Sukses

Kenali Bahaya Self Bullying pada Diri Sendiri

Terlalu sering menghakimi dan mengkritik diri sendiri bisa menjerumuskan Anda pada tindakan self bullying. Kenali bahayanya pada diri Anda!

Klikdokter.com, Jakarta Self bullying, atau perundungan pada diri sendiri, bisa sama berbahayanya dengan perundungan yang dilakukan oleh orang lain. Kita semua memiliki suara hati (inner voice) yang bisa menjadi musuh ataupun kawan. Saat menjadi musuh, suara hati Anda akan terus-menerus mengkritik, menekan, menyudutkan. Meski sepertinya tak mungkin untuk benar-benar menghilangkan suara hati semacam itu, Anda tetap dapat meminimalkannya.  

Ciri khas dari self bullying adalah sering menindas diri sendiri dengan pikiran-pikiran negatif tak berkesudahan. Bukannya memicu seseorang untuk lebih baik, self bullying malah akan menghentikan langkah-langkah penuh optimisme dan justru menghilangkan kepercayaan diri. Mengambil kesimpulan bahwa diri Anda tak bisa apa-apa, misalnya, malah dapat menciptakan sugesti bahwa diri Anda memang begitu adanya.

Merujuk pada Psychology Today dan Huffington Post, Anda dapat menghentikan kebiasaan merundung diri sendiri atau self bullying dengan cara-cara berikut:

  • Menyadarinya

Pertama-tama, sadarilah bahwa tindakan yang Anda lakukan adalah self bullying. Biarkan diri Anda mengetahui dan memahami apa rasanya merundung diri sendiri. Catat atau ingat bagaimana hal tersebut membuat Anda jatuh dan terpuruk.

Jika Anda sudah menyadarinya, kembalikan fokus perlahan-lahan. Apabila merasa kesulitan, bayangkan keluarga atau teman-teman Anda dalam kepala. Mereka semua menyayangi dan memperlakukan Anda dengan positif. Mereka tidak akan mengkritik keras Anda karena menerima diri Anda seutuhnya, tentu dengan kacamata yang baik.

Cara ini akan membuat Anda memahami dampak dari terlalu mengkritik dari diri sendiri serta mencoba mempertanyakan mengapa Anda melakukan itu kepada diri sendiri. Ingatlah bahwa untuk sepenuhnya bahagia, Anda harus menerima dengan positif segala hal yang telah Anda alami, baik itu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  • Refleksi diri

Coba ingat-ingat waktu dimana Anda mengkritik diri sendiri. Kapan dan untuk tujuan apa? Misalnya, Anda dari dulu memang selalu ingin menang saat mengikuti lomba-lomba sekolah. Dari sini, Anda mungkin jadi tahu bahwa Anda mengkritik diri sendiri sebagai cara untuk mendorong diri sendiri menjadi lebih, dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa Anda lebih.

  • Ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri

Langkah selanjutnya adalah mengetahui bahwa Anda tidak sendiri yang mengalami hal ini. Merasa gagal, membuat kesalahan, mengalami kemerosotan dalam hidup, itu adalah bagian dari pengalaman manusia. Anda tentu saja bukan satu-satunya yang merasakan itu semua. Lebih jauh, hidup tanpa kegagalan dan kesalahan mungkin akan terasa hambar dan tidak membuat Anda tumbuh lebih baik.

Self bullying ini juga dapat meluas menjadi self-cyberbulling, yakni melakukan perundungan online kepada diri sendiri dengan identitas fiktif. Menurut para ahli, self-cyberbullying termasuk ke dalam self-harm (menyakiti diri sendiri), dan telah menjadi masalah di kalangan remaja.

Mengutip dari National Public Radio, survei yang dipublikasikan tahun lalu di Journal of Adolescent Health menyebut bahwa remaja melakukan perundungan online terhadap diri sendiri sebagai cara untuk mengatasi kesedihan dan kebencian terhadap diri sendiri serta mencari perhatian dari teman-teman sebaya.

Berdasarkan laporan American Psychological Association, remaja yang menyakiti diri sendiri seperti itu biasanya memiliki depresi atau kesulitan dalam mengelola emosi. Tapi tidak semua remaja yang merundung diri mereka sendiri memiliki gangguan psikiatri. Meski begitu, tindakan tersebut tetap tidak dapat disepelekan, karena jika tidak mendapat penanganan kesehatan mental yang baik, bisa saja berujung pada depresi.

Terlalu keras mengkritik diri, menghakimi, dan menyudutkan diri sendiri merupakan bagian dari merundung diri sendiri atau self bullying. Hal ini harus menjadi perhatian bagi setiap orang, baik itu remaja dan orang dewasa. Jika Anda memiliki masalah yang tampaknya tak bisa diselesaikan sendiri, jangan segan untuk membicarakan dengan orang terdekat yang Anda percaya atau menghubungi psikolog/psikiater, agar bisa ditangani dengan baik dan tak berujung pada hal-hal yang lebih buruk lagi.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar