Sukses

Pengertian ODR

Odr adalah sediaan dalam bentuk sirup dan injeksi yang diproduksi oleh Lapi Indonesia. Odr digunakan untuk mengobati mual dan muntah akibat kemoterapi, radioterapi, atau pasca operasi. Odanostin mengandung zat aktif Ondansetron Hydrochloride Dihydrate.

Keterangan ODR

  1. Odr Sirup
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antiemetik / Terapi Perawatan Pendukung
    • Kandungan: Ondansetron Hydrochloride Dihydrate 4 mg/ 5 ml
    • Bentuk: Sirup
    • Satuan Penjualan: Botol
    • Kemasan: Dus, Botol @ 60 ml
    • Farmasi: Lapi Indonesia.
  2. Odr Injeksi
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antiemetik / Terapi Perawatan Pendukung
    • Kandungan: Ondansetron Hydrochloride Dihydrate 5 mg; Ondansetron Hydrochloride Dihydrate 10 mg
    • Bentuk: Injeksi
    • Satuan Penjualan: Ampul
    • Kemasan: Box, 5 Ampul @ 2 dan 4 ml
    • Farmasi: Lapi Indonesia
    • Harga: -

Kegunaan ODR

Odr digunakan untuk mengobati mual dan muntah akibat kemoterapi, radioterapi, atau pasca operasi.

Dosis & Cara Penggunaan ODR

ODR merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep Dokter. Selain itu, dosis penggunaan ODR juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individunya tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita. Penggunaan ODR memerlukan bantuan dari tenaga medis.

  1. ODR Sirup
    • Anak usia ≥11 tahun: 1 sendok takar (5 mL), diminum 3 kali sehari, dosis dapat ditingkatkan sampai dengan 2 sendok takar (10 mL).
    • Anak usia 4-11 tahun:1 sendok takar (5 mL), diminum 2 kali sehari.
    • Anak usia 1-4 tahun: dosis 0,15 mg / kg berat badan diminum 3 kali sehari.
  2. ODR Injeksi
    • Muntah dan mual pasca operasi
      • Dosis 4 mg dosis tunggal diberikan melalui injeksi intramuskular (otot) atau melalui injeksi intravena (pembuluh darah) lambat.
    • Mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi yang sangat emetogenik
      • Dewass: dosis awal: 8 mg diberikan melalui injeksi intravena (pembuluh darah) lambat lambat atau infus selama 15 menit yang diberikan segera sebelum kemoterapi, dilanjutkan dengan dosis 1 mg dengan infus konstan 1 mg / jam selama <24 jam atau 2 injeksi 8 mg melalui injeksi intravena (pembuluh darah) lambat atau infus 15 menit tiap 4 jam atau sebagai alternatif, diberikan dosis 8 mg per oral sebanyak 2 kali sehari selama <5 hr.
    • Kemoterapi kurang emetogenik
      • Dewasa: dosis 8 mg diberikan melalui injeksi intravena (pembuluh darah) lambat atau infus 15 menet diberikan segera sebelum kemoterapi, dilanjutkan dengan dosis 8 mg secara oral sebanyak 2 kali sehari selama <5 hari.
    • Anak usia <4 tahun
      • Dosis 5 mg / mL melalui infus intravena selama 15 menit diberikan sebelum kemoterapi, dilanjutkan dengan dosis 4 mg per oral tiap 12 jam selama <5 hari.

Cara Penyimpanan

  • ODR Sirup: Simpan pada suhu antara 15-30 derajat Celcius, terhindar dari cahaya dan jangan disimpan didalam lemari pendingin.
  • ODR Injeksi: Simpan pada suhu antara 2-30 derajat Celcius, terhindar dari cahaya.

Efek Samping ODR

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan ODR, antara lain:

  • Sakit kepala.
  • Sembelit.
  • Sensasi terbakar pada kepala dan ulu hati (epigastrium).
  • Sedasi.
  • Diare.

Overdosis

  • Gejala: Hipotensi (tekanan darah tinggi), gangguan penglihatan, konstipasi berat, episode vasovagal dengan blok AV transien derajat 2, dan sindrom serotonin yang ditandai dengan muntah, diare, kecemasan, denyut jantung diatas normal, gemetar, kejang, delirium dan koma pada anak.
  • Penatalaksanaan: Pengobatan suportif dan simptomatik.

Kontraindikasi 
Hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi:

  • Pasien yang telah diketahui memiliki alergi terhadap kandungan obat Odanostin.
  • Penggunaan bersamaan dengan apomorphine.
  • Sindrom QT panjang bawaan.

Interaksi Obat 

  • Dexamethasone Na phosphate dapat memberikan efek antiemetik (antimuntah).
  • Dapat mengembangkan sindrom serotonin (termasuk perubahan status mental, ketidakstabilan otonom, kelainan neuromuskuler) dengan selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRI), Monoamine Oxidase Inhibitors(MAOI), mirtazapine, fentanil, litium, metilen biru, serotonin noradrenalin reuptake inhibitor (SNRI).
  • Induksi CYP3A4 yang poten (misal Fenitoin, karbamazepin, rifampisin) dapat mengurangi konsentrasi plasma dan meningkatkan pembersihan ondansetron.
  • Pemberian bersama dengan antiaritmia (misal. Amiodaron), atenolol, antrasiklin (misal Doxorubicin, daunorubicin), trastuzumab, erythromycin, dan ketoconazole dapat menyebabkan perpanjangan aditif interval qt dan meningkatkan risiko aritmia.
  • Dapat mengurangi efek analgesik tramadol.
  • Berpotensi Fatal: Penggunaan bersamaan dengan apomorphine dapat menyebabkan hipotensi berat dan kehilangan kesadaran.

Kategori Kehamilan 
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan ODR ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Perhatian Menyusui
Tidak diketahui apakah ODR terserap kedalam ASI. Karena potensi efek samping pada bayi yang disusui, keputusan harus dibuat apakah akan menghentikan menyusui atau menghentikan obat.

Artikel
    Penyakit Terkait