Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Benarkah Berjemur di Bawah Matahari Bermanfaat untuk Mencegah Virus Corona?

Benarkah Berjemur di Bawah Matahari Bermanfaat untuk Mencegah Virus Corona?

Berjemur di bawah sinar matahari disebut-sebut bisa mencegah, bahkan membunuh virus corona yang kini jadi pandemi global. Bagaimana kebenarannya?

Mungkin Anda pernah membaca berita atau unggahan di media sosial, bahwa sinar matahari bisa bermanfaat untuk mencegah, bahkan membunuh virus corona. Sebelum buru-buru lari ke luar rumah untuk berjemur diri, cek dulu faktanya di sini.

Para figur publik di beberapa negara pernah menyinggung bahwa sinar matahari atau cuaca hangat dapat melindungi diri dan/atau mematikan virus corona strain baru, SARS-CoV-2 penyebab wabah COVID-19. Bahkan, hal ini juga pernah dikatakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

 

1 dari 3 halaman

Benarkah Berjemur Bisa Mencegah atau Membunuh Virus Corona?

Dilansir dari ABC, pakar penyakit pernapasan dari Universitas Teknologi Sydney, Australia, Prof. Brian Oliver mencoba meluruskan kabar tentang peran sinar matahari atau cuaca hangat dalam menangkal virus corona, khususnya dari aspek temperatur.

“Sebagai contoh, suhu tubuh Anda adalah 37 derajat Celsius dan kita tahu bahwa virus corona bisa bertahan pada suhu tersebut. Jadi, jika suhu di luar 37 atau 40 derajat Cescius, virus tersebut mungkin akan tetap hidup,” Prof. Brian menjelaskan.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

“Bila suhu mencapai 50 derajat Celsius, mungkin virus corona tak akan mampu bertahan. Tapi pertanyaannya, seberapa banyak tempat-tempat dengan suhu seperti itu?,” lanjutnya.

Meski demikian, Prof. Brian juga mengatakan bahwa suhu ekstrem mungkin bisa bermanfaat.

“Suhu ekstrem dipakai dalam bentuk sterilisasi di rumah sakit,” ujarnya. “Dan bila di luar cuaca sangat terik, radiasi ultraviolet dalam sinar matahari bisa membunuh virus. Pada dasarnya, ultraviolet dapat menghancurkan material genetik virus. Namun, tidak diketahui seberapa lama paparan yang dibutuhkan untuk bisa membunuh virus,” ia melanjutkan.

Ia berkesimpulan bahwa temperatur panas bisa bermanfaat. Namun, pada cuaca yang hangat, misalnya 37 derajat Celsius, tak akan bisa berbuat banyak untuk mencegah maupun membunuh virus corona.

Kalau menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), dari berbagai bukti yang ada, virus COVID-19 bisa ditularkan di semua area, termasuk daerah dengan cuaca panas dan lembap. Apa pun iklimnya, lakukan tindakan perlindungan jika Anda tinggal di, atau bepergian ke area yang melaporkan kasus penyakit tersebut.

WHO juga mengatakan, cara terbaik untuk melindungi diri dari COVID-19 adalah dengan sering cuci tangan. Dengan ini, Anda menghilangkan virus yang mungkin menempel di tangan dan menghindari infeksi yang bisa terjadi saat Anda menyentuh, mata, hidung, dan mulut.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

2 dari 3 halaman

Paparan Sinar Matahari Tetap Membawa Manfaat

Faktanya, berjemur di bawah sinar matahari tidak efektif dalam menangkal penularan virus corona. Hal ini disampaikan oleh dr. Sri Puspita kepada KlikDokter. Karena, menurutnya sinar matahari lebih efektif dalam memproduksi vitamin D yang dibutuhkan tubuh.

“Tubuh memproduksi vitamin D ketika terpapar sinar matahari. Vitamin D juga bisa didapat dari makanan dan suplemen. Vitamin ini sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh, seperti mencegah osteoporosis, depresi, dan membantu menurunkan berat badan,” dr. Sri menjelaskan.

Perlu diingat, kekurangan vitamin D dampaknya buruk bagi tubuh. Mulai dari ancaman terkena penyakit tulang, penurunan fungsi kognitif, serta rentan mengalami demensia di masa tua nanti.

Selain bisa meningkatkan produksi vitamin D dalam tubuh, berjemur dan beraktivitas di bawah sinar matahari pagi dibutuhkan untuk mengatur ritme tidur jadi teratur. Bila jam tidur berantakan, Anda bisa sulit fokus, sering lupa, rentan mengalami kecemasan, dan lebih mudah sakit karena daya tahan tubuh yang menurun.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

Jadi, secara tak langsung memang ada kaitan antara sinar matahari dan perlindungan tubuh terhadap ancaman berbagai penyakit, dalam hal mengatur siklus tidur jadi lebih teratur.

Aktivitas tersebut juga dipercaya mampu meningkatkan produksi hormon serotonin.

“Paparan sinar matahari memengaruhi produksi serotonin, yaitu media pembawa pesan kimia di otak yang digunakan untuk mengatur suasana hati dan emosi,” kata dr. Sri.

Produksi serotonin juga bisa meningkatkan perkembangan otak, sehingga Anda yang gemar beraktivitas di pagi hari cenderung lebih bahagia dan tidak mudah cemas, ketimbang yang selalu berada di dalam rumah.

Berdasarkan anjuran dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), terpapar sinar matahari selama 5-15 menit selama 2-3 kali per minggu cukup untuk mendapatkan manfaat vitamin D dari sinar matahari.

Jika akan berada di bawah sinar matahari lebih dari 15 menit, jangan lupa untuk menggunakan tabir surya spektrum luas dengan SPF di atas 15. Aplikasikan ulang tiap 2 jam.

Radiasi ultraviolet terkuat adalah antara jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Sebisa mungkin, batasi paparan sinar matahari pada rentang waktu tersebut.

Untuk mendapatkan sinar matahari tapi tetap aman di masa-masa #dirumahaja, berjemur bisa dilakukan di garasi rumah, depan rumah, pekarangan rumah, balkon, asalkan tidak ada kerumunan orang.

Masih punya pertanyaan seputar virus corona? Pemerintah bersama KlikDokter bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan inovasi teknologi kesehatan layanan telemedicine cek virus corona online COVID-19, guna membantu pemerintah terkait penanganan penyakit tersebut.

Berjemur di bawah sinar matahari bukan jaminan mencegah virus corona SARS-CoV-2 atau membunuhnya. Namun, manfaat aktivitas tersebut tetap bisa didapat bagi kesehatan, termasuk menjaga daya tahan tubuh tetap prima. Tak lupa, jaga kebersihan lingkungan dan diri, sesering mungkin cuci tangan, dan makan makanan bergizi untuk meningkatkan sistem imun tubuh.

(RN/ RH)

2 Komentar