Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Heboh Kasus Jimin dan Mina Eks AOA, Perlukah Memaafkan Pelaku Perundungan?

Heboh Kasus Jimin dan Mina Eks AOA, Perlukah Memaafkan Pelaku Perundungan?

Kasus perundungan terjadi lagi pada idol K-POP. Sempat melakukan tindakan perundungan yang parah, perlukah memaafkan kesalahan orang yang mem-bully kita?

Dunia K-POP dihebohkan oleh kasus perundungan. Kali ini, kasus tersebut dialami oleh girlband AOA, dan pelakunya adalah leader dari grup tersebut, Shin Jimin. Karena perbuatannya itu, salah satu anggota AOA, Mina, sampai mengundurkan diri karena mengalami masalah kejiwaan.

Jika dalam kondisi ini, apakah kita perlu memaafkan kesalahan si pelaku bullying? Yuk, ikuti penjelasannya.

1 dari 5 halaman

Jimin dan Member AOA Lain Datang Minta Maaf pada Mina

Sebelumnya, Mina mengungkapkan kepada publik bahwa dia telah dirundung oleh Jimin selama 10 tahun. 

Baru berani bicara sekarang, Mina terus-menerus mengunggah serangkaian peristiwa perundungan yang selama ini dirasakannya. 

Mina membongkar perilaku intimidasi yang dilakukan oleh Jimin AOA dengan maksud untuk membuat orang lain—terutama followers di media sosialnya—berani berbicara jika mendapat perlakuan tidak menyenangkan. 

Karena tak ingin masalah semakin menyebar dan panjang, akhirnya Jimin dan beberapa member lainnya datang untuk meminta maaf. 

Tanpa penjelasan yang mendalam, Mina mengatakan bahwa Jimin hanya terus meminta maaf. Dia juga mengatakan bahwa Jimin menyesali perbuatannya.

Perlu diketahui bahwa selama ini Mina eks AOA mengalami depresi akibat tindakan yang dilakukan sang leader

Dia sendiri mengaku masih trauma jika bertemu dengan Jimin. Karena merasa disudutkan, Jimin sampai mengancam akan bunuh diri. 

Artikel Lainnya: 5 Hal yang Membuat Seseorang Menjadi Pelaku Bullying

2 dari 5 halaman

Alami Masalah Kejiwaan Akibat Perundungan, Wajarkah Bila Tak Langsung Memaafkan?

Karena ditindas bertahun-tahun, Mina belum bisa langsung melupakan itu semua. Lantas, wajarkah bila hal itu dilakukan oleh korban perundungan? 

Apakah ini tindakan yang benar bila kita butuh proses lama untuk benar-benar memaafkan kesalahan orang lain?

Menanggapi kasus Jimin dan Mina serta pertanyaan di atas, begini penjelasan psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi. kepada KlikDokter.

“Soal memaafkan si pem-bully, sebenarnya itu tergantung dari si korban bagaimana, seberapa dalam ‘lukanya’, dan seberapa besar dampak bullying itu terhadap dirinya,” jelas Ikhsan. 

Mina Eks AOA merasakan pengalaman traumatik. Ini memang butuh waktu yang lama untuk benar-benar pulih dari kondisi tersebut. 

“Kita tidak bisa memaksakannya. Jadi, wajar bila seseorang belum bisa memaafkan orang lain, apalagi jika lukanya dalam. Seberapa cepat orang ini pulih tergantung dari si korban dalam menerima keadaan dan ingin pulih dari trauma dan juga kondisi si pelaku,” katanya. 

Ikhsan menambahkan, “Beri waktu dulu kepada si korban untuk menerima kondisinya, menerima bahwa ada masa-masa yang tidak mengenakkan, dan bertekad untuk move on dari peristiwa yang membuatnya depresi. Jika itu belum terpenuhi, maka akan susah.”

Apabila si pelaku meminta maaf dan memaksa si korban untuk “hari itu juga” memaafkannya, bahkan sampai mengancam untuk menyakiti dirinya sendiri, itu justru menciptakan kesan bahwa permintaan maafnya tidak tulus. Hal itu justru membawa dampak negatif buat korban.

Sudah depresi karena di-bully, dia juga bisa merasa bersalah akibat tindakan fatal si pelaku. Tekanan yang dirasakan menjadi bertubi-tubi. 

Artikel Lainnya: Gangguan Mental Ini Bisa Terjadi Akibat Bullying

3 dari 5 halaman

Merasa Pem-bully Hidup Tenang, Kenapa Korban Perundungan Berpikir Begitu?

Saat menjadi orang yang pernah ditindas, seseorang pasti merasa lemah dan insecure. Secara alami, dia akan merasa bahwa orang yang menindas hidup lebih enak daripada dirinya sendiri. Pasalnya, hanya orang yang superior yang bisa menindas orang inferior?

Ditambah dengan unggahan media sosial yang memperlihatkan kehidupan bahagian si pelaku dan lain sebagainya, itu bisa semakin membuat korban perundungan semakin merasa tidak berharga. 

Korban perundungan bisa merasa bahwa hal-hal negatif yang diarahkan kepada dirinya memang pantas untuk dialami karena dia adalah orang yang tak punya kekuatan apa pun. 

Artikel Lainnya: Gangguan Mental Ini Bisa Terjadi Akibat Bullying

4 dari 5 halaman

Jadi, Seharusnya Dimaafkan atau Tidak?

Pada dasarnya, manusia harus memaafkan kesalahan orang lain. Namun, seperti yang disampaikan Ikhsan tadi, jangan memaksakan bila korban masih belum bisa. 

Korban perundungan membutuhkan waktu panjang untuk menerima kondisinya dan bertekad untuk pulih. Ingat, dampak bullying itu tak main-main, lho!

Tidak mengapa jika korban perundungan belum mau bertemu dengan pelaku. Berikan korban waktu, tunjukkan sikap penyesalan secara tulus, pahami kondisinya, dan bertemanlah secara perlahan. Jangan pernah memaksa untuk dimaafkan, nanti pasti ada saatnya kondisi membaik. 

Sebagai korban, tentu tak enak rasanya tenggelam dalam “lingkaran hitam”. Jika memang dampak bullying terasa luar biasa di hidup Anda, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada psikolog untuk memulihkan kondisi kejiwaan Anda. 

Dengan tekad sembuh dari rasa trauma serta bantuan psikolog, cepat atau lambat perasaan lega dan memaafkan bisa terwujud. 

Bila sudah berhasil memaafkan, pasti korban akan menjalani hidup lebih tenang dan senang. 

Mengatasi pelaku bullying dengan berani bicara memang baik. Namun, jangan sampai ini dijadikan ajang untuk membalas dendam secara berlebihan karena perbuatan tersebut tak akan membuahkan rasa lega, apalagi bahagia. 

Jika kasus bullying sudah sampai kepada tindak kekerasan fisik, jangan takut untuk melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib. Lakukan banyak hal-hal positif untuk membuat kondisi kejiwaan korban perundungan menjadi lebih baik. 

Bila masih ada pertanyaan seputar masalah bullying, mengatasi depresi, atau masalah kejiwaan serta kesehatan lainnya, konsultasikan kepada psikolog dan dokter lewat Live Chat di aplikasi KlikDokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar