Kehamilan dan Menyusui

Kategori B: Studi pada hewan tidak menunjukkan adanya risiko pada janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.