Sukses

Pengertian Plagiocephaly

Plagiocephaly adalah suatu kondisi di mana kepala bayi mengalami perubahan bentuk menjadi datar pada salah satu sisinya. Di Indonesia, plaghiocephaly dikenal sebagai kepala peyang. 

Perubahan bentuk kepala bayi sebenarnya bisa terjadi secara normal, misalnya setelah proses persalinan. 

Saat melewati jalan lahir, kepala bayi akan tertekan dan lempeng- lempeng tulang tengkorak yang masih tersusun longgar dapat tumpang tindih selama beberapa saat. Tumpang tindihnya lempeng-lempeng tengkorak ini dapat terjadi karena struktur tengkorak yang masih longgar, terutama di bagian fontanel atau ubun-ubun. 

Bila proses persalinan memakan waktu yang cukup panjang, penekanan tulang kepala ini akan membuat bentuk kepala bayi menjadi lonjong dan terlihat peyang. Tidak perlu khawatir, pada kondisi ini bentuk kepala bayi akan menjadi normal kembali dalam hitungan minggu hingga bulan. 

Selain akibat proses persalinan, kepala bayi yang berbentuk peyang juga dapat terjadi akibat posisi tidur yang tidak diubah-ubah atau relatif sama dari waktu ke waktu. Peyang yang disebabkan oleh kesalahan dalam memosisikan bayi inilah yang dinamakan plagiocephaly yang sifatnya posisional. 

Plagiocephaly juga dapat terjadi akibat kelainan kongenital, di mana salah satu area tengkorak yaitu sutura koronal, menutup lebih cepat dari seharusnya (craniosinostosis). Akan tetapi kasus plagiocephaly akibat kelainan kongenital ini sangat jarang terjadi. Plagiocephaly yang umumnya dijumpai dilatarbelakangi oleh kekeliruan dalam posisi menidurkan bayi.

Penyakit Plagiocephaly (Foto: Medindia)

Diagnosis Plagiocephaly

Plagiocephaly paling mudah dikenali dengan melihat bentuk kepala bayi dari sisi atas. Dari sisi pandang ini, bagian kepala yang peyang terlihat lebih datar dibandingkan dengan sisi lainnya.

Untuk menentukan penyebab plagiocephaly, apakah karena posisi atau karena kelainan kongenital, diperlukan beberapa pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tersebut berupa: 

  • Rontgen dan CT-scan kepala untuk melihat keutuhan sutura atau garis- garis antara tulang tengkorak
  • Pemeriksaan genetik untuk mengevaluasi kemungkinan adanya sindrom yang menyebabkan craniosynostosis

Penyebab Plagiocephaly

Sebagian besar plagiocephaly disebabkan oleh posisi tidur yang sama dari waktu ke waktu. Data menunjukkan bahwa 20-25 persen bayi yang selalu ditidurkan dalam posisi terlentang akan mengalami plagiocephaly. 

Sebagian bayi memiliki faktor risiko lebih tinggi mengalami plagiocephaly ini. Faktor risiko tersebut antara lain:

  • Kehamilan kembar dengan ukuran rahim yang kecil
  • Bayi prematur yang mendapat perawatan tirah baring lama di NICU
  • Bayi yang menderita muscular torticollis atau pemendekan salah satu otot leher yang membuat kepala tertarik ke satu sisi. 

Gejala Plagiocephaly

Plagiocephaly mudah dikenali dengan adanya bentuk kepala yang datar pada salah satu sisi. Perubahan bentuk kepala ini tidak menimbulkan rasa nyeri, tidak mempengaruhi aktivitas atau pola rutinitas bayi dan umumnya tidak mengakibatkan gangguan kesehatan bermakna.

Pengobatan Plagiocephaly

Karena umumnya disebabkan oleh posisi tidur yang sama dari waktu ke waktu, hal pertama yang harus diubah untuk mengobati plagiocephaly adalah posisi tidur tersebut. Perubahan posisi tidur dapat berupa:

  • Menidurkan dengan posisi sedikit dimiringkan
  • Mengganti posisi saat menyusui
  • Menggendong bayi bila ia terjaga dari tidurnya
  • Tummy time atau menengkurapkan bayi dengan pengawasan penuh. 

Bila pengaturan posisi tidur ini tidak juga dapat mengatasi plagiocephaly, penggunaan helm khusus bisa jadi solusi. Helm ini khusus didesain untuk mengurangi tekanan pada bagian kepala yang datar sehingga bentuk kepala secara bertahap akan menjadi normal kembali. 

Metode pengobatan dengan helm khusus ini efektif bila diterapkan pada anak usia 4-12 bulan. Setelah anak berusia 1 tahun, helm khusus ini tidak lagi efektif karena tulang tengkorak umumnya telah menyatu dan sudah lebih keras sehingga sulit dibentuk kembali.

Komplikasi Plagiocephaly

Bila plagiocephaly yang terjadi disebabkan oleh posisi tidur, umumnya bentuk kelainan ini tidak akan mengakibatkan komplikasi bermakna. Gangguan yang dialami oleh sang anak lebih kepada kosmetik, akibat bentuk kepala yang tidak rata. 

Akan tetapi, bila plagiocephaly ini dilatarbelakangi oleh kelainan kongenital kraniosinostosis, kepala peyang dapat berujung pada berbagai komplikasi seperti:

  • Kelainan bentuk kepala yang sifatnya permanen
  • Peningkatan tekanan dalam rongga tengkorak
  • Kejang
  • Gangguan tumbuh kembang

Pencegahan Plagiocephaly

Untuk mencegah plagiocephaly akibat posisi, posisi tidur dan menyusui bayi harus diubah-ubah. Perubahan posisi ini perlu dilakukan secara berkala.