Obat Gangguan Pencernaan

Narfoz

Klikdokter, 23 Mar 2021

Ditinjau Oleh Tim Apoteker Klikdokter

Narfoz digunakan untuk mencegah mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi kanker atau radiologi.

Pengertian

Narfoz adalah sediaan obat yang mengandung ondansetron dan diproduksi oleh Pharos Indonesia. Obat ini digunakan sendiri atau dengan obat lain untuk mencegah mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi kanker. Narfoz juga dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati mual dan muntah setelah operasi. Ondansetron bekerja dengan menghalangi salah satu zat alami tubuh (serotonin) yang menyebabkan muntah. Narfoz tersedia dalam bentuk sediaan sirup, tablet dan injeksi, obat ini diproduksi oleh Pharos Indonesia. Dengan adanya perbedaan sediaan ini berguna untuk memudahkan pasien yang sulit menelan dan menutupi rasa yang tidak enak pada obat.

Keterangan

  1. Narfoz Sirup:
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antiemetik
    • Kandungan: Ondansetron 4 mg/5 mL
    • Bentuk: Sirup
    • Satuan Penjualan: Botol
    • Kemasan: Botol @ 30 mL dan 60 mL
    • Farmasi: Pharos Indonesia
    • Harga Narfoz  30 ml: Rp62.000 - Rp123.000/ Botol
    • Harga Narfoz 60 ml: Rp84.000 - Rp150.000/ Botol
  2. Narfoz Tablet:
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antiemetik
    • Kandungan: Ondansetron 4 mg, Ondansetron 8 mg
    • Bentuk: Tablet
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @6 Tablet
    • Farmasi: Pharos Indonesia.
    • Harga Narfoz  4 mg: Rp84.000 - Rp156.000/ Strip
    • Harga Narfoz 8 mg: Rp29.000 - Rp54.000/ Tablet
  3. Narfoz Injeksi:
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antiemetik
    • Kandungan: Ondansetron 2 mg/ ml
    • Bentuk: Cairan Injeksi
    • Satuan Penjualan: Ampul
    • Kemasan: Ampul 2 mL; Ampul 4 mL
    • Farmasi: Pharos Indonesia.
    • Harga; Rp20.000 - Rp45.000/ Ampul

Kegunaan

Narfoz digunakan untuk mencegah mual dan muntah.

Dosis & Cara Penggunaan

Narfoz merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan narfoz juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita. Penggunaan narfoz injeksi harus dibantu oleh tenaga ahli medis.

  1. Nafroz Tablet dan Sirup
    • Pencegahan mual dan muntah pasca operasi
      • Dosis awal: 8 mg diberikan 1 jam sebelum anestesi, dilanjutkan dengan dosis 8 mg tiap 8 jam atau sampai 16 jam.
      • Mual dan muntah yang disebabkan oleh radioterapi: diberikan dosis 8 mg tiap 8 jam 1-2 jam sebelum radioterapi.
  2. Nafroz Injeksi
    • Kemoterapi sangat emetogenik: dosis awal: diberikan dosis 8 mg melalui injeksi intravena lambat atau 15 menit infus segera sebelum kemoterapi, dilanjutkan dengan dosis 1 mg / jam sampai 24 jam atau 2 dosis lebih lanjut dengan dosis 8 mg injeksi intravena lambat atau infus 15 menit terpisah 4 jam. Keduanya kemudian dilanjutkan dengan dosis 8 mg oral setiap 12 jam selama 5 hari.
    • Kemoterapi kurang emetogenik: dosis 8 mg diberikan melalui injeksi intravena lambat atau infus 15 menit segera sebelum kemoterapi atau 8 mg oral diberikan 1-2 jam sebeulm kemoterapi, dilanjutkan dengan pemberian tablet 8 mg tiap 12 jam hingga 5 hari.
    • Anak usia > 4 tahun: dosis 5 mg / m2 diberikan melalui injeksi intravena selama 15 menit, segera tiap jam selama 5 hari.
    • Pasien dengan gangguan hati: Tidak> 8 mg / hari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 2-30 derajat Celcius.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Narfoz, yaitu:

  • Signifikan: Nyeri dada, bradikardia atau detak jantung menurun, hipotensi, aritmia, hipoksia, peningkatan sementara enzim hati, penglihatan kabur sementara (karena injeksi IV cepat).
  • Jarang: kebutaan sementara, gejala ekstrapiramidal (Reaksi distonik, krisis okulogi, diskinesia), kejang, sindrom serotonin.

Overdosis

  • Gejala: Hipotensi (tekanan darah rendah), gangguan penglihatan, sembelit berat, dan sindrom serotonin yang ditandai dengan muntah, diare, gelisah, takikardia (Denyut jantung diatas normal), tremor (gemetar), kejang, delirium dan koma pada anak.
  • Penatalaksanaan: Pengobatan suportif dan simptomatik. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Narfoz pada pasien yang memiliki indikasi hipersensitif atau alergi dan penggunaan bersamaan dengan apomorphine.

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Narfoz :

  • Dexamethasone Na phosphate dapat mempotensiasi efek antiemetik.
  • Dapat mengembangkan sindrom serotonin (termasuk perubahan status mental, ketidakstabilan otonom, kelainan neuromuskuler) dengan SSRI, MAOI, mirtazapine, fentanil, litium, metilen biru, serotonin noradrenalin reuptake inhibitor (SNRI).
  • Induksi CYP3A4 yang poten (fenitoin, karbamazepin, rifampisin) dapat mengurangi konsentrasi plasma dan meningkatkan pembersihan ondansetron.
  • Pemberian bersama dengan antiaritmia (amiodarone), atenolol, antrasiklin (doxorubicin, daunorubicin), trastuzumab, erythromycin, dan ketoconazole dapat menyebabkan perpanjangan aditif interval QT dan meningkatkan risiko aritmia.
  • Dapat mengurangi efek analgesik tramadol.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Narfoz ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Perhatian Menyusui
Tidak diketahui apakan Narfoz terserap kedalam ASI atau tidak. Manfaat perkembangan dan kesehatan menyusui harus dipertimbangkan bersama dengan kebutuhan klinis ibu akan ondansetron dan potensi efek samping pada bayi yang disusui dari terapi atau dari kondisi ibu yang mendasarinya.