Sukses

Studi Baru Mengungkap Hubungan antara Kehamilan dan Alzheimer

Menurut hipotesis peneliti, kehamilan dapat meningkatkan risiko Alzheimer pada kemudian hari.

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini, sebuah studi menyebutkan bahwa kehamilan dapat berperan dalam meningkatkan risiko Alzheimer. Begitu juga dengan usia saat mendapat menstruasi pertama kali dan menopause.

Dipresentasikan pada 2018 Alzheimer’s Association International Conference di Chicago pada 23 Juli lalu, studi tersebut adalah hasil penelitian para ilmuwan dari University of California dan grup healthcare Kaiser Permanente.

Untuk studi tersebut, para peneliti menganalisis 14.595 wanita antara usia 40 dan 55 yang menjadi anggota Kaiser Permanente dari tahun 1964 dan 1973. Mereka menelaah milestone reproduksi setiap wanita, termasuk periode pertama mereka, jumlah anak-anak, dan keguguran yang mereka alami, dan ketika mereka mulai menopause. Kemudian para peneliti mengaitkannya dengan catatan diagnosis demensia.

Setelah disesuaikan dengan faktor-faktor yang dapat memengaruhi demensia seperti obesitas, merokok, pendidikan dan ras, para peneliti menemukan bahwa wanita yang memiliki tiga atau lebih anak berisiko 12 persen lebih rendah terkena demensia dibandingkan dengan wanita dengan satu anak.

Selain itu, wanita yang pernah keguguran berisiko lebih tinggi untuk terkena demensia dibanding wanita yang tidak pernah keguguran. Fase menstruasi wanita juga memengaruhi risiko demensia. Wanita yang haid pertamanya di usia 16 atau lebih rentan terserang demensia 22% dibandingkan wanita yang mengalami haid pertama antara usia 10 dan 13 tahun.

1 dari 2 halaman

Pengaruh kadar estrogen

Ada satu lagi studi yang telah mengaitkan kehamilan dan risiko Alzheimer, yang hasilnya jauh berbeda dari studi di atas dan telah dipublikasikan di jurnal Neurology. Para peneliti dari Korea menganalisis 3.500 wanita dari Korea dan Yunani, dan menemukan bahwa wanita yang memiliki lima anak atau lebih, berisiko dua kali terkena Alzheimer daripada wanita yang memiliki satu hingga empat anak.

Mereka juga melaporkan bahwa wanita yang kehamilannya bermasalah, karena keguguran atau aborsi, lebih baik dalam mengerjakan tes kognitif dibanding wanita yang tidak pernah mengalami keguguran atau aborsi.

Menurut penulis studi tersebut Dr. Ki Woong Kim, hasil penelitian tersebut mungkin memberikan penjelasan mengapa Alzheimer lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria. “Karena kehamilan dan persalinan memicu perubahan kadar hormon seks yang dramatis, kami berhipotesis bahwa kehamilan dapat memengaruhi risiko Alzheimer pada kemudian hari.”

Kim menjelaskan pada kadar estrogen dapat naik hingga 40 kali ketika hamil. Pada kadar tertentu, estrogen memang dapat melindungi otak. Tetapi jika kadarnya terlalu tinggi, maka bisa berbahaya. Secara teoritis, Kim mengatakan, ada kemungkinan wanita yang memiliki banyak anak terpapar kadar estrogen yang ekstrem yang kemudian merusak fungsi kognitif seiring berjalannya waktu.

Namun, menurut Rachel Whitmer, profesor epidemiologi dari University of California Davis, mengatakan bahwa estrogen yang mencuat saat wanita hamil tidak sama dengan estrogen saat wanita dalam masa subur dan ovulasi.

Whitmer juga mengatakan, hasil penelitian tersebut tidak dapat dijadikan pedoman mengenai angka ideal kehamilan yang harus ditargetkan wanita untuk mencapai kesehatan otak yang optimal. Selain itu, masih diperlukan studi dan penelaahan lebih lanjut mengapa wanita memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia.

Apalagi, selain kehamilan yang disebut mampu tingkatkan risiko Alzheimer, masih banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan. Kondisi pubertas, melahirkan anak dan menopause, juga bisa memengaruhi otak yang kelak berdampak pada penyakit seperti demensia dan Alzheimer.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar