Sukses

Tips Mengatasi Trauma yang Dialami Pengungsi Gempa Lombok

Gempa Lombok hingga kini masih diikuti gempa susulan. Perlu ada trik khusus untuk mengatasi trauma pada pengungsi. Berikut ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Gempa bumi yang mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, NTB, pada Minggu (29/7) menimbulkan trauma tersendiri, terutama bagi para warga yang tinggal di kaki Gunung Rinjani. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyebutkan sementara ini terdapat 17 orang meninggal dunia dan ratusan korban luka. Akibat sejumlah gempa susulan, para pengungsi pun masih mengalami trauma, sehingga membutuhkan penanganan psikologis.

Informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan jumlah gempa susulan yang terjadi hingga Selasa (31/7) kemarin mencapai 348 kejadian dengan kekuatan sebesar 5,7 SR. Sekitar 2.301 unit rumah rusak berat, 596 unit rusak sedang, dan 2.551 rusak ringan.

Kenali gejala trauma pada korban

Trauma ditunjukkan dengan kondisi syok dan tertekan karena suatu peristiwa yang membekas dalam jangka waktu lama. Menurut ahli psikologi Frank Parkinson, peristiwa traumatis dapat terjadi pada saat bencana terjadi hingga bencana telah berlalu, yang dalam dunia psikologi disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Beberapa kondisi yang berpotensi menjadi peristiwa traumatis adalah bencana, menjadi korban kriminal, kehilangan orang yang dicintai, dan kehilangan harta benda.

Berikut ini adalah berbagai gejala trauma yang sebaiknya Anda ketahui:

  • Sulit menerima kenyataan atas apa yang terjadi.
  • Takut hal yang sama akan terjadi lagi.
  • Kesedihan yang berlarut-larut jika ada orang yang dikenal meninggal dunia.
  • Rasa bersalah yang timbul ketika selamat saat orang lain meninggal, padahal seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk mencegahnya.
  • Timbul rasa kesal terhadap situasi yang terjadi. Terkadang juga menyalahkan Tuhan atas bencana yang dilimpahkan padanya.

Berbagai gejala trauma tersebut dapat diatasi dengan melakukan trauma healing. Hal ini bisa dilakukan apabila Anda adalah korban bencana alam, ataupun saat Anda mendaftarkan diri menjadi relawan di lokasi terjadinya bencana alam, misalnya saja pada gempa Lombok.

1 dari 4 halaman

Mengembalikan semangat korban dengan trauma healing

Menurut Parkinson, trauma healing adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan trauma yang ada. Di sisi lain, trauma healing juga dapat membantu orang yang mengalami gangguan mental akibat syok. Dalam kasus gempa Lombok,  suara yang bergaung dan getaran dapat memicu timbulnya trauma.

Gangguan trauma pascabencana juga memiliki derajat gangguan yang berbeda-beda. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter.

“Penanganan trauma bisa berupa psikoterapi, terapi relaksasi atau terapi lainnya, serta konsumsi obat bila diperlukan,” jelasnya.

Berdasarkan penjelasan dari SAMHSA National Mental and Health Information Center, trauma healing harus dilakukan secara teratur agar dapat membangun kembali mental para korban. Beberapa hal yang bisa Anda lakukan adalah sebagai berikut:

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

1. Menjadi relawan di pengungsian

Sebagai relawan di pengungsian, Anda dapat membantu para korban agar terlepas dari bayang-bayang bencana dengan cara-cara berikut ini:

● Ajak pengungsi melakukan relaksasi

Anda dapat melakukan meditasi, yoga, atau Tai Chi. Ajak sesama pengungsi untuk melakukannya agar suasana menjadi lebih “cair” dan menyenangkan.

● Buat sharing berkelompok

Ajaklah warga di area pengungsian untuk berkumpul dan melakukan sharing terhadap apa yang dialami dan dirasakannya. Mendengar kisah yang sama atau mungkin lebih parah dapat mengubah pikiran korban yang merasa paling menderita.

Untuk sesi ini, Anda juga dapat mendatangkan dokter spesialis kejiwaan atau psikolog untuk membantu korban mendapatkan penanganan tertentu jika diperlukan.

● Mengadakan kegiatan yang produktif

Anda bisa mengajak warga membuat karya dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan, misalnya membuat sesuatu yang bermanfaat selama mereka tinggal di pengungsian, seperti bantal, selimut, atau boneka untuk anak-anak mereka.

Bagi para pria bisa diadakan kegiatan kerja bakti membersihkan reruntuhan rumah atau membangun toilet umum sementara.

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

2. Jika Anda adalah korban gempa

Harvard Medical School menjelaskan berbagai tips bagi para korban gempa untuk meredakan atau bahkan mencegah trauma:

● Terapi memasak

Pada area pengungsian biasanya terdapat dapur darurat. Ternyata, memasak bisa dijadikan upaya mengatasi trauma akibat bencana alam. Karena dilakukan secara bersama-sama, memasak di dapur darurat mendorong korban untuk berinteraksi dengan orang lain, sehingga tidak larut dalam kesedihan.

● Lakukan kegiatan positif

Mengatasi trauma juga bisa dilakukan dengan membantu orang lain. Karena menurut penelitian, membantu dan bersikap ramah terhadap orang lain dapat memberikan kesenangan yang kemudian mengurangi stres dan rasa tidak berdaya yang timbul karena bencana.

● Konsumsi makanan sehat

Makanan dapat memengaruhi suasana hati. Jadi, konsumsilah makanan yang mengandung protein berkualitas tinggi dan lemak sehat, terutama asam lemak omega-3. Kandungan tersebut dapat membantu menjaga kesehatan mental. Perbanyaklah makan sayur dan buah untuk agar Anda tidak menderita badan lemas.

● Tidur cukup

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, MEpid., tidur merupakan hal yang penting bagi semua orang, terutama bagi para pengungsi korban bencana alam. “Saat tidur, sel-sel dalam tubuh akan beregenerasi dan menciptakan hormon yang dibutuhkan oleh tubuh,” jelasnya.

Jika kekurangan tidur, daya tahan tubuh seseorang akan menurun, sehingga stamina dan konsentrasinya juga ikut menurun.

Dijelaskan oleh dr. Reza, dukungan keluarga sangat membantu untuk mencegah dan memperbaiki gejala yang dialami pascabencana. “Bila ada orang-orang terdekat Anda mengalami gejala trauma, berikan dukungan dan rasa aman agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi musibah tersebut,” ujarnya.

Para pengungsi yang menjadi korban bencana alam seperti gempa Lombok memang rentan mengalami trauma. Oleh sebab itu, trauma healing dan berbagai cara mengatasi trauma seperti dijelaskan di atas, perlu dilakukan secara berkesinambungan hingga trauma mereda.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar