Sukses

7 Challenge dari Media Sosial yang Mengancam Remaja

Tantangan atau challenge di media sosial kini semakin bervariasi. Meski menarik bagi remaja, nyatanya tak sedikit yang membahayakan kesehatan.

Klikdokter.com, Jakarta Karakter remaja yang menggebu-gebu dan akses media sosial yang tak terkendali terkadang bisa membuat teknologi menjadi sumber masalah. Belum lama ini ramai diberitakan peringatan terhadap keikutsertaan berbagai challenge di media sosial karena bahaya yang mengancam di baliknya.

Meski usia remaja merupakan peralihan menuju kedewasaan, menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, area otak yang bertanggung jawab untuk berpikir pada remaja belum cukup matang. Sehingga, terkadang keputusan yang dibuat oleh para remaja cenderung labil.

Tantangan menarik, namun berisiko tinggi

Bicara soal challenge atau tantangan di media sosial, Anda mungkin ingat dengan ice bucket challenge yang dilakukan oleh para selebriti untuk penggalangan dana. Fenomena ini merupakan hal positif yang bisa diambil dari penggunaan teknologi.

Tantangan yang muncul di media sosial menawarkan sesuatu yang tak dapat dimungkiri menantang. Namun tak sedikit yang juga sekaligus menantang maut. Beberapa tantangan tersebut di antaranya sebagai berikut:

1. Kiki challenge

Polisi di seluruh dunia telah memperingatkan orang-orang agar berhenti melakukan tantangan yang juga disebut sebagai In My Feelings Challenge ini. Pasalnya, beberapa orang telah mengalami kecelakaan akibat melakukan tantangan ini.

Beberapa waktu lalu diberitakan seorang wanita menjadi korban jambret akibat terlalu fokus melakukan tantangan dengan iringan musik milik Drake ini.

Bagaimana tidak? Tantangan ini dilakukan dengan satu orang mengendarai mobil sambal mendokumentasikan rekannya yang harus melompat dari mobil dan menari seiring dengan jalannya mobil dengan pintu mobil terbuka.

2. Momo

Momo challenge baru-baru ini terangkat akibat ditemukannya seorang remaja berusia 12 tahun asal Buenos Aires yang meninggal gantung diri untuk menjalankan tantangan terakhir dari challenge berbasis chatting via aplikasi WhatsApp ini.

Sebelumnya, angka bunuh diri di kalangan remaja di Argentina, Meksiko, Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman pun meningkat akibat tantangan ini.

Pengikut tantangan ini harus menyimpan nomor telepon seseorang bernama Momo yang diperoleh dari sebuah grup Facebook. Setelah berkomunikasi dengan Momo via Whatsapp, tantangan demi tantangan harus dilakukan.

Seluruh tantangannya merujuk pada hal-hal yang menyakiti diri sendiri, seperti melompat dari atap rumah, menyayat lengan, bangun di jam-jam aneh, dan yang lainnya. JIka tidak dilakukan, maka akun dengan avatar boneka instalasi karya Midoru Hayashi tersebut akan  mengirimkan rekaman suara, video, atau foto-foto yang menyeramkan.

3. Condom Snorting

Pertama kali muncul pada 2007 dan ramai kembali di 2013, tantangan ini langsung memicu kontroversi. Pelaku tantangan harus memasukkan kondom ke salah satu lubang hidung, menghirupnya kuat-kuat, hingga kondom keluar lewat mulut, lalu menariknya keluar.

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa tantangan ini sangat berbahaya, karena berisiko menyebabkan kondom tersangkut di antara hidung dan tenggorokan, sehingga membuat orang yang melakukannya tersedak.

Bicara tentang fenomena tantangan condom snorting, dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter menjelaskan bahwa ketika seseorang tersedak, trakea (batang tenggorok) akan tersumbat dan menyebabkan gangguan fungsi tubuh.

“Saat tersedak kondom, orang akan sulit bicara atau berteriak, wajah membiru akibat kekurangan oksigen, pelaku merasa seperti tercekik, hingga batuk dan mengalami gangguan pernapasan,” jelasnya.

4. Skip challenge

Sempat ramai di kalangan remaja Indonesia, di Amerika tantangan ini lebih dikenal dengan sebutan passed out challenge. Pelaku diharuskan menghirup udara sebanyak mungkin, kemudian 2–3 orang akan menekan dadanya sekuat tenaga hingga ia pingsan.

Meski terlihat kocak dan sederhana, nyatanya data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat sepanjang tahun 1995–2007 terdapat 82 kasus kematian anak usia di bawah 18 tahun yang diakibatkan oleh tantangan ini.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, mendorong dada dengan tekanan berlebih dapat menghambat oksigen masuk ke dalam sirkulasi darah, serta meningkatkan risiko gangguan jantung dan tekanan darah tinggi. Selain itu, organ bagian otak yang tidak cukup mendapatkan oksigen juga akan menyebabkan pelaku kehilangan kesadaran.

5. Cinnamon challenge

Meskipun tidak terlalu ramai dibicarakan di Indonesia, pelaku tantangan menelan sesendok kayu manis dalam 60 detik tanpa minum air ini telah mendapatkan peringatan dari para dokter.

Dalam jurnal Pediatrics tahun 2013, dijelaskan bahwa tantangan ini dapat menyebabkan masalah tenggorokan dan pernapasan, termasuk tersedak, dan paru-paru yang rusak.

Pada 2015 seorang anak laki-laki ditemukan tersedak hingga mati setelah menelan hampir seluruh bubuk kayu manis dalam satu wadah, tanpa disertai minum air.

6. Vampire biting

Berangkat dari euforia film Twilight, ternyata ada sekelompok remaja yang menciptakan sebuah challenge yang membahayakan pesertanya.

Orang yang mengikuti tantangan ini harus menggigit pasangannya hingga muncul bintik darah seperti digigit vampire. Padahal, risiko HIV, hepatitis, dan infeksi di lokasi gigitan dapat membahayakan kesehatan.

7. Salt and Ice

Tantangan terakhir dilakukan dengan meletakkan garam di lengan, lalu meletakkan es batu di atasnya dan membiarkan es batu tersebut mencair. Secara ilmiah, garam dapat mempertahankan suhu es, meski es batu telah mencair.

Atas tantangan ini, remaja yang melakukannya berisiko terkena radang dingin, yang mirip dengan kondisi ketika seseorang membakar diri. Namun, karena es menimbulkan sensasi mati rasa, maka pelaku tidak menyadari bahwa jaringan pada lengannya tengah terluka.

Tren tantangan ini sangat berbahaya, hingga sebuah lembaga pencegahan kekejaman anak di Inggris mengeluarkan peringatan kepada orang tua seputar bahaya di balik salt and ice challenge.

Dari berbagai jenis challenge yang ditawarkan melalui media sosial tersebut, terdapat satu kesamaan. Seluruh aktivitas saat melakukan tantangan harus diunggah ke media sosial sebagai pembuktian bahwa pelaku telah berhasil melakukannya.

Melihat hal ini, dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid., dari KlikDokter, mengatakan bahwa secara psikologis, usia remaja 10–17 tahun pada dasarnya memang sedang dalam tahap senang meniru dan mengikuti hal-hal yang dianggap keren atau menantang. Jadi, wajar saja bila para remaja merasa tertantang untuk melakukannya.

Dengan merebaknya berbagai challenge di media sosial yang mengancam kesehatan remaja, sebagai orang tua Anda harus selalu memantau aktivitas digital anak yang menginjak usia remaja. Gaul boleh, asal harus tetap bijak memilih aktivitas, ya!

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar