Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Prediksi Peneliti, 20 Juta Warga AS Positif Virus Corona!

Prediksi Peneliti, 20 Juta Warga AS Positif Virus Corona!

Amerika Serikat memang jadi negara dengan kasus corona terbanyak di dunia. Para peneliti pun prediksi ada 20 juta orang AS positif COVID-19!

Kasus virus corona di Amerika Serikat memang sangat memprihatinkan. Per hari ini (26/6), tercatat oleh Johns Hopkins, kasus COVD-19 yang terkonfirmasi di sana telah mencapai lebih dari 2,4 juta. Pasien yang sembuh menyentuh angka 764 ribu dan kasus meninggal lebih dari 120 ribu orang 

Mengenai jumlah orang yang positif terinfeksi virus corona, beberapa peneliti bahkan memprediksi bahwa ada 20 juta orang yang sebenarnya sudah positif COVID-19 di AS! Benarkah demikian? Yuk, simak ulasannya!

1 dari 5 halaman

Prediksi 20 Juta Warga AS Terinfeksi Virus Corona

Menurut informasi dari NPR, perwakilan resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) percaya bahwa 20 juta warganya telah terkena virus corona, namun jutaan orang tersebut tidak mengetahuinya.

Direktur CDC, Robert Redfield menyebut estimasi terbaik saat ini adalah pada setiap kasus yang dilaporkan, sebenarnya terdapat 10 infeksi lainnya. 

Redfield mengestimasi, antara 5 persen dan 8 persen populasi di AS, telah terkonfirmasi positif virus corona berkat adanya tes antibodi yang meluas dan metode pengecekan lainnya. 

Namun, ia menekankan, mungkin lebih dari 90 persen warga AS yang belum terkonfirmasi dan rentan, bisa saja sudah terinfeksi corona.

Hingga saat ini, 2,4 juta lebih kasus positif COVID-19 telah terkonfirmasi di AS. akan tetapi, dengan adanya estimasi dari CDC, angka tersebut mungkin sudah mencapai 20 juta.

Estimasi ini seperti membenarkan apa yang telah dicurigai oleh para peneliti kesehatan publik, yaitu sistem kesehatan yang gagal untuk menangkap dan melacak penyebaran virus di tengah masyarakat.

“Sejak awal, tidak banyak tes untuk orang-orang usia muda dengan kondisi asimptomatik,” ujar Redfield. 

Lalu, ia pun cemas akan beberapa orang yang punya penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko COVID-19, terutama pada lansia.

Tahukah Anda? Sebanyak sekitar 60 persen orang-orang dewasa di AS paling tidak mengidap satu penyakit kronis. 

Tak heran bila risiko COVID-19 makin tinggi. Apalagi bila ditambah dengan gaya hidup yang tidak sehat.

Artikel Lainnya: WHO: Virus Corona Mungkin Tak Akan Hilang dari Dunia

2 dari 5 halaman

Kota-Kota di Texas Banyak Pasien Corona

Salah satu negara bagian AS ini masuk ke dalam daftar wilayah dengan angka kasus virus corona yang tinggi. Melansir Times-Republican, Texas sempat mencatat lebih dari 5.000 kasus positif COVID-19 baru dalam sehari.

Houston (salah satu kota di Texas) mungkin menjadi kota yang paling terdampak di AS akibat pasien corona. Selain di sana, kota-kota lainnya di Texas seperti Dallas, Austin, dan San Antonio juga mengalami jumlah infeksi COVID-19 yang meningkat.

Hal ini diungkapkan oleh dr. Peter Hotez, seorang dekan National School of Tropical Medicine di Baylor College of Medicine.

3 dari 5 halaman

Siapa Warga AS yang Tergolong Berisiko Tinggi Tertular COVID-19?

Menurut CDC, golongan yang berisiko tinggi tertular COVID-19 adalah orang dewasa dan lansia, serta mereka yang mengidap penyakit kronis. 

Kendati demikian, tak menutup kemungkinan bahwa orang usia lebih muda juga tertular.

Lalu, analisis oleh CDC juga menyebutkan bahwa wanita hamil juga berisiko tinggi terinfeksi. Studi tersebut mengatakan, jika ibu hamil terinfeksi COVID-19, ia lebih rentan dirawat di rumah sakit dan masuk UGD.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong, sistem imun yang lebih lemah memang sangat memengaruhi kondisi orang usia tua saat terkena virus corona. 

“Hipotesis sementara seperti itu. Karena, usia tua (lebih dari 60 tahun) relatif lebih rendah daya tahan tubuhnya, jadi mudah terinfeksi dan manifestasinya berat. Lansia juga biasanya banyak komorbid, misal diabetes, jantung, riwayat berbagai penyakit, jadi kondisi mereka lebih rentan,” jelas dr. Sepriani.

Menurutnya, sejauh ini data menunjukkan bahwa lansia dan orang dengan komorbid tertentulah yang paling sering terinfeksi dan jadi berat komplikasinya.

Namun, dr. Sepriani menegaskan, bukan berarti orang usia muda tidak berisiko tinggi terhadap COVID-19. 

“Banyak kasus orang muda yang terkena COVID-19 dengan gejala atau komplikasi berat, padahal nggak ada penyakit apa-apa,” ujarnya.

Menurutnya, sejauh ini penelitian tentang virulensi dan patofisiologi COVID-19 ini masih terus berjalan. 

“Kita nggak tahu SARS-CoV yang di Indonesia ini apakah sudah mutasi, mutasinya seperti apa, dan lainnya. Bisa saja karena mutasi itu, kondisinya jadi berat padahal berusia muda yang tampak sehat-sehat saja.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

4 dari 5 halaman

Kegiatan Publik yang Sudah Aktif Bisa Jadi Penyebab Tingginya Kasus

Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan jumlah kasus positif virus corona makin bertambah, salah satu yang cukup berpengaruh adalah mulai dibukanya aktivitas publik di luar rumah.

Menanggapi hal ini, dr. Sepriani menilai kebijakan tersebut bergantung pada negara itu sendiri. 

“Ada list negara yang memang sudah cukup aman dengan ketentuan tertentu. Ada syaratnya juga dari WHO terkait pelonggaran aturan pengetatan.”

“Kalau di Indonesia, pemerintah menilai sudah bisa dibuka, nih, tempat publik. Walaupun, kalau dari syarat epidemiologi, public health, dan lainnya, banyak yang belum memenuhi syarat sebenarnya” ujarnya.

Nah, bagaimana sebaiknya kita harus menyikapi keadaan saat ini, di mana new normal sedang dijalankan?

“Menurut saya, tetap sebisa mungkin waspada. Kalau nggak penting banget, nggak usah ke luar rumah. Kalaupun ke luar, pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, desinfeksi, dan ingat sudah ke mana saja untuk mempermudah contact tracing,” saran dr. Sepriani.

Lebih baik, lakukan dulu segala sesuatunya di rumah. Jangan lupa lakukan langkah-langkah kesehatan bila terpaksa harus bepergian.

Jika ingin konsultasi dokter, pakai saja fitur Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter. Gunakan cek risiko virus corona online dan rapid test dari KlikDokter untuk bantu periksa gejala.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar