Sukses

Tips Mengatasi Imposter Syndrome di Tempat Kerja

Seseorang dengan imposter syndrome sering merasa tidak pantas atas prestasi yang diraihnya. Kondisi ini mesti diatasi, agar tidak mengganggu produktivitas sehari-hari.

Sindrom imposter dapat memengaruhi siapa saja, terlepas dari pekerjaan atau status sosial. Akan tetapi, sindrom ini paling sering dialami oleh mereka-mereka yang berprestasi.

Imposter syndrome ditemukan pertama kali pada tahun 1978. Dari penelitian yang dilakukan tahun 2020, sekitar 9–82 persen orang di dunia mengalami sindrom ini.

Beberapa orang dapat mengalami gejala imposter syndrome hanya dalam waktu terbatas, seperti beberapa minggu pertama saat di tempat kerja baru. Namun, sebagian lainnya dapat mengalami gejala sindrom imposter seumur hidup mereka.

Lantas, apa saja gejala imposter syndrome di tempat kerja? Bagaimana cara mengatasi kondisi ini? Yuk, cari tahu!

1 dari 3 halaman

Gejala Imposter Syndrome di Tempat Kerja

Seseorang dengan sindrom imposter memiliki perasaan tidak pantas dengan prestasi yang diraihnya.

Tak hanya itu, melansir healthline, pengidap imposter syndrome juga sering merasa takut tidak berhasil dalam pekerjaannya. Hal ini dapat memicunya untuk menahan diri dan menghindari pencapaian yang lebih tinggi.

Pengidap imposter syndrome juga cenderung takut untuk melakukan kesalahan di tempat kerjanya. Tanpa disadari, hal tersebut turut memengaruhi kinerja mereka secara keseluruhan.

Bahkan, ketika atasan atau rekan memuji hasil kerja pengidap imposter syndrome, mereka akan mengatakan bahwa hal tersebut hanya sebuah keberuntungan saja.

Artikel Lainnya: Savior Complex, Kecenderungan untuk Menolong Meski Tidak Dibutuhkan

Intinya, pengidap imposter syndrome cenderung memikirkan persepsi orang lain terhadap dirinya sendiri.

Mereka pun akan berjuang “mati-matian” agar segalanya berlangsung sempurna. Hal ini pun dapat menimbulkan sifat perfeksionis.

Bagi pengidap imposter syndrome, Anda juga mungkin kerap merasa bersalah atau tidak berharga ketika tak dapat mencapai target di kantor.

Oleh karena alasan-alasan tersebut, pengidap imposter syndrome dapat memicu siklus kecemasan, depresi, dan rasa bersalah.

2 dari 3 halaman

Cara Mengatasi Imposter Syndrome di Tempat Kerja

Ingin segera terbebas dari gejala imposter syndrome agar tak mengalami kecemasan, depresi, atau rasa bersalah?

Jika demikian, berikut ini beberapa hal yang perlu Anda lakukan sebagai cara mengatasi imposter syndrome:

1. Bicara dengan Orang Lain

Dijelaskan oleh Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, cara mengatasi sindrom imposter di tempat kerja adalah dengan membagi perasaan yang dialami dengan teman dekat. Hal ini untuk mendapat cara pandang yang berbeda.

“Bercerita kepada orang yang dipercaya, atau konsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog. Tujuannya agar bisa mendapatkan support dan penilaian positif guna menyingkirkan pemikiran negatif,” ujar Ikhsan.

Artikel Lainnya: Tips Mengatasi Anak yang Perfeksionis

2. Sadari bahwa Semua Orang Memiliki Kekurangan

Cara lain untuk mengatasi imposter syndrome di tempat kerja adalah menyadari bahwa setiap manusia memiliki kekurangan, termasuk Anda sendiri.

Anda juga mesti sadar bahwa tidak ada yang salah dengan melakukan kesalahan. Daripada menyesali, lebih baik tanamkan dalam pikiran bahwa kesalahan adalah awal dari keberhasilan.

Asalkan, Anda menjadikan kesalahan tersebut sebagai pelajaran agar bisa lebih baik lagi di waktu mendatang.

3. Berhenti Membandingkan Kekurangan dengan Orang Lain

Seorang dengan imposter syndrome sering membandingkan prestasi dirinya sendiri dengan orang lain.

Melansir dari Very Well, hal tersebut dilakukan untuk menemukan kesalahan pada diri sendiri, tetapi malah memicu perasaan tidak cukup atau kurang hebat.

Keadaan seperti itu dapat memicu kecemasan, yang berujung pada menyalahkan diri sendiri secara terus-menerus.

“Setiap kali Anda membandingkan diri dengan orang lain, cobalah fokus pada kelebihan yang dimiliki,” saran Ikhsan.

Artikel Lainnya: Ciri Orang Manipulatif yang Perlu Diwaspadai

4. Coba Belajar Menerima Setiap Perasaan yang Dialami

Cobalah untuk mulai mengakui perasaan Anda sendiri. Ketika merasa sedih, akui kesedihan tersebut. Begitu pula saat Anda merasa senang.

“Ketika merasa senang atas pencapaian yang dicapai, Anda boleh apresiasi diri sendiri, misalnya dengan mengungkapkan kata-kata yang baik. Jangan malah langsung mengecilkan diri lagi,” ucap Ikhsan.

5. Coba Tingkatkan Pikiran Positif

Cara mengatasi imposter syndrome adalah dengan meningkatkan pikiran positif dan mulai melihat diri secara objektif.

Caranya bisa dengan melakukan journaling. Hal ini dilakukan dengan menuliskan apa saja hal-hal yang sudah pernah dicapai selama ini.

Anda juga bisa menuliskan kekuatan-kekuatan apa yang dimiliki dalam mencapai suatu tujuan.

Hal tersebut bisa membantu Anda untuk menghindari perilaku self-sabotage. Pada akhirnya, Anda pun tidak lagi mengucilkan diri atas pencapaian yang sudah diraih.

Jika Anda merasa sangat kesulitan untuk mengatasi imposter syndrome, tak perlu ragu untuk chatting langsung dengan psikolog melalui LiveChat 24 jam di aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

Referensi:

Wawancara Ikhsan Bella Persada, M.Psi.

Healthline. Diakses 2021. You’re Not a Fraud. Here’s How to Recognize and Overcome Imposter Syndrome.

Verywell Mind. Diakses 2021. What Is Imposter Syndrome?

Medical News Today. Diakses 2021. How to handle impostor syndrome.

0 Komentar

Belum ada komentar