Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Tak Positif Coronavirus tapi Harus Karantina, Waspada Gangguan Mental!

Tak Positif Coronavirus tapi Harus Karantina, Waspada Gangguan Mental!

Banyak orang menjalani karantina penyakit coronavirus, meski belum mengidapnya. Tapi, kegiatan ini harus diwaspadai karena bisa picu gangguan mental.

Merebaknya virus corona yang menjangkiti lebih dari 200.000 orang di seluruh dunia, memaksa banyak orang harus melakukan karantina penyakit di tempat tinggal masing-masing. Hal ini harus dilakukan secara komunal untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Namun, meski bertujuan baik, isolasi diri yang dilakukan rupanya bisa membuat masalah baru. Salah satunya memicu timbulnya gangguan mental.

Beberapa Orang Harus Dikarantina Akibat Pandemi Virus Corona

Hal ini tidak aneh, lantaran karantina diri tidak hanya dilakukan pada pasien yang positif coronavirus. Mereka yang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan suspect pun diminta untuk melakukan isolasi diri.

Belum berhenti di sana, orang yang sehat dan tidak termasuk dalam tiga kategori itu juga disarankan untuk tetap tinggal di rumah dan menjaga jarak sosial. Ini dilakukan agar orang yang sehat tidak terpapar virus corona.

Imbauan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah diberlakukan selama 14 hari. Kampanye dengan tagar #dirumahaja pun ramai di media sosial.

Meski demikian, rasa bosan mulai dikeluhkan beberapa orang di hari kelima bekerja di rumah (work from home/WFH) ini. Wajar saja kalau merasa bosan sebenarnya. Dari biasanya mobilitas tinggi, lalu tiba-tiba disetop begitu saja di rumah.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

1 dari 3 halaman

Fisik Sehat, tapi Kesehatan Mental Mulai Terganggu Saat Karantina

Seperti disebutkan di atas, karantina ini bisa menimbulkan masalah. Salah satu yang mungkin berdampak adalah kesehatan mental. Ikhsan Bella Persada, M.Psi psikolog dari KlikDokter, menyebut karantina bisa menyebabkan stres.

"Karena ketika dikarantina, seseorang mulai merasakan ada perubahan kebiasaan. Misalnya setiap hari beraktivitas, bertemu dengan banyak orang, atau berbicara dengan orang banyak. Nah, ketika semua dihentikan karena dikarantina, hal-hal seperti itu bisa bikin stres," ujar Ikhsan.

"Individu tersebut jadi merasa tidak punya kendali untuk menghadapi situasi demikian. Itulah yang membuat stres. Lalu, saat dikarantina sosialisasi langsung akan semakin sedikit. Kemudian kurang adanya kontak fisik dan tidak adanya vibes positif dari orang lain. Semua itu bisa membuat stres," ungkap pria berusia 26 tahun itu.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

Belum lagi saat dikarantina ada saran-saran yang perlu diikuti. Misalnya harus pakai masker, rajin cuci tangan, dan menyadari gejala penyakit. Ini juga bisa membuat rasa cemas meningkat.

Ikhsan menyebut, saran itu semua membuat orang merasa seperti diisolasi dan dibatasi. Akhirnya, itu juga berpotensi membuat orang menjadi depresi dan mengalami masalah kesehatan lainnya.

"Ditambah lagi, saran-saran harus pakai masker, selalu cuci tangan, atau yang lain, itu meningkatkan rasa cemas dan meningkatkan perasaan isolasi," ungkap Ikhsan.

"Dampak lain, mereka kurang istirahat, bosan di rumah terus, ada masalah juga dengan kardiovaskular. Ada kemungkinan juga muncul gejala depresi," sambungnya.

Ikhsan juga menyoroti bahwa karantina bisa mengganggu fungsi eksekutif manusia. Saat fungsi ini terganggu, Anda jadi sulit fokus dan kontrol emosi jadi kurang baik. "Itu bisa berdampak pada stresnya juga," tegas Ikhsan.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

2 dari 3 halaman

Supaya Kesehatan Mental Terjaga Saat Karantina, Lakukan Ini!

Namun, bukan berarti Anda tidak bisa menghindari masalah kesehatan mental saat dikarantina. Berikut beberapa saran yang diberikan Ikhsan untuk menjaga kondisi mental pasien:

  1. Lakukan Kegiatan yang Disukai

Jangan terjebak pada hal-hal yang membosankan. Anda harus melakukan kegiatan yang Anda sukai. Misalnya, kalau suka bermain game atau memasak, lakukanlah. Yang penting jangan sampai lupa waktu, hingga tidak mengerjakan pekerjaan Anda.

  1. Tulis Diari atau Menggambar untuk Mengekspresikan Perasaan

Ikhsan mengatakan, Anda bisa menuliskan jurnal atau diari tentang apa yang dirasakan sehari-hari selama masa karantina. Kalau Anda merasa tidak pandai mengungkapkan perasaan lewat kata-kata, Anda bisa menggambar.

“Aktivitas-aktivitas ini bagus untuk mengeluarkan dan menurunkan rasa stres atau depresi," ujar Ikhsan.

Karantina penyakit memang bikin bosan hingga bisa menyebabkan gangguan mental. Tapi, bersabarlah demi kebaikan banyak orang. Kalau bosan, lakukan kegiatan positif dan menyenangkan untuk membunuh waktu. Yuk periksakan diri terkait COVID-19 secara online di sini.

[HNS/ RH]

3 Komentar

  • Nov Pamangkih

    dok mau kunsul ni ,,oh ya dok saya kepala saya pusing ,,dan ulu hati kalau ditekan lumayan sakit , dan perut nya kiri kanan kaya kembung ,dan sandawa stiap hari ada apa ya dok,,dan rasa nya mau pingsan ,hampir 1 thn sudah dok

  • Susan Nur

    bagaimna cara agar kita bisa mnjaga kekebalan tubuh dok..??

  • Ra Muthmainah

    gejala awal virus itu sendiri apa y dok?