Sukses

Keputihan Berwarna Hijau, Normalkah?

Apakah keputihan yang berwarna hijau merupakan pertanda adanya infeksi?

Klikdokter.com, Jakarta Setiap wanita pasti pernah mengeluhkan keputihan. Keputihan dipengaruhi oleh perubahan hormonal dalam tubuh, misalnya saat menjelang menstruasi, kehamilan, stres, dan sebagainya.

Keputihan terdiri atas dua tipe, yakni normal dan tidak normal. Penting bagi wanita untuk mengetahui ciri-ciri keputihan yang normal maupun tidak normal. Dengan demikian, jika terjadi keputihan tidak normal, wanita tersebut dapat memeriksakan diri lebih awal sehingga tertangani dengan baik.

Keputihan normal vs. keputihan tidak normal

Keputihan normal memiliki ciri berwarna bening, tidak berbau, konsistensi seperti lendir, dan tidak menimbulkan gejala seperti nyeri perut ataupun gatal. Keputihan yang normal jika menempel pada celana dalam dapat berubah menjadi warna kekuningan.

Sementara itu, keputihan yang tidak normal timbul akibat kondisi medis tertentu. Penyebab yang paling sering adalah karena infeksi parasit atau jamur atau bakteri. Nah, keputihan jenis ini memiliki ciri-ciri berwarna, berbau, gatal, serta adanya keluhan lain seperti nyeri perut, nyeri buang air kecil, dan lainnya.

1 dari 3 halaman

Keputihan berwarna hijau dan trikomoniasis

Jika keputihan berubah warna menjadi hijau, Anda harus lebih waspada. Pasalnya, keputihan yang berwarna hijau adalah ciri khas dari penyakit trikomoniasis.  

Trikomoniasis disebabkan oleh infeksi parasit Trichomonas vaginalis. Parasit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual sehingga termasuk dalam kategori penyakit infeksi menular seksual. Artinya, sangat jarang parasit ini menyerang wanita yang belum pernah berhubungan intim.

Selain keputihan yang berubah warna menjadi hijau, ciri lain dari infeksi trikomoniasis adalah keputihan yang berbusa, berbau tidak sedap, nyeri buang air kecil, gatal, dan nyeri saat berhubungan intim.

Infeksi parasit ini harus diobati sesuai dengan dosis dan anjuran dokter. Penderita akan diberikan obat metronidazole atau tinidazole. Obat ini tidak boleh diberikan bila penderita dalam keadaan hamil tiga bulan pertama, karena efeknya berbahaya pada janin.

Karena termasuk dalam penyakit menular seksual, tidak hanya sang wanita yang diobati, pasangan seksualnya juga harus ikut diobati. Penderita disarankan untuk tidak berhubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh. Namun, walaupun pengobatan telah berhasil, tidak menjadikan seseorang kebal selamanya karena bisa terinfeksi kembali.

Komplikasi trikomoniasis bagi wanita dapat berdampak serius, yaitu kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah, dan penularan infeksi ke bayi.

2 dari 3 halaman

Kiat menjaga kesehatan vagina

Berikut adalah tujuh kiat menjaga kebersihan vagina agar terhindar dari infeksi bakteri, jamur, ataupun parasit:

  1. Jaga kebersihan vagina. Bila hendak membilas setelah buang air kecil, lakukan dari arah depan ke belakang agar kuman dari anus tidak masuk ke vagina. Setelah itu, gunakan tisu atau handuk bersih untuk mengeringkan.
  2. Ganti celana dalam secara teratur apabila berkeringat.
  3. Hindari penggunaan celana dalam yang terlalu ketat agar sirkulasi udara baik.
  4. Jauhi kebiasaan vaginal douche karena dapat mengganggu keseimbangan flora normal vagina dengan menghilangkan bakteri yang berguna.
  5. Tidak menggunakan produk antiseptik untuk vagina karena dapat menyebabkan perubahan keasaman dan keseimbangan bakteri.
  6. Praktikkan hubungan seksual yang aman, dengan menggunakan kondom untuk menghindari infeksi menular seksual.
  7. Bila perlu, gunakan pantyliner untuk menyerap keputihan yang sangat banyak. Pantyliner tidak akan menyebabkan keputihan bila diganti setiap tiga jam sekali.

Apabila Anda mengalami keputihan yang tidak normal, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. Penanganan yang tepat akan mencegah komplikasi serius pada kemudian hari.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar