Sukses

Cyberbullying, Apa Pengaruhnya Bagi Mental Anak?

Kini bullying tidak hanya terjadi secara langsung namun juga terjadi di dunia maya, atau biasa disebut cyberbullying. Apa saja pengaruhnya bagi mental anak?

Klikdokter.com, Jakarta Cyberbullying adalah tindakan perundungan atau bullying yang dilakukan melalui peralatan digital. Misalnya telepon genggam, komputer, laptop, dan sebagainya. Perundungan dapat terjadi melalui SMS, chat, media sosial, forum, gaming, dan lain-lain.

Tindak perundungan ini biasanya sangat mudah menjadi viral di internet. Sering kali pelaku bullying mendapat keuntungan karena merasa tidak dikenal atau anonim. Hal ini membuat para pelaku merasa bebas untuk menghina.

Bagaimana perundungan di dunia maya terjadi? Perundungan biasa dilakukan lewat dunia maya bisa berupa foto yang diunggah atau ‘komentar pedas’ yang dapat bertahan secara permanen di internet dan mudah diakses siapa pun.

Perilaku ini sering dialami oleh anak-anak, terutama anak usia sekolah. Padahal, perilaku yang bagi sebagian orang dianggap menghibur ini memberikan pengaruh buruk bagi mental anak yang menjadi korban perundungan.

1. Timbulnya tekanan emosional

Bagi korban, perundungan yang terjadi terus-menerus tentu dapat menjadi pemicu stres. Mereka akan merasakan kesedihan, kemarahan, bahkan rasa frustrasi akibat perundungan yang ditujukan padanya. Semakin banyak seseorang mengalami perundungan, tekanan emosional yang dirasakan akan semakin berat.

Tidak jarang, seseorang yang menjadi korban akan merasa stres berat. Bahkan, ia dapat mengalami depresi, kecemasan berlebih, dan paranoid. Berbagai keluhan tersebut dapat memengaruhi mental anak dan berlanjut hingga usia dewasa. Selain itu, korban juga akan merasa tidak nyaman di lingkungannya, misalnya di sekolah.

2. Berkurangnya rasa percaya diri

Korban sering kali merasa tidak disukai oleh banyak orang akibat perundungan. Hal ini bisa memengaruhi rasa percaya diri dan citra dirinya. Rasa sakit hati yang didapat korban perundungan dapat bertahan lebih lama daripada luka fisik.

Perundungan juga dapat merusak citra diri seseorang, menyebabkan korban merasa selalu ketakutan, membenci diri sendiri, dan sebagainya. Berkurangnya atau rusaknya rasa percaya diri dapat membuat anak merasa tidak mampu melakukan berbagai hal. Anak pun jadi meragukan dirinya sendiri.

Hal ini mengganggu kemampuannya dalam menghadapi berbagai masa sulit dalam hidupnya yang dapat berdampak di kemudian hari. Misalnya dalam pekerjaan, hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, atau menghadapi masalah hidup yang membutuhkan persistensi dan keberanian.

3. Mengisolasi diri

Anak yang mengalami cyberbullying dapat menjauh dari keluarga dan teman-temannya karena malu. Selain itu, anak mungkin cenderung berusaha menghabiskan waktu sendirian. Hal ini karena ia merasa berada di sekitar orang lain menyakitkan, karena orang lain berusaha menyakiti dirinya secara emosional.

Anak dapat terlihat menarik diri dari kegiatan-kegiatan yang dulu disukainya, misalnya berlatih olahraga bersama temannya. Bahkan, lama-lama ia menjadi enggan untuk bersekolah.

Walaupun tetap masuk, biasanya anak akan menghindari partisipasi di ruang kelas –seperti bertanya atau membentuk kelompok belajar. Hal ini tentunya bisa memengaruhi prestasi akademik anak.

4. Melakukan berbagai kebiasaan merugikan

Banyak dari korban perundungan berusaha mengatasinya dengan melakukan berbagai kebiasaan yang malah semakin merugikan dirinya sendiri. Contohnya merokok, konsumsi alkohol, konsumsi narkoba, dan lain-lain.

Anak juga berisiko memiliki kebiasaan bolos dari sekolah dan kurang bertanggung jawab dengan tugas-tugas sekolahnya.

Bisa dilihat dari berbagai hal di atas bahwa cyberbullying memberikan banyak dampak negatif bagi mental anak. Sebagai orang tua, penting bagi Anda untuk mengawasi aktivitas media sosial anak dan menerapkan komunikasi yang baik, sehingga Anda mudah mengetahui ketika anak menjadi korban.

Jika anak Anda menjadi korban cyberbullying, bantulah ia menghentikan perundungan dan berikan dukungan penuh. Hal tersebut akan sangat membantu anak dalam melewati masa-masa sulitnya, sekaligus memperbaiki kondisi mental anak.

[NP/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar