Sukses

Robot Seks, Solusi untuk Kebutuhan Seks Manusia?

Bisnis robot seks kian menjamur dan digemari khalayak luas. Makin canggih, makin dipertanyakan pula andilnya dalam sosial masyarakat.

Klikdokter.com, Jakarta Penggunaan robot seks bukanlah hal yang tabu lagi. Menurut sejumlah pakar, keberadaan alat bantu tersebut kian populer dan mampu menuntaskan beberapa permasalahan di ranjang.

Seiring dengan teknologi yang kian maju, robot seks kini dikembangkan lagi menjadi lebih canggih. Dengan kemampuan yang beraneka ragam, alat bantu seks ini mampu melakukan banyak hal dan tak hanya berperan menuntaskan hasrat seksual pemiliknya.

Dilansir Liputan6, ada sebuah robot seks komersial pertama dunia dengan aksen Skotlandia yang dibanderol dengan harga 15000 euro atau sekitar Rp235 juta. Konon, robot itu memiliki sifat yang lembut dan bisa melakukan hal lebih dari sekadar aktivitas seks, misalnya menjadi teman curhat.

Matt McMullen, pencipta robot seks versi Harmony 2.1 tersebut, mengatakan bahwa peminat dapat memilih lebih dari 30 wajah, 16 tipe tubuh, dan 18 kepribadian yang berbeda. Hal ini termasuk ukuran payudara.

Menurut McMullen yang sudah berkecimpung dalam bisnis boneka seks selama lebih dari 20 tahun, hal yang diminta pembeli produknya adalah adanya rasa kontak manusia. "Mereka ingin berpegangan tangan dan dipeluk saat mereka pulang," kata McMullen.

Ada pula robot yang dibuat oleh sebuah perusahaan bernama Exdoll yang bermarkas di Dalian, Tiongkok. Perusahaan ini punya ambisi untuk menanamkan teknologi kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence) pada robot seks tersebut.

Selain dua di atas, sejumlah negara lain juga mengembangkan robot seks dengan fitur yang berbeda, menyesuaikan dengan minat pasar. Hingga akhirnya, alat ini kemudian kian mutakhir dan makin digandrungi khalayak luas. Lantas, apakah robot seks mampu menjadi solusi untuk kebutuhan hasrat seksual manusia?

1 dari 2 halaman

Pro dan kontra robot seks

Merujuk dari Men’s Health, keberadaan robot seks yang kian canggih dan bisa melakukan aktivitas lain yang mampu menggantikan pasangan nyata, dapat membuat penggunanya kian terisolasi secara sosial. Namun di samping itu, sama dengan alat bantu seks lain, keberadaan robot seks konon mampu menjadi penolong dan pendongkrak kepercayaan diri bagi mereka yang terisolasi secara seksual.

Sonya J.F. Barnett, pakar seks asal Toronto, menyebut bahwa keberadaan boneka seks dapat membantu sejumlah golongan mulai dari golongan difabel, gangguan kecemasan sosial, mereka yang baru mengalami perceraian, serta mereka yang tengah merasa tidak nyaman dengan intimasi antarmanusia.

"Tidak ada yang salah dengan memuaskan kenikmatan seksual jika tidak ada yang terluka,” ujar Sonya.

Namun sekali lagi, kubu peneliti lainnya mengungkapkan bahwa terlalu lama bersama robot seks dapat membuat sang pemilik merasa terisolasi dan kesepian. Hal ini terjadi karena hubungan dengan robot amat berbeda dengan sosialiasi antarmanusia, sekalipun robot seks memiliki ekspresi dan kemiripan secara fisik yang hampir menyerupai manusia.

Uniknya, robot seks yang beberapa waktu lalu identik sebagai alat bantu untuk laki-laki, kini berkembang dengan adanya robot seks untuk perempuan. Fiturnya sama, namun memiliki struktur dan kemampuan berbeda. Jadi, bagaimana tanggapan Anda? Apakah Anda tertarik mempunyai robot seks?

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar