Sukses

Mau Nonton Film Joker? Kenalan Dulu dengan Mitos Seputar Skizofrenia

Sebelum nonton film Joker di bioskop, ada baiknya Anda ketahui dulu mitos-mitos seputar skizofrenia yang tidak tidak perlu dipercaya.

Klikdokter.com, Jakarta Penikmat film mungkin sudah tak sabar ingin nonton film Joker yang kini ramai diperbincangkan. Tapi tahukah Anda bahwa di balik kisah menarik Joker, si penjahat kelas kakap ini ternyata memiliki gangguan mental skizofrenia.

Awalnya film Joker menuai banyak kontroversi. Sebab, ada kekhawatiran bahwa masyarakat akan menoleransi tindakan keji yang dilakukan oleh psikopat karena memiliki masa lalu yang buruk.

Namun ilmuwan kognitif bernama Bobby Azarian, Ph.D. menyanggah hal itu, seperti dilansir dari Psychology Today. Ia percaya, efek positif film Joker akan lebih besar. Menurutnya, film Joker justru dapat mendidik masyarakat mengenai penyakit mental.

Ya, gangguan mental yang satu ini memang tak begitu popular. Bahkan kurangnya informasi terkait kondisi tersebut, membuat banyak mitos seputar skizofrenia beredar di masyarakat.

Waham, halusinasi, dan gejala penderita skizofrenia

Di Indonesia sendiri, penyakit mental —apa pun jenisnya— memang belum dianggap persoalan ‘serius’. Padahal, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan, ada sekitar 400.000 orang yang menderita skizofrenia. Untuk itulah, edukasi tentang skizofrenia penting dilakukan.

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter, skizofrenia mengganggu cara berpikir dan perilaku penderitanya. Sebagian besar penderita mengalami waham dan/ atau halusinasi.

Waham itu sendiri bisa diartikan sebagai suatu keyakinan yang salah (tidak sesuai kenyataan). Orang yang memiliki waham akan mempertahankannya secara kuat, meskipun sudah dijelaskan mengenai realitas yang terjadi. 

Ada beberapa jenis waham yang kerap dialami oleh penderita skizofrenia, yaitu:

  • Waham kejar atau persekusi, yaitu keyakinan bahwa ada orang yang selalu ingin membahayakan si penderita. 
  • Waham rujukan, yaitu keyakinan bahwa orang di sekitar dan seluruh alam semesta ini punya hubungan dengan si penderita. 
  • Waham kebesaran, yaitu keyakinan penderita bahwa dirinya adalah orang yang terkenal atau sangat hebat.  
  • Waham kendali, yaitu keyakinan penderita bahwa dirinya dikendalikan oleh orang atau pihak lain.  

Sementara itu, halusinasi adalah suatu persepsi sensasi yang memengaruhi pancaindra penderitanya. Sensasi tersebut begitu tampak nyata, sehingga penderita merasa mendengar atau melihat sesuatu yang tidak ada.

Halusinasi yang paling sering terjadi dalam kasus skizofrenia adalah halusinasi auditorik, yaitu merasa mendengar suara yang sebenarnya tidak ada. Contohnya, mendengar suara yang membisiki dirinya untuk membunuh orang lain. 

Selain halusinasi dan waham, gejala skizofrenia dapat berupa perilaku yang tidak terorganisasi. Misalnya tidak pernah mandi, rambut berantakan, bicara tidak jelas, dan melakukan tindakan tanpa tujuan. Tak jarang penderita skizofrenia membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. 

Mitos tentang skizofrenia yang tak perlu dipercaya

Dikutip dari WebMD, terdapat sejumlah mitos tentang skizofrenia yang berkembang di masyarakat. Adapun mitos-mitos yang dimaksud, antara lain:

  • Pola asuh yang buruk selalu menjadi penyebabnya

Pola asuh yang buruk dari keluarga memang dapat membentuk karakter seseorang. Namun, itu bukanlah penyebab pasti.

Mirip dengan kanker, penyakit mental itu bersifat multifaktoral. Skizofrenia juga dapat terjadi karena gen dan penyalahgunaan narkoba. 

  • Penderita skizofrenia itu bodoh

Tak sedikit penelitian yang melaporkan bahwa penderita skizofrenia sebenarnya cerdas. Mereka hanya memiliki masalah pada perhatian dan memorinya, tetapi untuk kecerdasan, mereka tidak bisa diremehkan.

Salah satu tokoh skizofrenia yang berprestasi adalah John Nash. Ia adalah seorang ahli matematika peraih Nobel. 

  • Skizofrenia pasti menurun ke anak

Gen memang berperan di sini. Tapi sekali lagi, itu bukan patokan pasti. Jika salah satu orang tua Anda adalah penderita skizofrenia, bukan berarti Anda pasti menjadi seperti itu juga.

  • Semua penderita skizofrenia suka dengan kekerasan 

Sebagian besar penderita skizofrenia yang mendapat perawatan tidak menghasilkan perilaku keji. Jadi, tidak semuanya seperti itu.

Jika penderita skizofrenia dibiarkan begitu saja, risiko untuk melakukan tindak kekerasan memang besar. Selain karena tak mendapat perawatan, penderita skizofrenia yang suka melakukan kekerasan biasanya dipengaruhi juga oleh obat-obatan atau trauma.

  • Memiliki banyak kepribadian

Skizofrenia bukanlah penyakit mental dengan banyak kepribadian. Gangguan mental yang satu ini lebih kepada ‘kehilangan kontak’ dengan dunia nyata. 

Gangguan mental skizofrenia seperti yang ditampilkan di film Joker mungkin bisa dijadikan pelajaran. Jangan mudah percaya pada mitos skizofrenia yang beredar. Bila ada anggota keluarga atau orang yang Anda kenal mengalami gejala skizofrenia, bawalah ke dokter spesialis kejiwaan agar mendapatkan perawatan yang tepat. Nah, sekarang silakan menikmati waktu untuk nonton film Joker, ya.

[HNS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar