Sukses

Kiat Mengatasi Gejala Traveler's Diarrhea

Ketika bepergian, tak jarang traveler’s diarrhea mengintai. Apa itu traveler’s diarrhea dan apa saja kiat yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejalanya?

Secara global, banyak wisatawan yang mengalami gangguan saluran cerna saat berlibur atau bepergian. Kondisi ini dikenal sebagai traveler’s diarrhea. Lewat artikel ini, mari ketahui bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi, apa saja gejalanya, dan tips untuk mengatasinya agar tidak mengganggu aktivitas berlibur.

Traveler’s diarrhea atau diare yang dialami para pelancong menimbulkan gangguan pencernaan yang sering kali menimbulkan gejala tinja cair dan perut terasa seperti dipelintir, dan bisa terjadi berulang kali.

Diare yang dialami wisatawan ini disebabkan oleh konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman. Kabar baiknya, diare ini bukan sesuatu yang serius. Meski demikian, bila sampai terjadi, rencana perjalanan yang sudah dibuat sedemikian rupa bisa terganggu.

Bepergian ke tempat yang memiliki iklim dan kebiasaan higienitas yang berbeda dari tempat asal akan meningkatkan risiko terkena traveler’s diarrhea.

Artikel Lainnya: 5 Jenis Diare yang Perlu Anda Tahu

1 dari 3 halaman

Ini Gejala Traveler’s Diarrhea yang Bisa Terjadi?

Seperti diare lainnya, traveler’s diarrhea dapat disebabkan oleh bakteri maupun virus. Gejala dapat berupa nyeri perut ringan dengan feses cair yang tertahankan, hingga sakit perut berat yang disertai demam, muntah, dan buang air besar berdarah.

Diare yang disebabkan oleh ameba, seperti Giardia intestinalis atau Entamoeba histolytica pada umumnya memiliki onset (awal gejala timbul) yang lebih bertahap dan gejala lebih ringan, dengan feses cair yang dapat terjadi 2-5 kali per hari.

Periode inkubasi antara paparan kuman dengan gejala yang timbul dapat memberi petunjuk akan penyebab traveler’s diarrhea, yakni sebagai berikut ini.

  • Bakteri dapat menyebabkan gejala beberapa jam setelah terpapar.
  • Bakteri dan virus memiliki periode inkubasi antara 6-72 jam.
  • Amoeba pada umumnya memiliki periode inkubasi 1-2 minggu, dan jarang sekali memunculkan gejala pada hari-hari pertama saat melancong. Kecuali Cyclospora cayetanensis, yang bisa dengan cepat menimbulkan gejala pada tempat-tempat dengan sanitasi yang tidak baik.

Diare akibat bakteri biasanya bertahan selama 3-7 hari, sedangkan diare akibat virus biasanya bertahan sekitar 2-3 hari. Diare akibat ameba dapat bertahan selama beberapa minggu, bahkan hingga bulanan jika tidak diobati.

2 dari 3 halaman

Cara Mengurangi Gejala Traveler’s Diarrhea Saat Sedang Bepergian?

Gejala traveler’s diarrhea bisa dikurangi dengan mengetahui beberapa tips yang mesti dilakukan, bahkan sebelum perjalanan dimulai. Ikuti langkah-langkah berikut ini.

  • Ikuti petunjuk konsumsi pada label makanan dan minuman lokal.
  • Bawa selalu hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk digunakan bila tidak ada tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setiap akan makan, setelah menggunakan toilet, setelah memegang hewan, atau usai memegang benda yang banyak disentuh orang lain.
  • Selektif saat ingin makanan yang dibeli di pinggir jalan (street food).
  • Hindari mengonsumsi susu dan aneka produk olahannya yang tidak mengalami proses pasteurisasi, termasuk es krim.

Artikel lainnya: Apakah Diare Bisa Menular? Ini Fakta Medisnya

  • Kurangi konsumsi makanan yang disimpan pada suhu ruangan, misalnya saus dalam wadah besar yang bisa diambil oleh siapa pun.
  • Konsumsi makanan yang dimasak sampai matang dan disajikan saat masih panas.
  • Pilih buah atau sayur yang bisa dikupas, seperti pisang, jeruk, alpukat, mangga, dan sebagainya.
  • Hindari salad dan buah yang tidak dikupas seperti buah berry atau anggur.
  • Kandungan alkohol dalam minuman tidak akan menyelamatkan Anda dari air maupun es batu yang terkontaminasi kuman.
  • Ketika mengunjungi wilayah dengan risiko tinggi akan sanitasi yang buruk, ingatlah tips berikut ini.
  • Hindari air yang tidak steril, seperti dari keran, sumur, maupun sungai. Jika mendesak, rebus air hingga mendidih.
  • Hindari es batu lokal atau jus buah yang sudah tercampur dengan air keran.
  • Jangan berenang di perairan yang tampak kotor, yang mungkin mengandung banyak kuman.
  • Waspadai buah potongan yang sudah dicuci menggunakan air keran.
  • Tetap tutup mulut saat mandi di bawah pancuran air.
  • Lap minuman kaleng, botol, atau minuman di gelas sebelum menempelkan bibir.
  • Gunakan air kemasan untuk berkumur saat menyikat gigi.
  • Pakai air mendidih untuk mencampur susu formula bayi.
  • Pesan minuman panas seperti kopi atau teh dan pastikan saat menerimanya minuman tersebut masih dalam keadaan panas.
  • Jika tidak memungkinkan untuk membeli air kemasan maupun merebus air, bawa pompa penyaring air untuk filter mikrostainer yang dapat menyaring mikroorganisme.

Selain tips di atas, Anda juga dapat melakukan disinfeksi air menggunakan tablet iodin maupun kristal klorin yang bisa didapat di farmasi. Meski iodin cenderung lebih efektif, biasa digunakan untuk durasi bepergian yang tidak begitu lama. Pasalnya, terlalu banyak iodin dalam tubuh akan merugikan. Gunakan petunjuk yang ada pada kemasan.

Dengan adanya ancaman traveler’s diarrhea, penting untuk mengetahui gejala sekaligus tips untuk mencegah dan mengatasinya. Lakukan berbagai persiapan dengan matang dan selalu terapkan perilaku bersih dan sehat ke mana pun Anda pergi, apalagi area dengan tingkat sanitasi yang rendah.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar