Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Ayo, Cari Bantuan! Ini Tanda-Tanda Self Harm yang Harus Diketahui!

Ayo, Cari Bantuan! Ini Tanda-Tanda Self Harm yang Harus Diketahui!

Melukai orang lain memang dilarang, tapi, bukan berarti menyakiti diri (self harm) itu diperbolehkan. Kalau sudah ada tanda-tanda seperti ini, lebih baik cari bantuan, ya!

Kita sering diajarkan untuk tidak menyakiti orang lain. Alhasil, saat ada rasa tidak enak di dalam hati, kita justru menyembunyikannya. Bahkan, tak jarang ada orang yang menyakiti dirinya sendiri (self harm ataupun self injury) saat perasaan negatif muncul. Perilaku itu sebenarnya tak normal, lho!

Apa Itu Self Harm?

Buat yang belum akrab dengan istilah self harm, seperti yang sempat disinggung di atas, ini adalah perilaku menyakiti diri sendiri. Perilaku tersebut biasanya dilakukan oleh beberapa orang untuk mengatasi rasa tertekan dan luka emosional.

Nah, berbagai bentuk contoh self harm, antara lain memukul atau membenturkan diri sendiri ke dinding, menyayat tubuh dengan silet, pisau, atau pecahan beling, hingga meminum racun.

Tak cuma itu sebetulnya, orang yang ngebut di jalanan, mabuk minuman beralkohol, dan minum obat melebihi dosis, dapat digolongkan perilaku self harm. Hal “menakutkan” seperti itu dilakukan untuk menghukum diri sendiri dan melampiaskan emosi.

Artikel Lainnya: Ini Akibatnya Jika Kamu Benci Diri Sendiri!

1 dari 4 halaman

Mengapa Ada Orang yang Ingin Menyakiti Dirinya Sendiri?

Menanggapi soal perilaku self harm, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan, ada dua motif utama yang mendasarinya.

“Pertama, ketika perasaan negatif menumpuk terlalu lama, sementara si individu tidak mengerti cara mengatasinya dan tidak memiliki kerabat yang bisa dipercaya, ia cenderung melakukan self harm. Saat dia yang ‘sakit’ ini melukai diri sendiri, ada perasaan tenang dan senang. Senyawa di otak ternyata ikut memengaruhi,” jelas Psikolog Ikhsan.

“Mungkin awalnya, dia nggak langsung menyayat tubuh, ya. Orang biasanya awal-awal mencakar atau memukul tubuhnya sendiri dulu (tanpa alat). Barulah setelah itu, dia memakai benda, entah itu benda tajam atau benda tumpul. Perilaku self harm memang bisa memberikan rasa tenang. Tapi ingat, itu sifatnya hanya sementara dan berbahaya sekali,” dia melengkapi.

Orang yang menyakiti diri sendiri dengan motif di atas hingga menyebabkan self injury (cedera), akan berpikir, daripada dia menyusahkan orang lain, lebih baik dia melampiaskannya kepada dirinya saja.

Lalu, apa motif yang kedua? Ternyata, perilaku menyakiti diri sendiri juga bisa dilandasi oleh keinginan untuk mencari perhatian.

“Ini bisa buruk, tapi bisa juga baik. Orang bermotif ini biasanya akan memamerkan perilaku self harm-nya, baik itu di kehidupan nyata maupun di dunia maya. Dengan harapan, setelah dia melakukan hal tersebut, ia akan ditanya oleh lingkungan sekitarnya. Ketika dia mendapat perhatian itu, dia menjadi senang,” tutur Ikhsan.

Artikel Lainnya: Faris: Gagal Bunuh Diri Kini Aku Lebih Menghargai Arti Hidup

2 dari 4 halaman

Bagaimana Tanda-Tanda Self Harm?

Mungkin sulit untuk mendeteksi orang yang suka melukai diri sendiri. Itu karena, mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Namun, jika Anda menemukan tanda-tanda self harm di bawah ini, Anda bisa menawarkan pertolongan:

  • Ada bekas luka dengan pola yang sama dan berulang.
  • Selalu muncul luka baru, goresan, memar, atau bekas gigitan.
  • Terdapat bekas luka bakar.
  • Sering membawa atau menyimpan benda tajam.
  • Selalu mengenakan lengan panjang atau celana panjang meski dalam situasi yang panas (pengecualian untuk wanita berhijab).
  • Ketika ditanyai mengapa ada bekas luka atau memar, dia selalu mengatakan hal yang sama, misalnya terjatuh, terbentur, atau bentuk kecelakaan lainnya.
  • Tidak punya kerabat dekat dan suka menyendiri, orang ini biasanya sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.
  • Sering merasa tidak berharga dan mengunggah posting-an keputusasaan.
  • Sering cemas, depresi, dan menunjukkan ketidakstabilan emosional.
  • Menyukai quotes-quotes yang bertemakan depresi.

Artikel Lainnya: Dampak Depresi Bisa Picu Bunuh Diri, Kapan Harus Periksa ke Psikolog?

3 dari 4 halaman

Bagaimana Cara Mengatasi Perilaku Self Harm?

Menurut Psikolog Ikhsan, orang yang memiliki perilaku self harm atau self injury ini sebaiknya segera menemui tenaga profesional, bisa psikolog atau psikiater. Dengan menemui tenaga profesional, akar permasalahan bisa dicari tahu (pemicu awal).

“Umumnya, pemicunya berupa trauma. Kalau tak ditangani dengan tepat lewat terapi-terapi tertentu, trauma yang mendalam bisa berujung pada tindakan-tindakan negatif di kemudian hari, termasuk self harm atau self injury ini,” tuturnya.

“Andai kata belum bisa menemui psikolog atau psikiater, orang yang punya perilaku menyakiti dirinya sendiri harus punya pelampiasan emosi yang positif. Bentuk pelampiasan itu harus yang bisa mengeluarkan banyak emosi dan tenaga, misalnya olahraga,” saran Psikolog Ikhsan.

Olahraga pelepas emosi yang bisa dipilih adalah boxing (tinju), Anda tinggal beli samsak dan menggantungnya di tempat aman.

Bisa juga Anda lakukan jogging.  Bermain basket pun bisa dilakukan. Intinya, cari olahraga yang melelahkan. Setelah lelah, perasaan akan jauh lebih baik.

Perilaku gemar menyakiti diri sendiri alias self harm atau self injury tidak boleh berlangsung lama. Karena itu, saat tanda-tandanya terus muncul, beranikan diri untuk meminta pertolongan kepada psikolog atau psikiater, ya.

Jika masih ada pertanyaan lain seputar perilaku menyimpang atau gangguan mental, jangan sungkan untuk konsultasi langsung dengan psikolog dan dokter kami lewat fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter!

(OVI/AYU)

1 Komentar