Sukses

Hati-hati, Pasien COVID-19 Bisa Alami Silent Hypoxia!

Silent hypoxia menjadi salah satu ancaman baru yang dapat membahayakan pasien positif virus corona, ketahui penjelasan dokter di sini.

Penelitian mengenai gejala dan komplikasi virus corona masih terus berjalan. Ini karena bagi beberapa orang, COVID-19 memang tidak selalu menunjukkan tanda-tanda yang sama.

Salah satu komplikasi yang belakangan ini cukup ramai dikabarkan adalah silent hypoxia. Apa artinya dan mengapa sangat berbahaya?

Apa Itu Silent Hypoxia?

Kerap juga disebut happy hypoxia, kondisi ini merupakan sebuah keadaan perburukan kadar oksigen yang tidak sesuai dengan keluhan pasien.

Menurut dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, mekanismenya sendiri masih belum diketahui secara pasti. “Ada yang mengatakan, kondisi ini diakibatkan oleh perburukan secara perlahan-lahan,” tuturnya.

Singkatnya, seseorang yang mengalami silent hypoxia akan merasa baik-baik saja dan belum tentu merasakan gejala-gejala adanya penurunan kadar oksigen dalam tubuhnya, seperti sesak napas atau lemas.

Kondisi hipoksia sendiri sebenarnya sudah dikenal dalam dunia medis. Dokter Alvin mengatakan hal ini cukup umum terjadi, khususnya pada penyakit paru dan jantung.

Biasanya, pasien yang mengalami hipoksia akan merasakan beberapa gejala, seperti:

  • Sesak napas.
  • Lemas.
  • Perubahan warna kulit menjadi kebiruan.
  • Batuk.
  • Peningkatan denyut nadi dan frekuensi pernapasan.
  • Nyeri kepala.
  • Keringat berlebih.
  • Pada hipoksia tingkat berat, dapat terjadi kehilangan kesadaran dan kematian.

Nah, silent hypoxia berbeda dengan hipoksia pada umumnya. Kondisi silent hypoxia justru tidak menunjukkan gejala apapun pada pasien.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

1 dari 4 halaman

Apa Penyebab Silent Hypoxia?

Bila berbicara tentang hipoksia, menurut dr. Alvin, kekurangan oksigen dalam tubuh merupakan pemicu utamanya.

“Sebenarnya, penyebabnya sangat bervariasi. Bisa karena ada cairan di paru, aliran oksigen berkurang karena bronkus sempit pada asma,” ujarnya.

Bagaimana dengan silent hypoxia? Menurut penelitian yang dipublikasikan American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, kondisi tersebut terbilang sangat membingungkan dan tidak sesuai dengan asas biologi dasar.

Alasan ada pasien yang mengalami silent hypoxia dan tidak merasakan gejala sesak napas masih menjadi sebuah misteri. Maka dari itu, butuh penelitian lebih lanjut.

2 dari 4 halaman

Mengapa Silent Hypoxia Bisa Membahayakan Pasien COVID-19?

Mengingat silent atau happy hypoxia ini tidak menunjukkan gejala apapun, agak sulit kita untuk mengetahui apakah pasien COVID-19 mengalami ini atau tidak.

Terlebih, COVID-19 umumnya menyerang sistem pernapasan. Bila kadar oksigen pada pasien menurun, hal ini tentu membahayakan keselamatannya.

Dokter Martin Tobin, profesor penyakit paru dan pengobatan penyakit kritis di Loyola University Medical Center, Amerika Serikat, mengatakan dalam penelitiannya, otak mungkin tidak langsung menyadari bahwa kadar oksigen dalam darah telah berkurang. 

“Ketika kadar oksigen pada pasien COVID-19 menurun, otak tidak merespons hingga oksigen benar-benar drop ke kadar yang sangat rendah,” ujarnya.

Ia menambahkan, pasien-pasien dengan silent hypoxia yang ia teliti juga memiliki kadar karbon dioksida yang rendah. Jadi, ia berpendapat bahwa hal ini mungkin bisa memengaruhi efek dari rendahnya kadar oksigen dalam darah.

Menurut dr. Alvin, silent hypoxia bisa membahayakan pasien COVID-19 dan perlu diwaspadai, apalagi kalau ia tidak menunjukkan gejala apa pun dan terlihat baik-baik saja. “Bila sudah hipoksia berat, pasien bisa tiba-tiba hilang kesadaran dan meninggal,” ungkapnya.

Dokter Martin Tobin mengatakan, mungkin saja virus corona memberikan sebuah pengaruh yang cukup aneh pada tubuh terkait bagaimana ia mendeteksi rendahnya kadar oksigen dalam darah.

Namun, karena gejala dan komplikasi COVID-19 pada setiap pasien bisa berbeda-beda, maka belum tentu semuanya akan mengalami silent hypoxia.

Artikel Lainnya: Benarkah Social Distancing Virus Corona Bisa Dilakukan Sampai 2022?

3 dari 4 halaman

Bagaimana Mengantisipasinya?

Dokter Alvin mengatakan, “Jika ada gejala batuk atau sesak, maka segera ke dokter untuk diperiksa. Jangan anggap sepele setiap keluhan yang ada.”

Langkah tersebut merupakan hal utama yang mesti diterapkan. Usahakan untuk kenali setiap perubahan atau gejala yang ada, dan segera laporkan pada petugas medis. Jadi, dokter bisa melakukan berbagai pemeriksaan terkait untuk kemudahan deteksi.

Untuk mendeteksi kadar oksigen, dokter akan menggunakan oksimetri, sebuah alat yang dijepit pada jari untuk menunjukkan kadar oksigen darah. Alat ini bisa menunjukkan kadar oksigen secara objektif.

Bagi pasien COVID-19, khususnya yang telah mengidap penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, dianjurkan juga untuk terus memantau kadar oksigen dalam darah. Diharapkan, deteksi lebih dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih parah.

Itulah penjelasan mengenai silent hypoxia dan bahayanya pada pasien COVID-19. Tetaplah waspada akan setiap kondisi dan gejala.

Ingin ikut memberantas virus corona seperti KlikDokter, Kemenkes RI, dan BNPB? Anda bisa mencoba sejumlah layanan, seperti tes coronavirus online, rapid test, tes, dan juga LiveChat 24 jam di aplikasi.

(AYU/ARM)

0 Komentar

Belum ada komentar