Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Nekat Masuk Rumah Orang Lain, Apakah Termasuk Gangguan Kejiwaan?

Nekat Masuk Rumah Orang Lain, Apakah Termasuk Gangguan Kejiwaan?

Fans fanatik salah satu artis dunia menyelinap masuk ke rumah dan mengambil celana dalamnya. Apakah tindakan tersebut tergolong sebagai gangguan kejiwaan?

Saat mengidolakan seorang artis, pastinya Anda berkeinginan untuk foto bersama, meminta tanda tangan, membeli pernak-pernik, atau datang ke acara yang dibintanginya.

Namun, bagaimana jika ada orang yang mengidolakan artis sampai berani menyelinap ke dalam rumah dan mengambil barang pribadinya? Bukankah hal ini tergolong sebagai fanatisme yang berlebihan?

Beredar Kabar Fans Fanatik Menyelinap Masuk ke Rumah Artis

Baru-baru ini beredar tagar atau hashtag yang disertai dengan gambar percakapan antara salah satu artis dunia dan fans fanatiknya.

Dalam percakapan tersebut terdeskripsikan bahwa seorang fans wanita berhasil menyelinap masuk ke dalam kediaman sang artis.

Saat kejadian, sang artis sedang berada di dalam rumahnya. Begitu ketahuan, fans tersebut berkelit bahwa sebagai seorang artis terkenal, semua orang boleh tahu apa pun tentang dirinya, termasuk isi rumahnya. Tak cuma itu, fans tersebut bahkan mengambil celana dalam milik sang artis.

Ketika diusir oleh sang sartis, fans tersebut justru tidak terima. Dirinya merasa mendapatkan perbuatan yang tidak pantas dari sang artis idola.

Dengan kata lain, dia tidak menyangka bahwa beginilah cara sang artis memperlakukan seseorang yang mengidolakannya.

Artikel Lainnya: 6 Cara Mudah Tingkatkan Kesehatan Mental

1 dari 3 halaman

Fanatisme Berlebihan Sampai Menyelinap Masuk Rumah, Apakah Normal?

Melihat kasus tersebut, rasanya tanggapan yang dilontarkan oleh sang artis kepada fansnya terbilang normal.

Ini karena setiap orang pasti akan merasa kaget jika rumahnya kedatangan ‘tamu tidak diundang’, apalagi sampai mencuri suatu barang.

Menurut penjelasan Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, perilaku sampai menyelinap masuk ke dalam rumah bisa dikategorikan sebagai indikasi adanya gangguan kejiwaan.

Pasalnya, orang yang berpikiran logis pasti segan atau bahkan tak akan mau melakukan tindakan tersebut.

“Ketika kita mengagumi seseorang secara berlebihan, orang tersebut sebenarnya memiliki masalah dengan dengan identitas dirinya sendiri,” kata Ikhsan.

“Karena itu, dia butuh sosok yang memang punya kuasa, punya pengaruh, pokoknya statusnya lebih tinggi supaya dia bisa jadikan patokan. Ini biasanya untuk seseorang dengan gender yang sama, ya,” sambungnya.

Sementara itu, terkait dengan tindakan pencurian celana dalam artis oleh fansnya, Ikhsan mengatakan bahwa perilaku ini merupakan pertanda dari adanya fantasi seks berlebih.

“Bisa jadi, pakaian dalamnya itu dijadikan sebagai fetish miliknya. Ini bisa membuat dia merasakan gairah seksual seolah-olah sedang bersetubuh dengan idolanya,” tutur Ikhsan.

Dampak fanatisme seperti itu merugikan kedua belah pihak. Si artis merasa terganggu privasinya, sedangkan si fans bisa terluka saat penyergapan atau penangkapan berlangsung.

Artikel Lainnya: 7 Terapi Psikologis yang Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Anda

2 dari 3 halaman

Adakah Cara untuk Mengatasi Perilaku atau Gangguan Jiwa Tersebut?

Kabar baiknya, ada cara untuk mencegah perilaku serta dampak fanatisme. Psikolog Ikhsan mengatakan, perilaku mengagumi seseorang secara berlebihan dapat diatasi dengan terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

Terapi tersebut menggunakan pendekatan berorientasi solusi. Melalui terapi ini, orang akan mengubah perilaku serta pandangannya terhadap sesuatu. Ini bisa mengubah pikiran yang tadinya irasional menjadi rasional.

Batasan Fans yang Sehat

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengidolakan sesuatu atau seseorang. Jika berada di batasan normal, itu justru bisa memotivasi untuk membuat sesuatu yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.

Perilaku mengidolakan menjadi salah ketika Anda melakukannya secara berlebihan. Adapun batasan fans yang sehat adalah ketika Anda masih mampu mengenali realita yang ada.

“Ketika sudah sampai menganggap bahwa idola kita itu dewa, idola kita selalu benar, dan sampai mengganggu aktivitas penting lain bahkan mengorbankan keselamatan diri sendiri atau orang terdekat, maka itu sudah tak wajar,” jelas Ikhsan.

Dampak fanatisme bisa membuat sesuatu yang awalnya baik menjadi buruk. Karena itulah, lakukan segala sesuatunya secara wajar dan tanpa harus merugikan diri sendiri maupun pihak lain.

Bila Anda masih ada pertanyaan seputar dampak fanatisme atau masalah kesehatan lainnya, konsultasikan secara langsung dengan psikolog atau dokter melalui LiveChat 24 Jam di aplikasi KlikDokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar