Covid-19

7 Gejala COVID Omicron XBB dan XBC yang Perlu Diwaspadai

Siti Putri Nurmayani, 08 Nov 2022

Ditinjau Oleh dr. Dyah Novita

Kasus COVID-19 di Indonesia kembali meningkat. Infeksi varian COVID Omicron XBC dan XBB diduga jadi penyebabnya. Ini sederet gejalanya.

7 Gejala COVID Omicron XBB dan XBC yang Perlu Diwaspadai

Kasus COVID-19 di Indonesia kembali meningkat drastis. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, ada tambahan 3.828 orang positif terinfeksi virus corona per Senin (7/11/2022).

Di tengah peningkatan kasus coronavirus di Tanah AirKetua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Erlina Burhan mewanti-wanti ancaman subvarian Omicron XBB dan XBC. Menurutnya, orang yang belum pernah mengidap COVID-19 berisiko lebih besar terinfeksi COVID XBB dan XBC. Hal ini jika dibandingkan dengan penyintas COVID-19. 

XBB sendiri adalah varian COVID Omicron baru yang ditemukan pada Agustus 2022 di India. Dalam waktu singkat, virus ini telah menyebar di lebih dari 17 negara, termasuk Indonesia.

Sedangkan XBC adalah turunan COVID Delta serta Omicron BA.2 dan BA.2.75. Virus ini pertama kali ditemukan di Inggris pada awal Oktober 2022. Hingga saat ini, Omicron XBC dilaporkan sudah masuk ke Filipina.

Lalu, apa saja gejala infeksi COVID XBB dan XBC yang perlu kamu waspadai?

1. Anosmia

Anosmia

Erlina Burhan menduga bahwa gejala COVID XBB dan XBC mirip dengan gejala infeksi Omicron umumnya. Namun, ia meyakini gejala subvarian Omicron ini juga disertai gejala khas varian Delta, yaitu anosmia alias hilangnya kemampuan mencium aroma.

Menurut Journal of Korean Medical Science, kebanyakan pasien COVID-19 dengan gangguan indra penciuman sembuh dalam kurun tiga minggu. Rata-rata waktu pemulihan yang dibutuhkan selama tujuh hari.

Artikel Lainnya: Fakta Seputar COVID-19 Varian XBB yang Meningkat di Singapura

2. Ageusia

Gejala COVID XBB berikutnya adalah ageusia. Seperti telah disampaikan, XBC adalah subvarian turunan Delta. Kendati belum dibuktikan secara ilmiah, Erlina Burhan menduga infeksi XBC bisa menyebabkan gejala khas infeksi Delta, berupa ageusia alias hilangnya kemampuan mengecap.

Masih mengutip Journal of Korean Medical Science, seperti halnya anosmia, ageusia yang dialami pengidap COVID-19 bisa sembuh dalam kurun tiga minggu dengan rata-rata waktu pemulihan selama tujuh hari.

3. Demam

Seperti gejala infeksi COVID-19 umumnya, subvarian Omicron XBB dan XBC menyebabkan demam. Meski begitu, kamu bisa saja terkena virus corona tanpa mengalami demam.

Sebuah penelitian yang dimuat Taylor & Francis Public Health Emergency Collection, mengungkapkan rata-rata pasien COVID-19 mengalami demam selama 10 hari. Pasien yang dirawat di ICU cenderung mengalami demam lebih lama daripada pasien COVID-19 yang tidak dirawat secara intensif.

4. Batuk, Pilek, dan Nyeri Tenggorokan

Orang yang terinfeksi COVID XBB dan XBC bisa mengalami gejala mirip flu, berupa batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Namun, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, terdapat perbedaan durasi munculnya gejala usai terinfeksi virus influenza dengan coronavirus.

Gejala batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan akibat flu dapat muncul sekitar 1-4 hari setelah terinfeksi. Sementara, gejala infeksi SARS-CoV-2 bisa muncul setelah 2-5 hari. Dalam beberapa kasus, gejala COVID-19 muncul 14 hari setelah terinfeksi.

Selain itu, COVID-19 bisa menyebabkan batuk berlangsung terus-menerus selama lebih dari satu jam.

5. Sakit Kepala

Sakit kepala adalah salah satu gejala COVID-19 yang bisa mengganggu. Kondisi ini diduga bisa dialami orang yang terinfeksi XBB dan XBC.

Umumnya, nyeri sakit kepala akibat infeksi virus corona sangat bervariasi. Rasa nyeri yang muncul bisa seperti ditekan hingga berdenyut parah. Biasanya, sakit kepala berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu.

6. Mual, Muntah, dan Diare

Pasien COVID-19 umumnya mengalami gangguan saluran cerna. Bukan tidak mungkin hal ini dialami orang yang positif XBB dan XBC.

Tekanan psikologis, seperti cemas dan stres saat terinfeksi virus corona bisa menyebabkan mual dan muntah. Menurut Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, pasien COVID-19 yang menggunakan obat antibiotik dan antivirus untuk mendukung proses penyembuhan juga bisa mengalami efek samping berupa diare.

7. Sesak Napas

Seperti gejala infeksi virus corona umumnya, pengidap COVID XBB dan XBC sangat mungkin mengalami sesak napas. Namun, tidak semua gejala kesulitan bernapas berbahaya. Gejala COVID XBB satu ini bisa berupa susah bernapas lega seperti saat terkena flu.

Nah, apabila sesak napas yang dirasakan makin berat, ditandai dengan napas pendek dan cepat, nyeri dada saat bernapas, dan batuk saat menahan napas, segera minta bantuan medis.

Artikel Lainnya: Perbedaan Sesak Napas karena Virus Corona dan Asma

Waspadai gejala omicron XBB dan XBC. #JagaSehatmu dengan disiplin menjaga protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan, membatasi mobilitas, menghindari keramaian, dan menerapkan gaya hidup sehat.

Segera hubungi dokter apabila kamu mengalami gejala COVID varian XBB dan XBC di atas! Konsultasi online seputar COVID-19 juga bisa kamu lakukan melalui fitur Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter.

(ADT/JKT)

coronavirusAnosmia

Konsultasi Dokter Terkait