Sukses

Pembesaran Prostat, Haruskah Dioperasi?

Masalah pembesaran prostat cukup banyak terjadi pada pria. Haruskah setiap pembesaran perlu dilakukan tindakan operasi?

Klikdokter.com, Jakarta Pembesaran prostat umumnya terjadi pada pria seiring bertambahnya usia. Pembesaran tersebut dapat bersifat jinak dan ganas. Jika jinak, pembesaran prostat disebut dengan benign prostatic hyperplasia (BPH). Adapun jika bersifat ganas, maka akan mengarah ke kanker prostat.

Kejadian pembesaran prostat yang bersifat jinak ini banyak terjadi pada pria berusia di atas 60 tahun. Angka kejadian pasti di Indonesia sendiri saat ini belum pasti. Akan tetapi, berdasarkan data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada rentang 1994-2013 terdapat 3.804 kasus BPH dengan rata-rata usia penderita 66 tahun.

Faktor risiko pembesaran prostat

Selain usia, beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan keluhan BPH, antara lain faktor hormonal, adanya riwayat pembesaran prostat di keluarga, obesitas, diet rendah serat, terlalu banyak mengonsumsi daging merah, serta adanya riwayat peradangan pada prostat.

Meskipun tidak mengancam jiwa penderitanya, keluhan yang muncul akibat pembesaran prostat sangatlah mengganggu aktivitas. Beberapa gejala yang sering dikeluhkan adalah merasa tidak puas saat buang air kecil yang disertai dengan pancaran kemih yang lemah serta frekuensi buang air kecil meningkat.

Selain itu, penderita dapat mengalami sering terbangun pada malam hari serta tidak mampu menahan hasrat ingin buang air kecil. Pada keadaan berat, pembesaran prostat dapat menyebabkan retensi urine, yakni seseorang tidak dapat mengeluarkan urine yang ada di kandung kemih.

Penanganan pembesaran prostat

Tujuan utama dari penanganan pembesaran prostat ini adalah meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung tingkat keparahan gejala yang dialami.

Untuk menentukan tingkat keparahannya, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti pemeriksaan skor International Prostate Symptom Score (IPSS); pemeriksaan laboratorium seperti urinalisis, prostatic specific antigen (PSA), fungsi ginjal; uroflometri (penilaian pancaran urine), perhitungan residu urine; hingga pencitraan prostat yang dapat berupa pemeriksaan USG.

Setelah dilakukan pemeriksaan dan diketahui derajat keparahannya, barulah ditentukan terapi yang paling tepat untuk menangani keluhan pembesaran prostat. Terapi tersebut antara lain:

  • Terapi konservatif

Terapi konservatif pada penderita pembesaran prostat yang bersifat jinak berupa watchful waiting, artinya penderita tidak mendapatkan pengobatan apa pun dari dokter yang menangani tapi selalu dipantau perkembangannya. Terapi konservatif dilakukan pada penderita yang memiliki keluhan bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

  • Terapi medikamentosa

Terapi medikamentosa atau penggunaan obat-obatan biasanya dipilih untuk penderita yang memiliki gejala sedang hingga berat. Penggunaan obat-obatan dapat bersifat tunggal maupun kombinasi dari beberapa obat.

  • Tindakan operasi/ pembedahan

    Tindakan operasi atau pembedahan menjadi pilihan apabila gejala yang muncul pada penderita sudah sampai mengalami komplikasi BPH, seperti retensi urine, gagal kateterisasi, infeksi saluran kemih berulang, buang air kecil berdarah (hematuria), gangguan fungsi ginjal, dan batu pada saluran kemih.

    Selain adanya komplikasi, tindakan pembedahan dapat dilakukan apabila tidak adanya perbaikan dengan pemberian terapi medikamentosa. Tindakan pembedahan yang ditawarkan dapat berupa:

    • Transurethral Resection of The Prostate (TURP)
    • Laser prostatektomi
    • Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)
    • Operasi terbuka prostatektomi

Pembesaran prostat tidak harus selalu mendapatkan tindakan operasi. Hanya pada keadaan tertentu, seperti komplikasi, operasi menjadi jalan yang dapat ditempuh. Bagi penderita pembesaran prostat dengan terapi apa pun, diharapkan kontrol secara berkala (disarankan setiap 3-6 bulan). Selain itu, bila Anda memiliki gejala yang mirip dengan pembesaran prostat, segera periksakan diri ke dokter. Dengan evaluasi dini, pengobatan dapat dilakukan sebelum bertambah parah.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar