Sukses

Kenali Gejala Radang Usus Buntu Sebelum Terlambat!

Jika terlambat terdeteksi, radang usus buntu bisa berakibat fatal! Untuk itu, Anda harus konsultasi dokter ketika gejalanya mulai terasa, jangan sepelekan!

Klikdokter.com, Jakarta Pernah merasakan sakit perut yang hebat sampai membuat Anda membungkuk, tak sanggup berjalan? Itu tak boleh disepelekan! Hal ini karena bisa jadi itu adalah salah satu gejala radang usus buntu. Bila tak ditangani dengan cepat, akibatnya bisa fatal!

Seperti keluhan seputar perut lainnya, radang usus buntu juga menimbulkan gejala nyeri perut. Sayangnya, Anda masih sering disepelekan. Padahal, nyeri perut ini harus dikenali segera. Pasalnya, usus buntu yang meradang berisiko pecah sehingga dapat menyebarkan isi di dalamnya (feses dan bakteri) ke rongga perut.

Usus buntu adalah struktur berbentuk tabung yang sebetulnya sampai saat ini tidak memiliki fungsi yang jelas. Organ tersebut berada di kuadran kanan bawah perut, dengan panjang rata-rata 6-10 cm dan berdiameter 0,5-0,8 cm.

Gejala Radang Usus Buntu yang Wajib Diperhatikan

Meski fungsinya belum jelas, bila usus buntu mengalami peradangan, nyerinya bisa amat menyiksa! Tentunya, bisa mengganggu aktivitas Anda seharian.

Artikel Lainnya: Infeksi Usus Buntu Bisa Picu Kanker Usus?

Mengetahui perbedaan sakit perut biasa dan sakit perut akibat usus buntu bisa membantu Anda mendapatkan penanganan sesegera mungkin. Informasi ini dapat mengurangi kemungkinan terburuknya gangguan kesehatan tersebut.

“Gejala awal radang usus buntu sering dirasakan di bagian ulu hati atau sekitar pusar. Lalu, berpindah ke perut kanan bawah beberapa jam kemudian. Ciri khasnya adalah nyeri yang sangat hebat sehingga pengidapnya sulit berdiri dan berjalan,” jelas dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter.

Penyakit dengan nama lain apendisitis ini juga punya gejala lain meliputi: mual, muntah, demam ringan hingga sedang, dan hilangnya nafsu makan. Biasanya, gejala radang usus buntu sering dikira mag. inilah yang membuat pengobatannya hanya sekadarnya.

Gejala lainnya yang juga dapat timbul meliputi beberapa hal berikut ini.

  • Nyeri tumpul atau tajam di area perut atas atau bawah, punggung, atau rektum.
  • Nyeri saat berkemih.
  • Muntah sebelum nyeri perut muncul.
  • Kram perut hebat.
  • Diare atau sembelit.

Bila sudah menunjukkan gejala-gejala di atas tetapi tetap dibiarkan, dr. Resthie memperingatkan bahwa usus buntu bisa pecah bila terlambat ditangani.

“Jika pecah, isi usus buntu akan menyebar di rongga perut dan menyebabkan infeksi di seluruh lapisan rongga perut (peritonitis). Gejalanya berupa nyeri hebat di seluruh perut, perut kaku seperti papan, muntah-muntah, serta tidak bisa buang angin dan buang air besar,” jelas dr. Resthie.

Bila sampai peritonitis terjadi, diperlukan tindakan pembedahan sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien. Usus buntu akan dibuang dan seluruh perut akan dibersihkan.

Komplikasi usus buntu lainnya adalah terbentuknya kantung nanah (abses) di dalam rongga perut pasca pecahnya usus buntu yang mengalami radang. Abses yang berisi nanah dan kuman penyebab infeksi dilakukan drainase sebelum operasi usus buntu.

Artikel Lainnya: Mengapa Usus Buntu Terjadi Lagi Meski Sudah Dioperasi?

1 dari 2 halaman

Apa Saja Penyebab Radang Usus Buntu?

Penyebab utama usus buntu adalah akibat sumbatan di dalamnya. Ini bisa terjadi karena beberapa hal, yakni sebagai berikut ini.

  1. Sumbatan Fekalit

Fekalit atau timbunan tinja yang keras bisa membuat seseorang mengalami radang usus buntu. Kondisi fekalit yang statis atau terus-terusan diam membuat banyak kuman berkembang biak.

Akibatnya, terjadilah peradangan di dalam struktur dan sekitar usus buntu. Hal inilah yang menimbulkan gejala pada penderitanya. Demikian dikatakan oleh dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter.

“Umumnya, usus buntu akibat sumbatan fekalit banyak terjadi pada anak-anak dan lansia. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang jarang mengonsumsi makanan berserat atau aktivitas fisik yang terbatas,” tutur dr. Devia.

  1. Pembesaran Jaringan Limfoid

Pembesaran jaringan limfoid terjadi akibat adanya perubahan lapisan di struktur usus buntu. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan di dalamnya.

“Perubahan tersebut biasanya berhubungan dengan penyakit inflammatory bowel disease (IBD) atau radang usus, gastroenteritis atau muntaber, atau penyakit Crohn,” dr. Devia menyebutkan.

Pembesaran jaringan limfoid sering menjadi biang keladi peradangan usus buntu pada anak-anak. Kondisi ini biasanya diketahui melalui pemeriksaan lanjutan di laboratorium patologi.

  1. Infeksi Parasit

Infeksi parasit seperti Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Entamoeba histolytica (amoeba atau awam mengenalnya amuba), Strongyloides stercoralis (cacing benang), enterobiasis atau keremian (cacing kremi), dan Blastocystis hominis dapat menyebabkan terjadinya radang usus buntu.

“Adanya infeksi parasit menyebabkan perlukaan atau erosi di lapisan usus buntu, sehingga radang mudah terjadi,” kata dr. Devia. Umumnya, infeksi parasit ditularkan dari hewan maupun perilaku hidup yang tidak bersih.

  1. Tumor

Kata dr. Devia, meski kasus ini jarang terjadi, tumor yang terbentuk di dalam saluran pencernaan bagian bawah dapat menyebabkan radang usus buntu. “Jika tumor tersebut berkembang dan menyumbat struktur usus buntu, maka kemungkinan besar dapat menyebabkan peradangan.

  1. Jaringan Fibrosis

Dalam beberapa kasus, peradangan usus buntu yang sudah diangkat bisa kambuh lagi dan menimbulkan gejala klinis. Kondisi ini biasa terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosis atau jaringan parut, yang merupakan akibat dari proses penyembuhan yang kurang sempurna.

Berbagai gejala radang usus buntu mesti dikenali agar pengidapnya dapat segera mendapatkan perawatan medis. Ingat, komplikasi usus buntu yang sampai pecah tak main-main, bahkan bisa sampai membahayakan nyawa bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar