Sukses

Trypophobia Bisa Picu Depresi dan Badan Lemas

Trypophobia, jenis fobia akan sekumpulan lubang kecil ini berhubungan dengan depresi dan badan lemas.

Klikdokter.com, Jakarta Jenis fobia seperti claustrophobia mungkin sudah tak asing lagi di telinga. Namun, bagaimana dengan trypophobia? Ketakutan akan kumpulan lubang kecil ini, meski terdengar aneh, bukanlah kondisi yang main-main. Tak hanya memicu badan lemas, sebuah studi mengatakan bahwa ada kaitan antara trypophobia dengan depresi.

Fobia adalah ketakutan yang berlebihan dan tidak bisa dikendalikan terhadap suatu objek atau situasi. Sebenarnya fobia tidak dipicu oleh hal yang benar-benar menakutkan atau mengancam keselamatan penderita. Karena itu fobia sering disebut sebagai rasa takut yang tidak rasional. Kondisi ini dapat menetap seiring dengan berjalannya waktu dan mengganggu aktivitas sehari-hari penderita.

Pada trypophobia, penderita dapat merasa takut atau jijik ketika melihat objek yang meliputi kumpulan lubang kecil. Objek-objek yang sering memicu trypophobia meliputi biji bunga lotus, spons, gelembung sabun, karang, stroberi, buah delima, dan sarang lebah. Hewan, baik serangga, amfibi, maupun mamalia, yang memiliki pola bintik atau lingkaran pada kulit juga dapat menjadi pencetus.

Bukan cuma takut atau jijik, penderita trypophobia bisa mengeluh ketakutan ketika melihat objek berlubang seperti itu. Dapat juga merasa tertekan, gatal atau seolah ada sesuatu yang merayap pada kulit, berkeringat, panik, hingga mual.

Selain itu, fobia biasanya dilandasi oleh tujuan proteksi atau perlindungan, seperti kasus fobia ketinggian (acrophobia) atau laba-laba (arachnophobia). Lalu bagaimana dengan trypophobia?

Penelitian terkait trypophobia

Pada sebuah studi dari Psychological Science, para ahli berpendapat bahwa trypophobia berhubungan dengan ketakutan bawah sadar akan organisme berbahaya yang memiliki pola bintik-bintik pada permukaan tubuhnya, seperti beberapa ular dan kalajengking. Para peneliti menemukan 16 persen responden merasa jijik atau takut ketika melihat gambar bentuk-bentuk ini.

Studi lain dari jurnal Cognition and Emotion menunjukkan teori lain di balik trypophobia. Para peneliti berpendapat bahwa trypophobia dapat berhubungan dengan mekanisme  evolusi bawaan terhadap parasit atau penyakit menular yang menghasilkan bintik berbentuk bulat menyerupai lubang, seperti cacar dan campak.

Para peneliti menemukan bahwa orang-orang dengan trypophobia akan bereaksi terhadap gambar-gambar yang berhubungan dengan penyakit tersebut. Mereka akan merasa jijik ketimbang takut. Ada juga yang merasakan sensasi pada kulit, seperti gatal atau ada sesuatu yang merayap pada kulit. Gelembung dalam secangkir kopi adalah salah satu pemicu trypophobia yang paling umum dalam studi tersebut.

Gejala dari trypophobia dapat dibagi menjadi tiga kategori:

  • gejala kognitif seperti perasaan gelisah dan keengganan
  • gejala kulit seperti gatal atau merasa ada yang merayap
  • gejala fisiologis seperti mual, sesak napas dan lemas

Biasanya gejala tersebut persisten dan kronis serta sering terjadi pada wanita. Bahkan, penderita dapat merasakan gejala ketika sedang tidak berhubungan langsung dengan pemicu (lubang-lubang). Keparahan dari fobia ini bervariasi. Ada yang tidak mengalami gejala panik sama sekali hingga mengalami puluhan kejadian panik tiap bulannya.

Tak banyak yang diketahui mengenai faktor risiko trypophobia. Namun, satu studi tahun 2017 menemukan adanya kemungkinan hubungan antara trypophobia dengan depresi serta gangguan kecemasan. Menurut para peneliti, penderita trypophobia lebih mungkin mengalami depresi atau gangguan kecemasan.

Karena itu, jangan anggap remeh trypophobia. Ketakutan irasional terhadap lubang ini bisa berhubungan dengan depresi dan badan lemas. Jika Anda merasa memiliki trypophobia atau fobia lainnya yang mengganggu aktivitas sehari-hari, harap berkonsultasi dengan dokter agar dapat ditangani secara maksimal.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar