Sukses

Jenis Kontrasepsi ini Bisa Sebabkan Sakit Kepala

Kaum wanita yang sering mengalami sakit kepala harus lebih berhati-hati, terutama dalam memilih jenis kontrasepsi.

Klikdokter.com, Jakarta Studi menemukan bahwa hampir 37 persen wanita usia produktif sering mengalami sakit kepala. Meski sebagian besar tidak disebabkan oleh penyakit yang berbahaya, kondisi tersebut harus mendapatkan perhatian lebih karena bisa saja jenis kontrasepsi tertentu menjadi pencetusnya.

Kontrasepsi yang dapat mencetuskan sakit kepala

Sebenarnya tidak semua jenis kontrasepsi mencetuskan sakit kepala. Namun, kontrasepsi yang mengandung hormon estrogen terkadang memang dapat menyebabkan sakit kepala pada sebagian penggunanya.

Kontrasepsi yang mengandung estrogen di antaranya adalah pil KB kombinasi dan KB suntik yang diberikan sebulan sekali.

Keluhan sakit kepala yang dicetuskan oleh kontrasepsi yang mengandung estrogen umumnya terjadi saat hormon estrogen berada dalam keadaan yang rendah. Biasanya hal tersebut terjadi menjelang haid. 

Jenis sakit kepala yang umumnya terjadi adalah migrain. Kondisi ini ditandai dengan rasa nyeri yang berdenyut, bisa di salah satu sisi kepala atau di seluruh kepala. Sering kali sakit kepala tersebut disertai dengan gejala pre-menstrual syndrome lainnya seperti mudah lelah, rasa tidak nyaman di perut, dan perasaan menjadi lebih sensitif.

Namun demikian, perlu diketahui bahwa tak semua pengguna kontrasepsi hormonal mengalami keluhan sakit kepala. Diperkirakan bahwa tak sampai 20 persen pengguna kontrasepsi hormonal yang mengalami sakit kepala.

Alternatif kontrasepsi jika mengalami sakit kepala

Sebelum mempertimbangkan mengganti kontrasepsi, perlu diidentifikasi dengan jelas apakah sakit kepalanya dicetuskan oleh kontrasepsi. Perhatikan dengan saksama, apakah keluhan sakit kepala umumnya muncul mendekati datang bulan atau pada saat yang tidak tentu. 

Jika sakit kepalanya dicetuskan oleh kontrasepsi hormonal, penggantian jenis kontrasepsi sangat disarankan, terutama pada perempuan yang berusia 40 tahun ke atas. Selain itu, sering terpapar asap rokok, obesitas, memiliki hipertensi, atau memiliki riwayat stroke dalam keluarga juga bisa memcu kondisi tersebut.

Ada berbagai alternatif kontrasepsi yang bisa digunakan sebagai pengganti kontrasepsi hormonal. Jika tujuan menggunakan kontrasepsi adalah untuk mencegah kehamilan secara jangka pendek, maka kontrasepsi dapat diganti dengan kondom.

Meski kondom pada umumnya digunakan oleh laki-laki, ada pula kondom khusus wanita yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum hubungan intim dan dikeluarkan setelah hubungan intim selesai.

Jika tujuan kontrasepsi adalah untuk mencegah kehamilan selama beberapa tahun, maka kontrasepsi AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) bisa menjadi alternatif yang baik. Jenis kontrasepsi ini lebih sering dikenal dengan istilah KB spiral atau IUD (intrauterine device).

Lebih lanjut, jika tujuan menggunakan kontrasepsi adalah untuk mencegah kehamilan secara permanen, maka kontrasepsi ”steril” berupa vasektomi pada laki-laki (operasi untuk memutus saluran sperma) atau tubektomi pada perempuan (operasi untuk mengikat saluran tuba yang menghubungkan indung telur dengan rahim) bisa menjadi pengganti kontrasepsi hormonal.

Kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen tak selalu menyebabkan sakit kepala. Namun jika perempuan kerap mengalami sakit kepala, jangan ragu diskusikan dengan dokter mengenai jenis kontrasepsi yang paling tepat.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar