Sukses

Tentara Juga Rentan Kena PTSD

Kondisi PTSD juga bisa dialami tentara. Biasanya merupakan efek dari hal-hal traumatis yang mereka alami selama di medan konflik dan perang.

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) ternyata rentan dialami tentara atau veteran militer. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa PTSD telah meningkat di jajaran tentara Inggris dalam 10 tahun terakhir.

Studi dari King’s College London, Inggris, kepada hampir 9.000 anggota militer yang diterbitkan dalam jurnal medis “British Journal of Psychiatry” menunjukkan bahwa PTSD di kalangan militer meningkat dari 4 persen pada tahun 2004-2005 menjadi 6 persen pada rentang tahun 2014-2016.

Kebanyakan penderita adalah veteran militer yang melihat dan mengalami pertempuran aktif. Sejumlah 17 persen tentara melaporkan gejala PTSD yang mungkin terjadi. Para ahli mengatakan, kondisi ini merupakan serangan penyakit yang tertunda dan hilangnya dukungan ketika meninggalkan dinas tentara adalah penyebab yang paling mungkin. Kabar baik, meski kasus PTSD ditemukan meningkat, tapi lebih banyak veteran yang melaporkan dan mencari pengobatan karena meningkatnya kesadaran akan PTSD.

Di antara para veteran yang terlibat dalam perang di Irak atau Afganistan, 17 persen melaporkan gejala yang menunjukkan kemungkinan PTSD, dibandingkan dengan 6 persen yang ditempatkan pada posisi pendukung seperti tim medis dan awak pesawat.

Penulis dari Institute of Psychology, Psychiatry & Neuroscience (IoPPN) di King's College, Dr. Sharon Stevelink mengatakan, "Untuk pertama kalinya kami telah mengidentifikasi bahwa risiko PTSD untuk veteran militer yang dikerahkan dalam konflik jauh lebih tinggi daripada risiko bagi mereka yang sampai saat ini masih bertugas."

Lanjut Dr. Sharon, “Sementara peningkatan di kalangan veteran mengkhawatirkan, tapi tidak setiap veteran telah dikerahkan dan secara umum hanya sekitar satu dari tiga yang akan berada dalam pertempuran.”

Temuan ini berasal dari fase ketiga dari penelitian utama yang telah berjalan sejak tahun 2003. Fase terakhir dari penelitian ini melakukan survey terhadap peserta antara tahun 2014-2016. Sebanyak 62 persen dari mereka pernah dikirim ke Irak atau Afganistan, dengan usia rata-rata 40 tahun.

Studi ini juga menemukan bahwa gangguan kesehatan mental yang umum seperti kecemasan dan depresi sebagian besar tetap statis, yaitu pada angka 22 persen. Penyalahgunaan alkohol tetap menjadi masalah umum, tetapi ditemukan penurunan dari 15 persen menjadi 10 persen.

1 dari 2 halaman

Meninggalkan dinas tentara salah satu penyebab PTSD

Menjelaskan mengapa angka PTSD bisa tinggi di kalangan veteran militer, Prof. Nicola Fear dari IoPPN menunjukkan bahwa orang-orang dengan masalah kesehatan mental lebih cenderung meninggalkan militer. Tindakan itu biasanya diikuti dengan hilangnya dukungan sosial yang juga dapat memicu kondisi.

"Kami tahu bahwa individu yang mengalami masalah kesehatan mental lebih mungkin meninggalkan angkatan bersenjata. Kami juga tahu bahwa transisi meninggalkan angkatan bersenjata dapat meningkatkan tekanan. Itu membuat mereka mungkin perlu mencari tempat tinggal dan mungkin perlu mencari pekerjaan (baru)," Prof. Nicola menjelaskan.

PTSD memang menjadi masalah serius yang memengaruhi antara 4-5 persen populasi Inggris, dengan tingkat tertinggi 12 persen pada wanita berusia antara 16-24 tahun. Korban kekerasan seksual memiliki tingkat PTSD tertinggi.

Apa itu PTSD?

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid, dari KlikDokter, PTSD merupakan gangguan psikis yang rentan dialami oleh seseorang yang mengalami peristiwa mengerikan, terjadi mendadak, terlebih mengancam kehidupannya. Tentara yang dikirim ke lokasi konflik atau menjadi relawan gempa bisa saja mengalami hal tersebut. Selain itu, PTSD juga bisa dialami oleh seseorang yang menyaksikan suatu kejadian mengerikan dialami oleh orang terdekatnya.

Gejala awal PTSD bisa muncul segera setelah peristiwa mengerikan tersebut terjadi. Kondisi ini secara medis lebih tepat disebut sebagai gangguan stres akut. PTSD juga bisa baru muncul beberapa bulan setelah peristiwa mengerikan tersebut terjadi.

Setelah peristiwa traumatis yang dialami, seseorang dapat merasa sedih, tertekan, cemas, bersalah, dan marah. Selain itu, orang dengan PTSD juga mungkin sering mengalami kilas balik dan mimpi buruk.

Sementara itu, gejala fisik dari PTSD dapat berupa nyeri, diare, detak jantung tidak teratur, sakit kepala, perasaan panik dan takut, dan depresi. Jika gejala-gejala tersebut hanya berlangsung beberapa hari sesudah kejadian traumatis, itu bisa dibilang masih wajar. Akan tetapi, pada orang dengan PTSD, gejala-gejala di atas bisa berlangsung selama lebih dari satu bulan dan sangat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Untuk tentara yang ditugaskan di medan perang, kejadian-kejadian yang mengerikan tentu terekam jelas di ingatan. Ini dapat meningkatkan risiko PTSD. Jika terdiagnosis PTSD, mereka harus dibawa ke psikiater. Selanjutnya, mereka akan menjalani pengobatan berupa konseling, psikoterapi, dan obat-obatan. Sehingga diharapkan kondisi mereka akan bisa pulih dan kualitas hidup mereka pun bisa kembali seperti sedia kala.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar