Sukses

Bolehkah Ibu Hamil Konsumsi Parasetamol?

Tergolong ampuh untuk meredakan nyeri, tetapi bolehkah parasetamol dikonsumsi oleh ibu hamil? Begini penjelasan medisnya.

Klikdokter.com, Jakarta Parasetamol adalah obat yang ampuh mengatasi berbagai masalah kesehatan ringan seperti demam atau sakit kepala. Namun, apakah parasetamol boleh dikonsumsi oleh ibu hamil?

Perlu diingat bahwa apa yang dikonsumsi ibu hamil, baik asupan makanan maupun obat-obatan, bisa memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan.

Faktanya, tidak semua obat aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebab, ada beberapa jenis obat yang dapat menyebabkan keguguran, cacat bawaan pada janin, kelahiran prematur, dan komplikasi kehamilan lainnya.

Apakah parasetamol aman untuk ibu hamil?

Bagaimana jika ibu hamil mengalami sakit berskala ringan seperti demam atau sakit kepala? Pasalnya, salah satu obat yang terbukti ampuh untuk meredakannya dan bisa dibeli secara bebas adalah parasetamol.

Faktanya, parasetamol dapat digunakan oleh ibu hamil sejak trimester pertama hingga trimester ketiga. Hingga kini, tidak ada bukti jelas bahwa parasetamol dapat memberikan efek negatif, baik pada ibu hamil maupun janin di dalam kandungan.

Dokter sering meresepkan parasetamol pada ibu hamil yang mengalami demam atau sakit kepala. Bahkan, bisa dibilang parasetamol  adalah obat yang paling aman untuk dikonsumsi ibu hamil.

Namun, konsumsi parasetamol tetap harus sesuai anjuran

Namun, seperti obat-obat lainnya, sebaiknya ibu hamil mengonsumsi parasetamol dengan dosis paling rendah dan hanya untuk waktu yang singkat. Dengan demikian, efek negatif yang mungkin terjadi pada janin dapat dihindari.

Penggunaan parasetamol juga ada yang dikombinasikan dengan kandungan kafein. Penambahan ini dilakukan agar efek antinyeri parasetamol bisa lebih ditingkatkan lagi. Sehingga, nyeri dengan intensitas sedang dapat diatasi dengan kombinasi tersebut. Meski demikian, penggunaan parasetamol yang mengandung kafein tidak direkomendasikan untuk ibu hamil.

Sebab, kadar kafein yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berat badan bayi terlalu rendah saat lahir, bahkan bisa menyebabkan keguguran. Sebaiknya, ibu hamil membatasi jumlah konsumsi kafein hanya sebesar 200 mg per hari.

Masih banyak studi yang pro dan kontra

Ada studi yang menemukan bahwa penggunaan parasetamol pada masa kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya undescended testicle pada bayi, yaitu kondisi kelainan ketika testis tidak terletak di dalam skrotum.

Namun, studi lainnya tidak setuju dengan hal tersebut. Sebab, studi yang menemukan bahwa penggunaan parasetamol saat masa kehamilan dapat menurunkan kadar hormon testosteron pada bayi tersebut hanya dilakukan pada tikus. Hingga kini, belum ada studi lebih lanjut yang dilakukan pada manusia, sehingga efeknya pada manusia pun belum dapat disimpulkan secara pasti.

Ada pula studi lainnya yang menemukan hubungan antara parasetamol dengan asma. Disebutkan bahwa bayi yang terpapar parasetamol saat masih dalam kandungan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami serangan sesak mengi atau mengidap asma pada masa kanak-kanak.

Tapi, lagi-lagi ada studi lain yang tidak mendukung temuan ini. Oleh karena itu, penemuan studi di atas masih diperdebatkan.

Satu lagi, studi terbaru yang diterbitkan di jurnal medis “Paediatric and Perinatal Epidemiology” menemukan kemungkinan adanya hubungan antara penggunaan parasetamol saat masa kehamilan dengan perilaku bayi ketika sudah lebih besar. Menurut para peneliti, risiko kelainan perilaku anak, seperti hiperaktif atau gangguan atensi, bisa meningkat bila sang ibu mengonsumsi parasetamol saat hamil.

Disebut juga jika risiko kelainan perilaku tersebut akan lebih tinggi pada anak laki-laki. Namun, hubungan ini juga masih perlu dipastikan dengan studi lanjutan lainnya.

Hingga kini, masih bisa disimpulkan bahwa parasetamol aman dan boleh dikonsumsi ibu hamil. Sebab, efek negatifnya pada janin masih belum bisa dibuktikan secara pasti. Akan tetapi, sebaiknya ibu hamil mengonsumsinya dengan dosis rendah, hanya pada waktu-waktu yang dibutuhkan atau tidak terlalu sering, dan mengonsumsinya pun harus di bawah pengawasan dokter.

[MS/RN]

0 Komentar

Belum ada komentar