Sukses

Bisakah Ibu Pengidap HIV/AIDS Melahirkan Normal?

Pengidap HIV/AIDS memang perlu hati-hati tentang persalinan. Lalu bisakah ibu pengidap HIV/AIDS melahirkan normal?

Klikdokter.com, Jakarta Hidup dengan HIV/AIDS bukanlah akhir dari segalanya. Dengan kemajuan ilmu kedokteran dan teknologi, penderita dapat menjalani hidup layaknya orang sehat, tak terkecuali bagi penderita wanita. Dengan perencanaan yang baik, pengidap HIV/AIDS bisa hamil dan melahirkan, serta memiliki anak yang sehat dan bebas dari penyakit tersebut. Lalu bisakah ibu pengidap HIV/AIDS melahirkan normal?

Agar HIV/AIDS tak menular dari orang tua ke anak, langkah pertama sekaligus terpenting adalah merencanakan kehamilan dengan baik dan matang. Perencanaan ini meliputi perencanaan secara medis dan psikis.

Butuh perencanaan matang, baik medis maupun psikis

Perencanaan secara medis melibatkan kedua belah pihak, yaitu calon ayah dan calon ibu. Keduanya harus melakukan pemeriksaan kadar CD4 dan viral load untuk mengetahui imunitas dan jumlah virus HIV yang ada di dalam tubuh. Kehamilan dianggap aman untuk dilakukan jika kadar CD4 lebih dari 350 sel/mm3 dan viral load di dalam darah tak terdeteksi.

Selanjutnya, juga yang tak kalah penting adalah perencanaan secara psikis. Kedua belah pihak harus benar-benar memahami risiko dan konsekuensi kehamilan dan persalinan, terutama kemungkinan si Kecil tertular HIV.

Harus dipastikan juga bahwa kedua belah pihak memang sama-sama menginginkan untuk mengasuh dan membesarkan anak. Hal ini penting agar anak yang dilahirkan, bagaimanapun keadaannya, tidak akan ditelantarkan di kemudian hari.

Jenis persalinan yang aman

Studi menunjukkan bahwa risiko terbesar penularan HIV dari ibu ke anak adalah saat persalinan. Oleh karena itu, jenis persalinan yang akan dijalani perlu dipertimbangkan dengan baik.

Persalinan yang aman pada ibu dengan HIV/AIDS harus mencakup dua aspek. Pertama, persalinan tersebut sebisa mungkin tak menyebabkan penularan HIV ke bayi. Kedua, persalinan tersebut tak membahayakan bagi ibu.

Apakah ibu dengan HIV/AIDS bisa melahirkan normal?

Persalinan melalui operasi caesar merupakan metode persalinan yang memiliki risiko paling rendah dalam penularan HIV dari ibu ke bayi, yaitu sekitar 2 persen. Meski demikian, risiko komplikasi saat dan setelah operasi caesar pada ibu dengan HIV lebih tinggi. Selain itu, kemungkinan dibutuhkan pula perawatan intensif lebih lama di rumah sakit.

Sebaliknya, persalinan normal umumnya lebih menguntungkan untuk ibu dengan HIV, karena biasanya masa pemulihannya lebih singkat dan lebih minim komplikasi. Namun, persalinan normal memiliki risiko penularan HIV ke bayi yang lebih tinggi, yaitu mencapai 10-20 persen.

Syarat persalinan normal untuk ibu dengan HIV/AIDS

Supaya persalinan wanita penderita HIV/AIDS dapat dilakukan dengan aman dan optimal baik untuk ibu maupun bayi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia membuat aturan bahwa ibu bisa melahirkan normal asal memenuhi syarat di bawah ini:

  • Jika ibu yang mengalami HIV mendapatkan pengobatan ART (antiretroviral therapy) minimal selama enam bulan dalam masa kehamilan.
  • Pada kehamilan minggu ke-36, dilakukan pemeriksaan viral load, yaitu pemeriksaan untuk mengukur berapa banyak jumlah virus HIV di dalam darah, dan hasil pemeriksaannya kurang dari 1.000 kopi/mm3.

Dengan memenuhi dua persyaratan di atas, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi terbilang sangat kecil, sehingga memungkinkan untuk melahirkan normal. Sebaliknya, jika salah satu atau dua kondisi di atas tidak dipenuhi, maka ibu hamil lebih disarankan untuk menjalani operasi caesar.

Tak hanya sampai di situ, usaha pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi juga dilanjutkan sesudah bayi lahir. Ia perlu mendapatkan obat ART selama beberapa minggu untuk mencegah infeksi HIV.

Untuk Anda yang bertanya-tanya, jadi pada dasarnya wanita pengidap HIV/AIDS tetap bisa hamil dan mungkin untuk melahirkan bayi sehat bebas HIV. Dengan catatan, harus dilakukan perencanaan yang baik dari sebelum kehamilan hingga pascapersalinan, hingga memenuhi persyaratan yang sudah disebutkan sebelumnya.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar