Reproduksi

Peranakan Turun, Apakah Berbahaya?

Krisna Octavianus Dwiputra, 12 Jan 2024

Ditinjau Oleh dr. Atika

Peranakan turun sering terjadi pada wanita setelah melahirkan. Apakah kondisi ini berbahaya? Ini fakta medisnya.

Peranakan Turun, Apakah Berbahaya?

Meski tak semua wanita mengalaminya, peranakan turun bisa dialami setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi ketika kelemahan otot daerah panggul dan mengalami peregangan jaringan penyangga. Apakah kondisi ini berbahaya?

Artikel Lainnya: Mungkinkah Hamil Lagi Walau Rahim Turun?

Hal-hal Seputar Peranakan Turun: Penyebab dan Gejala

Peranakan turun atau rahim turun istilah medisnya adalah prolaps uteri. Dijelaskan oleh dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, kondisi medis ini dapat menimbulkan gejala seperti rasa mengganjal atau rasa menonjol pada alat kelamin bagian bawah.

"Wanita yang mengalaminya bisa merasakan rasa nyeri di bagian pinggang atau panggul yang akan hilang atau berkurang bila berbaring. Ada juga keluhan sering buang air kecil, sedikit-sedikit, tidak puas, tidak dapat menahan pipis; gangguan buang air besar; tidak nyaman saat berhubungan seks, tidak nyaman saat bekerja dan berjalan, keputihan, perdarahan yang banyak," dr. Dyan menyebutkan.

Berbagai faktor dapat menyebabkan peranakan turun. Ini bisa terjadi karena kehamilan dan trauma yang terjadi saat persalinan, terutama dengan bayi berukuran besar atau setelah melalui persalinan yang sulit.

Turun peranakan bisa dialami wanita segala usia. Tapi biasanya memengaruhi wanita setelah menopause dan yang pernah melahirkan normal setidaknya satu kali. Selain itu, penuaan dan berat badan berlebih juga bisa jadi penyebab.

Beberapa gejala peranakan turun yang biasanya terjadi, antara lain:

  • Merasakan adanya tekanan atau rasa ’penuh’ di dalam vagina, merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari vagina, atau bahkan melihat mulut rahim keluar dari vagina.
  • Mengalami kelainan berkemih, seperti sulit menahan buang air kecil ataupun buang air besar.
  • Nyeri pada bokong yang disertai dengan kondisi sulit berjalan, sulit berkemih, atau gangguan defekasi.

Artikel Lainnya: Cara Mengatasi Peranakan atau Rahim Turun

Tingkat Keparahan Peranakan Turun

Peranakan turun sendiri tingkat keparahannya dibagi dalam empat fase, yaitu:

  1. Prolapsus uteri tingkat I, yaitu serviks uteri menurun, dalam liang vagina sampai setinggi 1 cm di atas introitus vagina (lubang vagina/himen).
  2. Prolapsus uteri tingkat II, yang mana serviks uteri turun sampai lebih dari 1 cm dari introitus vagina.
  3. Prolapsus uteri tingkat III, yaitu serviks uteri menonjol keluar lebih dari 1 cm di atas introitus vagina.
  4. Prolapsus uteri tingkat IV, yaitu seluruh uterus keluar dari vagina.

Apakah Peranakan Turun Berbahaya?

Peranakan turun bisa terjadi pada semua wanita, terutama setelah melahirkan. Jika Mama sampai mengalami kondisi ini, penanganan oleh dokter sangat diperlukan. Bila tidak diobati dapat menyebabkan serviks borok dan meningkatkan risiko infeksi atau cedera organ panggul.

"Prolaps uteri derajat awal dapat diterapi dengan pemasangan pesarium. Semakin berat derajat prolaps uteri, maka tindakan operasi (histerektomi) merupakan penanganan untuk mengatasinya," demikian kata dr. Dyan.

Artikel Lainnya: 8 Penyakit Rahim yang Harus Diwaspadai Wanita

Bisakah Prolapsus Uteri Dicegah pada Ibu Hamil?

Cara Mencegah Rahim Turun (Foto: Shutterstock)

Prolapsus uteri sulit untuk dicegah sepenuhnya, terutama jika seseorang memiliki faktor risiko tertentu seperti riwayat keluarga atau usia yang lebih tua. Namun, ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terjadinya prolapsus uteri selama kehamilan.

1. Latihan Kegel

Latihan Kegel secara rutin dapat memperkuat otot-otot panggul, yang dapat membantu mencegah prolapsus uteri atau mengurangi gejala jika sudah terjadi.

2. Pilih Persalinan yang Tepat

Jika Mama memiliki faktor risiko tinggi, pertimbangkan persalinan dengan bantuan dokter atau bedah, seperti persalinan melalui operasi caesar. Ini dapat mengurangi tekanan pada rahim.

3. Pertahankan Berat Badan yang Sehat

Upaya menjaga berat badan yang sehat dapat mengurangi tekanan pada rahim dan mengurangi risiko prolapsus uteri.

4. Hindari Merokok

Merokok dapat melemahkan otot-otot panggul, sehingga berhenti merokok dapat membantu mencegah prolapsus uteri.

5. Konsultasikan dengan Dokter

Jika Mama memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko lainnya, diskusikan dengan dokter tentang langkah-langkah pencegahan yang lebih spesifik untuk situasi Mama.

Untuk wanita yang sudah memasuki masa menopause, dapat diberikan hormon estrogen tambahan untuk membantu mengembalikan kekuatan jaringan otot di daerah panggul dan vagina, yang tentu saja dengan pengawasan dokter.

Artikel Lainnya: Wanita Perlu Tahu, Ini Cara Mencegah Rahim Turun

Peranakan turun pada wanita tidak boleh dianggap sepele karena bisa berbahaya. Kondisi rahim turun derajat ringan umumnya tidak menampakkan gejala tertentu. Namun pada derajat sedang atau berat, bisa timbul tanda dan gejala seperti yang disebutkan di atas. Bila Mama mengalaminya, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan agar bisa mendapatkan penanganan sesuai prosedur.

Untuk informasi dan artikel lainnya, yuk Mama jangan lupa download KlikDokter ya!

(RN/ RH)

Rahim
Wanita
Peranakan Turun
Prolaps Uteri