Sukses

Pengalaman Mengecek Virus Corona secara Pribadi

Tes corona sedang ramai dibicarakan seiring mewabahnya virus ini. Mari ketahui pengalaman melakukan cek virus corona menurut laporan pribadi.

Sejak munculnya wabah virus corona, orang jadi berbondong-bondong untuk mengecek apakah mereka terkena atau tidak. Mari ketahui cara cek virus corona secara pribadi, menurut pengalaman beberapa orang.

Beberapa rumah sakit di Indonesia sudah menjadi rujukan untuk cek virus corona. Menurut dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter, COVID-19 ini punya gejala menyerupai flu biasa, seperti demam, batuk. Ditambah sesak napas.

Oleh karena itu, banyak orang dengan gejala seperti itu ingin mencoba tes untuk mengetahuinya apakah dirinya positif terhadap coronavirus atau tidak. Sebab siapa yang tidak panik, kalau melihat pemberitaan kasus COVID-19 yang kian hari dilaporkan bertambah. 

Apalagi per hari ini, Selasa (17/3) sudah ada 134 kasus yang terjadi di Indonesia. Sementara itu, untuk total seluruh dunia sudah mencapai 182.605 kasus dengan angka kematian mencapai 7.171 orang. Jadi hal yang lumrah kalau sampai orang ingin menjalani tes virus corona, terlebih bila punya satu atau dua gejala di atas. 

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

1 dari 3 halaman

Pengalaman Pribadi Cek Virus Corona

Meski bisa cek virus corona, tapi tidak semua kondisi gejala batuk dan pilek lantas harus dites. Anda biasanya disarankan untuk mengisolasi diri di rumah (self isolation) terlebih dahulu. Namun, kalau mau tetap memeriksakan diri, ya, silakan saja karena tidak ada yang melarang.

Pengalaman memeriksakan diri untuk tes virus corona pernah dilakukan oleh Andre (bukan nama sebenarnya), rekan penulis, di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.

Pria berusia 32 tahun ini memutuskan untuk mengecek virus corona karena sempat kontak dengan pasien positif corona.

“Saya tidak ada gejala, tapi pernah kontak. Dalam artian, saya berada di lingkungan di mana teman-teman saya lainnya pernah kontak dengan orang yang positif virus corona,” ujar Andre saat dihubungi via telepon.

Andre menuturkan, bahwa untuk tahap awal ia ditanya-tanya oleh petugas kesehatan soal kondisi kesehatan. Ketika datang, Andre memang tidak punya gejala. Akan tetapi, ia merasa harus tes karena pernah ada di lingkungan yang berkontak dengan pasien positif virus corona.

Artikel Lainnya: Waspada, Penderita Virus Corona Bisa Tidak Menunjukkan Gejala!

Agak mengejutkan bagi Andre, ia ternyata hanya ditanya-tanya saja di posko kesehatan 24 jam tersebut tanpa menjalani tes. Akan tetapi, teman-teman yang lain yang punya gejala diwajibkan ikut tes darah dan rontgen.

“Karena tidak ada gejala, saya disarankan untuk mengisolasi diri di rumah sendiri selama 14 hari. Petugas di posko kesehatan RSPI Sulianti Saroso hanya menyarankan saya melihat kondisi sampai tanggal 27 Maret. Kalau ada gejala, segera ke faskes (fasilitas kesehatan) terdekat dan diberikan layanan nomor darurat RSPI Sulianti Saroso,” ungkapnya.

Sementara itu, sejauh ini semua teman-teman Andre dinyatakan negatif dari virus corona setelah menunggu hasil beberapa jam.

Sebagai informasi, kriteria skrining awal yang dilakukan di RSPI Sulianti Saroso adalah:

  • Jika tidak pernah kontak dengan pasien positif dan dinyatakan sehat, maka akan disarankan untuk pulang ke rumah.
  • Jika tidak pernah kontak namun mengalami gejala seperti batuk pilek yang tak membaik, maka petugas kesehatan menyarankan untuk mengunjungi dokter umum terlebih dahulu.
  • Jika pernah kontak dan tidak bergejala tapi masih ingin periksa, maka diarahkan menuju poli MCU (Medical Check Up).
  • Jika pernah kontak dan bergejala sedang, seperti batuk dan pilek, ada yang diarahkan ke spesialis paru ada juga yang ke poli MCU.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

2 dari 3 halaman

Tahap Pemeriksaan dan Hasil Tes Virus Corona

Jika seseorang dinyatakan menjadi salah satu orang yang perlu dites virus corona, maka ia wajib menjalani pemeriksaan. Seperti disebutkan di atas, orang tersebut akan melakukan tes darah, rontgen, atau swab.

“Teman-teman saya tidak ada tes swab. Itu sepertinya akan dilakukan bagi mereka yang sudah punya gejala sangat berat, barulah mendapatkan tes swab,” tutur Andre. 

Untuk tes swab, ini merupakan proses pengambilan sampel lendir dari saluran pernapasan. Caranya dengan mengambil sampel cairan di tenggorokan melalui mulut dan hidung. Tes ini dilakukan karena infeksi virus corona sama seperti virus influenza, yakni menyerang saluran pernapasan. Nantinya, spesimen atau sampel dari swab akan dibawa ke laboratorium.

Bagi Anda yang menjalani tes swab, sampel akan diuji melalui serangkain tes lewat prosedur RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction). Nantinya akan ditelusuri apakah mengandung jejak genetik dari virus corona atau tidak.

Pada tes swab dengan metode RT-PCR, itu akan menunggu selama kurang lebih 24 jam. Sedangkan tes yang meliputi rontgen dan cek darah, biasanya Anda tidak akan butuh waktu lama untuk mendapatkan hasilnya.

Jika Anda positif, pasien akan dinyatakan sebagai penderita COVID-19. Nantinya, Anda akan dipantau setiap hari. 

Perlu diketahui, tes COVID-19 juga bisa dilakukan ketika seseorang tidak memiliki gejala atau sakit, tetapi punya riwayat 14 hari terakhir melakukan perjalanan ke negara yang terjangkit COVID-19. 

Apabila merasa pernah kontak dengan penderita COVID-19 juga dapat mengajukan tes virus corona. Itu adalah beberapa cara atau alur untuk tes virus corona jika ingin melakukannya secara pribadi. Kalau Anda merasa yakin perlu dites, silakan ikuti prosedurnya. 

Akan tetapi, kalau hanya batuk dan pilek, jangan buru-buru memaksa melakukan cek virus corona. Nantinya, Anda hanya dianjurkan untuk melakukan self isolation di rumah, dan bila ada gejala lanjut yang lebih berat, baru dianjurkan menghubungi hotline corona di 119 ext 9.

Untuk informasi lebih lengkap tentang cek virus corona, segera tanyakan pada dokter lewat fitur Live Chat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/ RH) 

0 Komentar

Belum ada komentar