HomeInfo SehatReproduksiPeranakan Turun, Apakah Berbahaya?
Reproduksi

Peranakan Turun, Apakah Berbahaya?

Krisna Octavianus Dwiputra, 26 Okt 2019

Peranakan turun sering terjadi pada wanita setelah melahirkan. Apakah kondisi ini berbahaya? Ini fakta medisnya.

Peranakan Turun, Apakah Berbahaya?

Meski tak semua wanita mengalaminya, peranakan turun bisa dialami setelah melahirkan. Kondisi ini terjadi ketika kelemahan otot daerah panggul dan mengalami peregangan jaringan penyangga. Apakah kondisi ini berbahaya?

Hal-hal seputar peranakan turun: penyebab dan gejala

Peranakan turun atau rahim turun istilah medisnya adalah prolaps uteri. Dijelaskan oleh dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, kondisi medis ini dapat menimbulkan gejala seperti rasa mengganjal atau rasa menonjol pada alat kelamin bagian bawah.

"Wanita yang mengalaminya bisa merasakan rasa nyeri di bagian pinggang atau panggul yang akan hilang atau berkurang bila berbaring. Ada juga keluhan sering buang air kecil, sedikit-sedikit, tidak puas, tidak dapat menahan pipis; gangguan buang air besar; tidak nyaman saat berhubungan seks; tidak nyaman saat bekerja dan berjalan; keputihan; perdarahan yang banyak," dr. Dyan menyebutkan.

Berbagai faktor dapat menyebabkan peranakan turun. Ini bisa terjadi karena kehamilan dan trauma yang terjadi saat persalinan, terutama dengan bayi berukuran besar atau setelah melalui persalinan yang sulit. 

Turun peranakan bisa dialami wanita segala usia. Tapi biasanya memengaruhi wanita setelah menopause dan yang pernah melahirkan normal setidaknya satu kali. Selain itu, penuaan dan berat badan berlebih juga bisa jadi penyebab.

Beberapa gejala peranakan turun yang biasanya terjadi, antara lain:

  • Merasakan adanya tekanan atau rasa ’penuh’ di dalam vagina, merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari vagina, atau bahkan melihat mulut rahim keluar dari vagina.
  • Mengalami kelainan berkemih, seperti sulit menahan buang air kecil ataupun buang air besar.
  • Nyeri pada bokong yang disertai dengan kondisi sulit berjalan, sulit berkemih, atau gangguan defekasi.
Tingkat keparahan peranakan turun

Peranakan turun sendiri tingkat keparahannya dibagi dalam empat fase, yaitu:

  1. Prolapsus uteri tingkat I, yaitu serviks uteri menurun, dalam liang vagina sampai setinggi 1 cm di atas introitus vagina (lubang vagina/himen).
  2. Prolapsus uteri tingkat II, yang mana serviks uteri turun sampai lebih dari 1 cm dari introitus vagina.
  3. Prolapsus uteri tingkat III, yaitu serviks uteri menonjol keluar lebih dari 1 cm di atas introitus vagina.
  4. Prolapsus uteri tingkat IV, yaitu seluruh uterus keluar dari vagina. 

Apakah peranakan turun berbahaya?

Peranakan turun bisa terjadi pada semua wanita, terutama setelah melahirkan. Jika Anda sampai mengalami kondisi ini, penanganan oleh dokter sangat diperlukan. Bila tidak diobati dapat menyebabkan serviks borok dan meningkatkan risiko infeksi atau cedera organ panggul.

"Prolaps uteri derajat awal dapat diterapi dengan pemasangan pesarium. Semakin berat derajat prolaps uteri, maka tindakan operasi (histerektomi) merupakan penanganan untuk mengatasinya," demikian kata dr. Dyan. 

Namun, peranakan turun sebenarnya bisa dicegah. Cara utama mencegahnya adalah dengan memperkuat otot panggul, yang bisa dilakukan dengan melakukan senam Kegel.

Cara melakukan senam Kegel sangat mudah. Anda hanya harus melakukan gerakan seperti menahan buang air kecil selama beberapa saat. Bila dilakukan secara rutin, senam ini akan membantu menguatkan otot panggul dan mengurangi kemungkinan terjadinya peranakan turun.

Untuk wanita yang sudah memasuki masa menopause, dapat diberikan hormon estrogen tambahan untuk membantu mengembalikan kekuatan jaringan otot di daerah panggul dan vagina, yang tentu saja dengan pengawasan dokter. 

Sementara itu pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah:

  • Turunkah berat badan
  • Mengonsumsi makanan yang tinggi serat untuk mencegah sembelit
  • Hindari angkat barang yang berat
  • Tidak merokok

Peranakan turun pada wanita tidak boleh dianggap sepele karena bisa berbahaya. Kondisi rahim turun derajat ringan umumnya tidak menampakkan gejala tertentu. Namun pada derajat sedang atau berat, bisa timbul tanda dan gejala seperti yang disebutkan di atas. Bila Anda mengalaminya, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter agar bisa mendapatkan penanganan sesuai prosedur.

(RN/ RH)

Artikel Terkait

Lihat Semua
Keputihan Warna Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Menular Seksual

Keputihan Warna Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Menular Seksual

Reproduksi25 Jul 2022

Jangan sepelekan keputihan. Warna keputihan tertentu dapat menjadi gejala penyakit menular seksual. Simak ulasannya di sini.

Apa Bedanya Kista Bartholin, Kista Nabothi, dan Kista Gartner?

Apa Bedanya Kista Bartholin, Kista Nabothi, dan Kista Gartner?

Reproduksi24 Jun 2022

Sama-sama berada di organ intim wanita, coba kita kenali perbedaan kista Bartholin, kista Nabothi, dan kista Gartner di sini.

Benarkah Sering Makan Makanan Manis Picu Keputihan?

Benarkah Sering Makan Makanan Manis Picu Keputihan?

Reproduksi14 Jun 2022

Ada beragam penyebab dari keputihan. Apakah salah satunya adalah akibat terlalu sering mengonsumsi makanan manis? Cari tahu jawabannya di artikel berikut.

Aqua Panas Ujan
Pepsodent Sensitive Mineral Expert