Masalah Saraf dan Otak

Demensia

dr. Muhammad Iqbal Ramadhan, 10 Januari 2022

Icon ShareBagikan
Icon Like

Dementia sering disalahartikan sebagai penyakit pikun. Namun sebenarnya, demensia bukanlah penyakit melainkan gejala suatu penyakit.

penyakit demensia

Demensia

Dokter Spesialis

Spesialis saraf

Gejala

Kemampuan daya ingat menurun bahkan hilang, sulit berkomunikasi dan kehilangan kata-kata, perubahan perilaku, muncul paranoid, dan halusinasi.

Faktor Risiko

Usia di atas 65 tahun, riwayat kesehatan keluarga, pernah mengalami trauma di bagian kepala.

Cara diagnosis

Wawancara medis dan pemeriksaan fisik.

Pengobatan

Obat untuk mengurangi gejala dan terapi khusus.

Obat

Obat saraf (Donepezil, Galantamin, Memantin)

Komplikasi

Halusinasi, masalah tidur, kesulitan bersosialisasi dan komunikasi.

Kapan harus ke dokter?

Merasakan gejala dan tanda demensia


Pengertian

Demensia sering disalahartikan sebagai penyakit pikun. Namun sebenarnya, demensia bukanlah penyakit melainkan gejala suatu penyakit. Demensia adalah gangguan ini ditandai dengan penurunan daya ingat atau kondisi di mana seseorang kesulitan untuk mengingat sesuatu dari memorinya.

Kondisi ini juga dapat menimbulkan gangguan dalam berbahasa, serta ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya mudah tersesat saat menyetir.

Meskipun hilangnya daya ingat sering terjadi pada orang yang pikun karena demensia, berkurangnya daya ingat tidak berarti membuat seseorang pasti menderita demensia. Berkurangnya daya ingat pada tingkat tertentu bisa jadi merupakan proses penuaan yang normal.

Penyebab

Demensia melibatkan kerusakan pada sel- sel saraf di otak, yang dapat terjadi pada beberapa area di otak. Gangguan ini dapat muncul dalam bentuk yang berbeda- beda pada tiap penderita, tergantung area otak yang terkena.

Pikun karena demensia juga dapat terjadi akibat kerusakan otak yang disebabkan karena berkurangnya aliran darah di dalam pembuluh darah otak. Masalah pada pembuluh darah ini bisa terjadi karena banyak hal.

Beberapa di antaranya adalah stroke, infeksi katup jantung, atau kondisi lain pada pembuluh darah. Gejala biasanya muncul mendadak dan seringkali didapatkan pada orang-orang dengan tekanan darah tinggi atau yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung sebelumnya.

Artikel Lainnya: Wajib Tahu, Ini Masalah yang Muncul Saat Merawat Pasien Demensia

Faktor Risiko

Penyakit demensia bisa disebabkan akibat berbagai faktor risiko berikut: 

  • Usia. Orang di atas 65 tahun berisiko lebih tinggi mengalami demensia
  • Riwayat keluarga.
  • Memiliki kondisi sindrom down.
  • Pernah mengalami trauma di bagian kepala

Gejala

Tanda- tanda demensia dapat beragam, tergantung penyebabnya. Namun tanda dan gejala yang umum adalah:

1. Perubahan Fungsi Nalar

Hilangnya daya ingat, kesulitan berkomunikasi atau menemukan kata-kata, kesulitan melakukan tugas yang kompleks, kesulitan dalam perencanaan dan pengaturan, kesulitan dalam fungsi motorik dan koordinasi, dan masalah disorientasi seperti mudah tersesat.

2. Perubahan Psikologis

Perubahan kepribadian, ketidakmampuan untuk menentukan sebab-akibat, ketidaksesuaian perilaku, paranoid, gelisah, dan halusinasi.

Diagnosis

Untuk menentukan diagnosis, dokter akan meninjau riwayat penyakit dahulu, gejala- gejala saat ini, dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan-pemeriksaan lain yang akan dilakukan yaitu tes kognitif dan neuropsikologis, pemeriksaan neurologis atau saraf, CT scan atau MRI otak, tes darah, dan pemeriksaan psikiatri.

Artikel Lainnya: Kebiasaan Buruk Penyebab Demensia atau Pikun

Pengobatan

Sebagian besar tipe demensia memang tidak dapat disembuhkan. Namun demikian, dokter akan membantu kamu dalam mengelola gejala- gejala yang ada untuk memperlambat dan memperkecil berkembangnya gejala. Misalnya dengan memberikan obat-obatan untuk mengatasi gangguan tidur dan terapi yang menolong penderita beradaptasi untuk hidup dengan demensia.

Beberapa gejala demensia dan masalah perilaku pada awalnya dapat diterapi dengan pendekatan non obat, seperti:

  • Modifikasi lingkungan
  • Modifikasi respon penderita
  • Modifikasi tugas

Selain terapi di atas, saat ini juga terus dikembangkan terapi alternatif. Misalnya suplemen vitamin E, asam lemak omega-3, hingga Ginkgo biloba. Teknik- teknik lain juga bisa membantu menurunkan kegelisahan dan memberikan relaksasi. Misalnya dengan terapi musik, terapi menggunakan hewan peliharaan, aromaterapi, dan terapi pijatan.

Artikel Lainnya: Cegah Demensia dengan Diet Mediterania

Pencegahan

Pencegahan demensia cukup sulit untuk dilakukan. Meski demikian, ada beberapa langkah yang mungkin dapat membantu:

1. Biasakan Agar Pikiran Tetap Aktif

Aktivitas- aktivitas yang dapat merangsang otak, seperti puzzle dan permainan kata-kata, serta latihan daya ingat dapat memperlambat dan membantu mengurangi munculnya pikun atau demensia.

2. Aktif Secara Fisik Maupun Sosial

Aktivitas fisik dan interaksi sosial dapat memperlambat munculnya demensia dan mengurangi gejala -gejalanya.

3. Stop Merokok

Beberapa studi menunjukkan bahwa merokok pada usia pertengahan dan lebih tua dapat meningkatkan risiko pikun atau demensia dan penyakit pembuluh darah. Berhenti merokok dapat mengurangi risiko tersebut.

4. Turunkan Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko beberapa tipe demensia.

5. Menerapkan Diet Sehat

Memakan makanan sehat sangatlah penting untuk berbagai alasan. Makanan kaya akan buah, sayuran, dan asam lemak omega-3 yang banyak didapat dari ikan dan kacang, bermanfaat menunjang kesehatan secara keseluruhan dan menurunkan risiko terjadinya pikun atau demensia.

Artikel Lainnya: Belajar Bahasa Asing Efektif untuk Mencegah Demensia, Benarkah?

Komplikasi

Demensia yang tidak tertangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi berupa:

1. Nutrisi yang Tidak Tercukupi

Banyak orang dengan pikun karena demensia akan mengurangi atau berhenti makan dan minum pada akhirnya. Mereka bisa jadi lupa untuk makan dan berpikir bahwa mereka sudah makan.

Perubahan waktu makan atau gangguan suara berisik di sekitarnya juga dapat mengganggu kegiatan makan mereka. Seringkali, pikun atau demensia yang sudah berat membuat kehilangan kontrol pada otot-otot yang digunakan untuk mengunyah dan menelan.

Hal tersebut dapat membuat menimbulkan risiko tersedak atau kemasukan makanan ke dalam paru. Jika ini terjadi, makanan tersebut bisa menghalangi pernapasan dan menyebabkan peradangan paru.

2. Penurunan Higienitas

Pada kasus demensia yang sedang hingga berat, penderitanya dapat kehilangan kemampuannya dalam melakukan tugas sehari-harinya secara mandiri. Seseorang bisa menjadi tidak mampu mandi, berpakaian, mencuci rambut, menggosok gigi, atau menggunakan toilet sendiri.

3. Kesulitan Minum Obat

Kondisi ini sangat memengaruhi kemampuan mengingat penderita demensia. Karena itu, mengingat untuk meminum obat dalam jumlah yang benar pada waktu yang benar dapat menjadi tantangan tersendiri.

4. Kemunduran Kemampuan Emosional

Demensia dapat mengubah perilaku dan kepribadian. Beberapa perubahan tersebut dapat disebabkan oleh gangguan fungsi otak.

Sementara perubahan perilaku dan kepribadian yang lain mungkin disebabkan oleh reaksi emosional dalam menghadapi perubahan yang terjadi di otak. Demensia dapat berujung pada depresi, sifat agresif, kebingungan, frustasi, rasa cemas, dan gangguan disorientasi.

5. Kesulitan dalam Berkomunikasi

Dengan bertambah beratnya demensia, penderitanya dapat kehilangan kemampuan dalam mengingat nama orang dan benda serta masalah dalam berkomunikasi dengan orang lain atau memahami orang lain. Gangguan dalam berkomunikasi ini dapat menimbulkan perasaan gelisah, terisolasi, dan depresi.

6. Delusi dan Halusinasi

Penderita dapat mengalami delusi, yaitu ide/ pikiran yang salah tentang orang lain atau situasi yang ada. Beberapa orang, khususnya orang dengan demensia yang dapat memiliki halusinasi visual.

7. Kesulitan Tidur

Seseorang dapat mengalami kesulitan tidur, seperti bangun terlalu pagi. Sebagian lagi dapat memiliki sindrom tungkai gelisah atau gangguan perilaku tidur rapid eye movement (REM) yang dapat mempengaruhi tidur.

8. Masalah Keamanan Diri

Oleh karena berkurangnya kemampuan untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah, beberapa situasi sehari-hari dapat menimbulkan ketidakamanan bagi penderita demensia. Contohnya saat menyetir, memasak, terjatuh, tersesat, dan mengatasi rintangan.

Kapan Harus ke Dokter? 

Bergegas ke dokter apabila kamu atau orang terdekatmu mengalami gejala dan tanda penyakit demensia seperti yang disebutkan di atas. 

Jangan tunggu sakit. Manfaatkan layanan konsultasi kesehatan langsung dengan dokter di Tanya Dokter dari aplikasi KlikDokter. Ingat untuk selalu #JagaSehatmu, ya.

Tanya Dokter