Sukses

Mengenal Sindrom Asperger

Sindrom asperger merupakan suatu sindrom yang mirip dengan autisme. Yuk mengenal sindrom asperger lebih jauh bersama dr. Karin Wiradarma di sini.

Sindrom Asperger adalah bentuk ringan dari autisme yang ditemukan oleh seorang dokter berkebangsaan Austria, Hans Asperger, pada tahun 1944.

Kelainan yang sempat diangkat ke dalam sebuah film Bollywood ini memiliki angka kejadian yang lebih tinggi daripada autisme. Namun karena gejalanya lebih ringan dan tidak sekhas autisme, sindrom ini sering luput di diagnosis.

Menurut data statistik, 1 dari 100 anak di Inggris, dan 1 dari 250 anak di Amerika dan Kanada mengalami sindrom Asperger. Kelainan ini dialami oleh anak laki-laki 4 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan.

Sindrom Asperger umumnya mulai dapat diketahui ketika anak berusia 2 hingga 6 tahun, di mana kemampuan berbahasa dan komunikasi anak sedang berkembang dengan pesat.

Gejala Sindrom Asperger

Gejala utama sindrom ini ada tiga, yaitu gangguan komunikasi, interaksi, dan imajinasi.

Komunikasi

Anak dengan sindrom Asperger mengalami kesulitan untuk memahami komunikasi, bahkan dalam bahasa yang sering digunakan sehari-hari sekalipun. Bahasa yang sering digunakan seolah-olah tampak seperti bahasa asing di telinganya. Selain itu, mereka pun mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri secara emosional dan sosial.

Anak Asperger juga sulit memahami gerakan tubuh orang lain, mulai dari bahasa tubuh, ekspresi wajah, hingga intonasi suara. Selain itu, mereka juga kesulitan untuk memulai, membangun topik, dan mengakhiri percakapan dengan orang lain.

Agar anak Asperger dapat memahami pembicaraan dengan lebih baik, berbicaralah dengan singkat dan jelas.

Interaksi Sosial

Anak dengan sindrom Asperger mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman-temannya, baik untuk memulai ataupun mempertahankan pertemanan. Seringkali mereka juga kurang dapat menangkap hal-hal yang benar dan salah dalam etika pertemanan.

Imajinasi

Anak dengan sindrom Asperger kesulitan berimajinasi. Mereka lebih menyukai bidang yang lebih logis, seperti matematika dan fisika. Selain itu, mereka juga kesulitan dalam menduga-duga apa yang orang lain alami atau rasakan, meskipun jika hal tersebut cukup dapat diketahui oleh orang pada umumnya.

Penyebab Sindrom Asperger

Hingga kini, penyebab sindrom Asperger masih dalam penelitian. Meskipun demikian, para ahli menduga bahwa terdapat kombinasi beberapa faktor genetik dan lingkungan.

Pasalnya, penyebab sindrom asperger ini belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, para ahli belum dapat menemukan obat yang dapat menyembuhkan sindrom ini. Walaupun demikian, potensi anak dapat dioptimalkan jika sindrom ini terdeteksi sedini mungkin.

Metode Pengobatan untuk Sindrom Asperger

Beberapa metode dapat digunakan untuk terapi sindrom Asperger, di antaranya dengan pendidikan khusus, modifikasi perilaku, terapi wicara, fisik, maupun keterampilan sosial. Jika diperlukan, dokter dapat memberikan obat-obatan untuk mendukung terapi yang dilakukan.

0 Komentar

Belum ada komentar