Sukses

Kiat Tangani Trauma Psikis pada Korban Ledakan di Senayan

Korban ledakan di Senayan yang terjadi saat nobar debat capres kedua kemarin berisiko alami trauma psikis. Bagaimana mengatasinya?

Klikdokter.com, Jakarta Situasi nobar debat capres kedua yang digelar pada Minggu (17/2) di arena Gelora Bung Karno (GBK) Senayan berubah menjadi mencekam. Pasalnya, suara ledakan keras tiba-tiba terdengar sekitar pk. 20.15 WIB di tengah berlangsungnya debat tersebut. Akibatnya, dua orang yang menjadi korban ledakan di Senayan pun tidak hanya mengalami cedera fisik, tetapi juga trauma psikis.

Seperti dilansir oleh Liputan6.com, usai investigasi dilakukan, Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono menyampaikan bahwa ledakan yang terjadi di sekitaran Hotel Sultan – lokasi debat capres 2019 – berasal dari petasan. Berbagai spekulasi pun bermunculan mengenai ledakan tersebut.

Akibat dari ledakan tersebut, dua orang pendukung salah satu paslon pada akhirmya harus dilarikan ke RSAL Mintohardjo karena mengalami trauma psikis atau dalam dunia medis juga disebut Posttraumatic Stress Disorder (PTSD).

Dampak dari trauma psikis

Orang yang mengalami PTSD umumnya memiliki pengalaman atau pernah menyaksikan kejadian-kejadian traumatik. Kejadian yang dimaksud di sini adalah yang mengancam jiwa atau fisik, atau bahkan pernah mengalami situasi yang sangat menakutkan hingga tidak mampu berbuat apa-apa.

Akibatnya, orang-orang yang mengalami PTSD tersebut pun mengalami perubahan dalam hidupnya. Berikut ini adalah hal-hal yang mungkin dialami oleh orang yang mengalami trauma psikis, termasuk pada korban ledakan, seperti yang terjadi di Senayan:

  • Kesulitan tidur
  • Gangguan emosi (sering kaget atau emosi meledak-ledak)
  • Sulit berkonsentrasi
  • Cenderung menghindar dari situasi, orang, benda, atau aktivitas apa pun yang bisa mengingatkan akan kejadian yang membuatnya trauma.

Dengan berbagai kondisi di atas, pada akhirnya orang yang mengalami PTSD dapat mengalami gangguan dalam menjalani aktivitas sehari-harinya. Gejala-gejala tersebut biasanya dialami sejak kejadian berlangsung hingga tiga bulan kemudian, bahkan bisa bertahun-tahun setelah kejadian tersebut.

1 dari 2 halaman

Mengatasi trauma akibat ledakan

Bila tak segera diatasi, kondisi PTSD bisa semakin memburuk dan mengganggu keseharian. Oleh sebab itu, terapi sangat disarankan untuk dilakukan. Bentuk terapi untuk mengatasi PTSD adalah dengan psikoterapi, pemberian obat-obatan tertentu ataupun kombinasi keduanya.

Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengurangi dan menghilangkan gejala, mengembalikan rasa percaya diri dan "berdamai" degan kejadian tersebut. Psikoterapi untuk pasien PTSD biasanya meliputi cognitive behavioural therapy (CBT), eye movement desensitisation and reprocessing (EMDR) dan group therapy.

Pada psikoterapi untuk pasien trauma psikis seperti PTSD, serangkaian teknik psikologi akan dilakukan. Semisal psikiater atau terapis akan meminta Anda memikirkan kejadian traumatis tersebut secara detail.

Selanjutnya, terapis akan membantu Anda mengontrol rasa takut atau stres yang muncul dengan mengubah pola pikir negatif Anda terhadap kejadian tersebut. Secara bertahap Anda juga akan diminta untuk memulai aktivitas yang dihindari sejak kejadian tersebut.

Misalnya, bila Anda menghindari menyetir mobil usai mengalami kecelakaan atau tabrakan mobil, nantinya Anda harus membiasakan untuk naik mobil. Bila sudah terbiasa, maka Anda akan diminta untuk memulai menyetir lagi.

Selain psikoterapi, psikiater juga akan mempertimbangkan pemberian obat-obatan tertentu untuk mengatasi PTSD. Obat-obatan ini dapat membantu Anda berhenti berpikir dan juga bereaksi atas kejadian tertentu. Sebab, beberapa kasus PTSD menyebabkan penderitanya kerap mengalami mimpi buruk atau terus mengalami kilas balik akan kejadian yang membuatnya trauma.

Obat-obatan yang diberikan tentu saja bergantung dari seberapa berat trauma yang dialami, efek samping yang ditimbulkan obat tersebut dan apakah Anda mengalami ansietas (gangguan cemas), depresi, gangguan bipolar atau pernah mengonsumsi narkoba.

Mungkin memang tidak semua korban yang mengalami trauma psikis perlu ditangani secara medis karena dapat hilang dengan sendirinya. Namun, pada segelintir korban, trauma psikis tersebut dapat berlangsung hingga seumur hidup. Hal ini pada akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kejadian ledakan di Senayan saat nobar debat capres seperti yang terjadi Minggu (17/2) malam kemarin memang tidak bisa dihindari. Para korban yang mengalami peristiwa tersebut sangat rentan mengalami luka fisik maupun trauma psikis. Jika hal ini terjadi, beberapa kiat medis di atas dapat dilakukan untuk menangani trauma psikis yang dialami oleh para korban.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar