HomeInfo SehatSarafBelajar Bahasa Asing Efektif untuk Mencegah Demensia, Benarkah?
Saraf

Belajar Bahasa Asing Efektif untuk Mencegah Demensia, Benarkah?

dr. Alvin Nursalim, SpPD, 02 Jul 2020

Tidak hanya dapat digunakan untuk berkomunikasi secara internasional, belajar bahasa asing katanya juga dapat membantu mencegah penyakit demensia. Apa benar demikian?

Belajar Bahasa Asing Efektif untuk Mencegah Demensia, Benarkah?

Demensia atau penyakit pikun adalah gangguan kesehatan otak yang membuat penderitanya kesulitan mengingat sesuatu. Keadaan ini muncul akibat interaksi kompleks dari berbagai faktor, seperti usia, genetik, lingkungan, gaya hidup, dan riwayat penyakit.

Tentu saja, adanya demensia bisa sangat mengganggu kualitas hidup. Oleh karena itu, setiap orang sebaiknya segera melakukan upaya untuk mencegah terjadinya penyakit pikun di kemudian hari.

Salah satu cara mencegah demensia yang katanya efektif adalah dengan belajar bahasa asing. Benarkah demikian? 

Bagaimana pandangan medis mengenai metode tersebut untuk mencegah penyakit demensia?

Artikel Lainnya: Hati-hati, Diet Buruk dan Jarang Olahraga Picu Demensia

Benarkah Belajar Bahasa Asing Dapat Cegah Demensia?

Cara menjaga kesehatan otak yang paling baik adalah dengan melatihnya untuk terus berfungsi. Nah, belajar bahasa asing adalah hal yang dapat membantu mewujudkan hal tersebut.

Sebuah penelitian menemukan bahwa salah satu manfaat belajar bahasa asing adalah mencegah demensia. 

Penelitian ini bahkan menemukan bahwa bilingual —menguasai dua bahasa— lebih baik daripada monolingual —hanya menguasai satu bahasa— pada tes perhatian selektif dan multitasking

Untuk perhatian selektif, orang yang menguasai bahasa asing ternyata lebih cermat. Sementara untuk multitasking, orang bilingual bisa lebih baik saat mengerjakan dua hal dalam waktu bersamaan.

Psikolog bernama Ellen Bialystok dan rekan-rekannya mencatat dari 184 orang yang telah menggunakan klinik memori di Toronto, Kanada. 

Orang monolingual biasanya mulai menunjukkan tanda-tanda demensia pada usia rata-rata 71,4 tahun. Sedangkan, orang dengan kemampuan bilingual menunjukkan tanda-tanda demensia pada usia 75,5 tahun.

Senada dengan itu, sebuah studi terpisah yang dilakukan di India juga menemukan hasil yang sangat mirip. 

Studi ini mendapati bahwa orang bilingual mengembangkan gejala demensia 4,5 tahun lebih lambat daripada orang monolingual. 

Hasil dari penelitian-penelitian tersebut memberi tahu bahwa orang yang memiliki keahlian bahasa asing ternyata tidak mudah terserang demensia.

Artikel Lainnya: Waspada saat Penderita Demensia Bicara soal Bunuh Diri

Cara Lain untuk Mencegah Demensia

Selain belajar bahasa asing, berikut ini beberapa cara mencegah demensia yang juga bisa Anda coba:

  • Aktif Secara Fisik

Melakukan aktivitas fisik secara teratur adalah cara yang juga dapat dilakukan untuk mengurangi risiko demensia. 

Tak hanya itu, olahraga rutin juga baik untuk kesehatan jantung, kesehatan mental, dan dapat membantu Anda meraih berat badan ideal.

  • Makan dengan Gizi Seimbang

Pola makan yang sehat dan seimbang dapat mengurangi risiko demensia, serta kondisi medis lainnya termasuk kanker, diabetes tipe 2, obesitas, stroke, dan penyakit jantung

Maka itu, pastikan untuk selalu mengonsumsi menu makan yang sehat dan seimbang setiap hari. 

Jangan lupakan sayur maupun buah-buahan, batasi asupan gula, dan hindari asupan lemak jenuh.

  • Jangan Merokok

Merokok bisa membuat Anda berisiko lebih tinggi untuk terkena demensia. Kebiasaan buruk tersebut juga membuat Anda rentan mengalami kondisi medis lain, seperti stroke, penyakit paru-paru, bahkan kanker.

Yuk, mulai belajar bahasa asing agar Anda terhindar dari risiko demensia di kemudian hari. Jangan lupa untuk mengombinasikannya dengan penerapan gaya hidup aktif dan sehat, agar kondisi otak Anda terus terjaga dengan optimal.

Jika Anda mengalami kendala atau ingin tahu lebih lanjut mengenai cara mencegah pikun atau demensia, tak perlu sungkan untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter melalui LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(NB/AYU)

Artikel Terkait

Lihat Semua
Kenali Lebih Dalam Berbagai Penyebab Migrain

Kenali Lebih Dalam Berbagai Penyebab Migrain

Saraf15 Agu 2022

Migrain alias sakit kepala sebelah dapat disebabkan oleh beragam faktor. Ketahui 15 penyebab migrain di sini.

Mengetahui Penyebab Kelainan Langka Empty Sella Syndrome

Mengetahui Penyebab Kelainan Langka Empty Sella Syndrome

Saraf22 Jul 2022

Ruben Onsu menderita kelainan langka bernama empty sella syndrome (ESS). Ketahui 7 penyebab penyakit empty sella syndrome di sini.

Bisakah Penderita Epilepsi Sembuh?

Bisakah Penderita Epilepsi Sembuh?

Saraf21 Jul 2022

Penyakit epilepsi dapat dikontrol lewat pengobatan rutin dan konsisten agar tidak sering kambuh. Tapi, bisakah penderita epilepsi sembuh total?

Aqua Panas Ujan
Pepsodent Sensitive Mineral Expert